Peluncuran Kampanye Hands Off Venezuela – Indonesia Diberitakan di Seluruh Amerika Latin

Oleh Ted Sprague

Acara peluncuran kampanye Hands Off Venezuela di Indonesia pada tanggal 28 Maret lalu bukan hanya menjadi berita di antara aktivis-aktivis lokal dan global, ia juga diberitakan secara publik di seluruh Amerika Latin oleh stasiun Televisi Pan-Amerika Latin, Telesur [1]. Stasiun Telesur merupakan media alternatif Amerika Latin untuk melawan media imperialis seperti CNN. Diprakarsai oleh inisiatif dari Presiden Chavez, stasiun TV ini merupakan kerja sama antara 7 negara (Venezuela, Kuba, Argentina, Bolivia, Ekuador, Nikaragua, dan Uruguay) dan ditayangkan di lebih dari 15 negara. Tidak diragukan bahwa puluhan juta rakyat Amerika Latin menyambut berita peluncuran HOV-Indonesia dengan sorak gembira.

Pemberitaan kampanye HOV-Indonesia di seluruh Amerika Latin adalah sebuah pencapaian yang besar bagi aktivis-aktivis HOV. Puluhan juta rakyat Amerika Latin sekarang tahu bahwa ada sebuah gerakan solidaritas di Indonesia . “Kita tidak sendiri!”, begitulah sorak mereka. Gerakan revolusioner di Amerika Latin sudah menjadi inspirasi bagi rakyat tertindas di Indonesia, dan sekarang gerakan rakyat di Indonesia akan menjadi inspirasi juga bagi perjuangan di Amerika Latin.

Kapitalisme, sebagai sebuah sistem sosial-ekonomi yang global, harus dilawan dengan sebuah gerakan sosial yang global. Tidak ada lagi ruang untuk perjuangan yang hanya bersifat nasional, atau perjuangan yang hanya bersifat kedaerahan. Ini bukan berarti kita akan mengabaikan perjuangan di dalam negeri kita masing-masing, tetapi kita justru akan membawa perjuangan lokal kita ke level yang lebih tinggi dengan mengkaitkannya dengan prinsip internasionalisme. Dan prinsip internasionalime ini jangan hanya bersifat abstrak, ia harus dikonkritkan dengan pembentukan organ perjuangan yang bersifat internasional dimana aktivis-aktivis dari seluruh dunia dapat secara konkrit mengorganisir sebuah perlawanan.

Disinilah kampanye Hands Off Venezuela dapat memainkan peran yang penting dalam mengkonkritkan prinsip internasionalisme. Kampanye HOV di Indonesia bisa menjadi wadah untuk menghubungkan dan menyatukan organisasi-organisasi perjuangan di Indonesia (seperti PRP, KPRM-PRD, IGJ, SMI, dll) dengan organ-organ di Venezuela seperti FRETECO (Front Buruh Revolusioner Okupasi Pabrik), PSUV (Partido Socialista de Venezuela, Partai Persatuan Sosialis Venezuela), FNCEZ (Front Petani Nasional Ezequiel Zamora), dll; juga dengan organ-organ perjuangan di Brazil, Argentina, Ekuador, dll. Sosialisme abad ke-21 akan menjadi sosialisme yang mendunia.

Terus Maju Kawan!

___________________________________

[1] Campaña ”Manos Fuera de Venezuela” llega hasta Indonesia , http://www.aporrea.org/venezuelaexterior/n111844.html

Pemberdayaan Rakyat di Bawah Pemerintahan Anti-Imperialisme Neoliberal; Sebuah Pengantar Bagi Film Dokumenter ‘No Volveran’

Oleh Data Brainanta

Film dokumenter “No Volveran” akan membawa kita menelusuri gang-gang di perkampungan (barrios) untuk menyaksikan perubahan positif dan kemajuan yang dirasakan oleh rakyat miskin dalam masa pemerintahan Chavez. Toko-toko kelontongan didirikan untuk memenuhi kebutuhan dasar rakyat. Barang-barangnya dibeli oleh pemerintah dari pengusaha domestik untuk dijual dengan harga diskon. Pemerintah juga memasok dana dan tenaga ahli yang bersama-sama dengan rakyat melakukan renovasi di wilayah perkampungan. Layanan kesehatan dan program pendidikan gratis digalakkan oleh pemerintah dengan membangun klinik-klinik kesehatan dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar di dalam perkampungan.Program-program kesejahteraan dan misi-misi anti-kemiskinan semacam ini dilaksanakan secara lebih intensif dan mendalam setelah pemerintahan Chavez menguasai sepenuhnya perusahaan minyak negara, PDVSA, pada akhir 2002 – yakni ketika percobaan kudeta dan sabotase ekonomi oleh oposisi berhasil digagalkan. (Wilpert, 2003a; Raby, 2006 )

Sebelum ini, Chavez menghadapi perlawanan dari oposisi dalam pemerintahan saat akan mengeluarkan kebijakan kerakyatan. Pada tahun 1999 dijalankan misi anti-kemiskinan ‘Plan Bolivar 2000′ yang merupakan kerjasama sipil dan militer dalam memperbaiki kondisi rakyat miskin. Angkatan Darat dan rakyat bekerjasama memperbaiki dan membangun rumah-rumah; angkatan laut membantu nelayan memperbaiki kapalnya; dan angkatan udara menyediakan transportasi gratis ke penjuru negeri bagi yang memerlukan. (Wilpert, 2003b)

Chavez pertama kali memenangkan kursi kepresidenan dalam pemilu 1998 di saat

Venezuela berada dalam krisis ekonomi dan politik berkepanjangan. Dua presiden sebelumnya berjanji untuk mengeluarkan rakyat dari krisis dengan mengambil kebijakan anti-neoliberal; namun ketika berkuasa mereka berbalik arah menjalankan kebijakan neoliberalisme.

Akibatnya rakyat tidak percaya lagi dengan seluruh elit politik yang berkuasa. Kekecewaan rakyat ini sempat meledak jadi kerusuhan yang dikenal sebagai Caracazo pada tahun 1989. Antara ratusan hingga ribuan orang dinyatakan tewas direpresi oleh aparat negara.

Chavez tampil sebagai pendatang baru dalam perpolitikan, namun rakyat telah menaruh simpati padanya sejak upaya kudeta gagalnya pada 1992. Menurut Chavez, ia beserta pengikutnya terdorong melakukan kudeta karena tidak sudi lagi disuruh menembak rakyat sendiri, sebagaimana yang terjadi saat kerusuhan Caracazo (Harnecker, 2005).

Menyadari bahwa perjuangan bersenjata tidak akan membawa hasil, Chavez mengambil jalan elektoral dan membangun koalisi lebar bernama “Kutub Patriotik” – Polo Patriotico – dengan pihak-pihak yang terpinggirkan secara politik.

Janji-janji utamanya saat kampanye adalah (1) memutuskan hubungan dengan sistem politik lama yang dikenal dengan sebutan “puntofijismo”; (2) memberantas korupsi; dan (3) menuntaskan kemiskinan di Venezuela (Wilpert, 2003b). Di samping itu ia juga berjanji akan memanfaatkan kekayaan minyak untuk menuntaskan permasalahan sosial, menaikkan upah dua kali lipat, dan menolak pembayaran hutang luar negeri (Sylvia, 2003) – untuk yang terakhir ini ia melunakkan posisinya. Program-program ini disajikan dengan sentimen anti-kolonial dan kedaulatan nasional ketika rakyat Venezuela dihadapakan pada kenyataan bahwa krisis yang ada disebabkan oleh dikte kekuatan ekonomi asing, padahal negeri mereka kaya akan minyak dan mineral.

Pemutusan hubungan dengan rejim puntofijismo merupakan aspirasi luas rakyat Venezuela yang sudah muak dengan pemerintahan yang didominasi oleh dua partai besar (AD dan Copei) yang korup dan telah berkuasa selama setidaknya tiga dekade. Kedekatan dengan dua partai ini dipandang oleh mata rakyat sebagai suatu aib – barangkali seperti halnya kedekatan dengan Golkar atau Suharto di masa puncak reformasi.

Ketika Chavez menjabat sebagai presiden, langkah politik awal yang ia jalankan adalah melaksanakan penulisan konstitusi baru untuk merombak total rejim lama. Perlu dicatat bahwa perubahan atau penulisan ulang konstitusi bukanlah hal baru di Venezuela. Dari tahun 1811 hingga 1961 Venezuela telah memiliki 26 konstitusi – jumlah ini terbesar di Amerika Latin. Konstitusi 1961 sendiri digantikan pada 1999 dan pernah beberapa kali direformasi pada tahun 80an dan 90an (Wilpert 2003c).

Di bidang ekonomi, Chavez berhasil mengembalikan kedaulatan nasional, terutama melalui penguasaan komoditas minyak. Langkah awal Chavez setelah menjabat adalah melobi negeri-negeri anggota OPEC untuk menuruti jatah produksi dan mengontrol harga minyak di kisaran $22 dan $28 perbarel. Sebelum Chavez berkuasa, Venezuela terkenal sebagai anggota OPEC yang ‘nakal’ karena seringkali melanggar jatah produksi.

Kebijakan ini segera mengembalikan harga minyak dunia mencapai $27 per barel untuk pertama kalinya sejak 1985. Walauapun langkah ini memulihkan pendapatan negara, Chavez diprotes oleh pimpinan PDVSA yang telah terbiasa memproduksi minyak sebanyak mungkin melebihi jatah kuota OPEC dan beroperasi layaknya perusahaan multinasional. (Wilpert, 2003a)

Kebijakan migas Chavez lainnya adalah mengembangkan industri perminyakan sehingga Venezuela akan lebih banyak mengekspor produksi hasil olahan minyak daripada sekedar minyak mentah (crude oil). Industrialisasi nasional di bidang migas ini diharapkan akan memicu berkembangnya industri-industri di sektor lain.

Dengan sumber daya berada di bawah kendali negara, Venezuela bukan saja mampu menjalankan program-program kesejahteraan, tapi juga membantu negeri-negeri Amerika Latin lainnya. Program PetroCaribe misalnya bertujuan menyediakan minyak dengan kredit terjangkau kepada negeri-negeri Karibia yang tak menghasilkan minyak.

Perkembangan ini tentunya menjadi ancaman bagi legitimasi status quo imperialisme AS. Para pendukung imperialisme yang menguasai media raksasa internasional tidak henti-hentinya mendiskreditkan pemerintahan Chavez, menuduhnya sebagai suatu kediktatoran yang menindas kebebasan berpendapat. Sabotase ekonomi seperti penimbunan bahan pangan dilakukan oleh kaum pro-imperialis dalam negeri. Sementara administrasi Bush terus melancarkan dan mendanai aksi-aksi subversif untuk menjatuhkan Chavez dan mengisolasi Venezuela.

Dalam ‘No Volveran’ kita dapat menyaksikan bagaimana rakyat Venezuela siap dan rela berkorban untuk mempertahankan proses yang berlangsung. Stasiun televisi dan radio komunitas didirikan rakyat sebagai tandingan media raksasa yang dikuasai kaum Oposisi pro-AS.

Dalam satu bagian dokumenter, kita dibawa menemui para buruh pabrik keramik Sanitarios Maracay yang mengambil alih pabriknya setelah ditinggal lari oleh pengusahanya. Karena ini mereka mengalami berbagai permasalahan seperti kekurangan tenaga ahli, kalah berkompetisi dengan perusahaan lain maupun sabotase yang dilakukan oleh pengusaha. Kini mereka berjuang agar pemerintah menasionalisasi pabrik tersebut. Bagian ini menarik karena kita dapat mendengar langsung permasalahan yang dihadapi oleh buruh saat mengambil alih pabrik yang ditinggalkan.

Proses deindustrialisasi merupakan fenomena yang tak asing di Indonesia. Produk-produk murah dari Cina dan ketersediaan buruh murah di Vietnam memicu penutupan pabrik-pabrik tekstil baik karena bangkrut maupun pindah. Di wilayah industri di Indonesia pun terjadi peristiwa di mana buruh yang ditinggal lari pengusahanya mengambil alih pabrik dan coba mengoperasikannya sendiri. Namun, karena permasalahan yang kurang lebih serupa dengan kasus Sanitarios Maracay, langkah tersebut tidak dapat bertahan lama dan kadang berakhir dengan pencurian barang-barang dan mesin.

Yang menarik di Venezuela adalah buruh-buruh tersebut mampu bertahan dan bahkan mendapat dukungan pemerintah. Pemerintahan Chavez bahkan menasionalisasi – walau hanya setengahnya – beberapa pabrik yang ditinggalkan oleh pengusaha seperti Invepal dan Inveval. Meskipun masih terbatas, ini merupakan upaya industrialisasi nasional yang bertujuan membalikkan proses deindustrialisasi yang mengakibatkan pengangguran.

Sejalan dengan ini, konon pemerintahan Chavez berencana untuk membangun industri dan pabrik-pabrik baru yang dikelola secara kolektif dan tergabung dengan masyarakat sekitarnya dalam struktur teritorial dewan komunal. (Carlson 2007) Sejauh mana proses ini telah berjalan masih menjadi pertanyaan.

“No Volveran” merupakan suatu perayaan tentang sosialisme sebagaimana yang sedang dibangun oleh pemerintahan revolusioner Chavez. Walau demikian baru pada 30 Januari 2005, dalam pidatonya di depan Forum Sosial Dunia ke 5, Presiden Chavez mengumumkan bahwa sosialisme abad 21 sedang dibangun diVenezuela. Sebelumnya, dan hingga kini, Chavez menggerakkan rakyat Venezuela dengan mengangkat ideologi Bolivarian, yakni nasionalisme dan anti-penjajahan asing yang diilhami oleh pahlawan anti-kolonial Amerika Latin, Simon Bolivar. Karena sisa sentimen anti-komunis warisan perang dingin, istilah sosialisme masih terdengar sangar di beberapa kalangan masyarakat di Amerika Latin.

Dokumenter ini merupakan satu amunisi dalam ‘pertempuran ide’ melawan paradigma imperialisme neoliberal yang telah terbukti menyengsarakan rakyat. Venezuela-Chavez memberikan harapan dan inspirasi tentang apa yang dapat dicapai oleh pemerintahan yang berdaulat dan pro-rakyat. Ia juga memberikan contoh bahwa perjuangan untuk kepentingan rakyat dapat dilakukan lewat kebijakan-kebijakan pemerintah (dari atas) yang sinergis dengan pengorganisiran rakyat (dari bawah).

Di Brazil, contohnya, gerakan Tani Tanpa Lahan (Landless Peasant Movement – MST) bergerak dalam kerangka konstitusional dan mendapat dukungan yang berarti dari pemerintahan Lula. Pertumbuhan organisasi mereka mengalami percepatan dan penguatan di bawah pemerintahan yang lebih akomodatif dibandingkan dengan masa kediktatoran militer yang represif.

Dalam kasus Venezuela, kondisi rakyat miskin jauh lebih membaik setelah Chavez menjabat presiden. Kenaikan Chavez pada 1998 merupakan manifestasi dari kehendak luas rakyat Venezuela – kecuali unsur-unsur pendukung rejim puntofijismo – untuk suatu pembaharuan politik dan jalan keluar dari krisis berkepanjangan. Wilpert (2005) bahkan mencatat bahwa Chavez pada pemilu 1998 dan 2000 pada dasarnya dimenangkan oleh suara kelas menengah yang juga menjadi korban krisis neoliberal.

Yang menjadi pertanyaan penting adalah bagaimana kita dapat menghadirkan pemerintahan semacam itu di Indonesia? Jawaban ini tidak dapat sekedar mencontoh Venezuela namun membutuhkan suatu diskusi mendalam tentang situasi obyektif di Indonesia. Sebagai penutup, perkenankan saya mengutip komentar Chavez kepada Fidel Castro yang menyatakan bahwa ia “mengagumi revolusi Kuba, tapi Venezuela harus mencari jalannya sendiri.”

Catatan Akhir :

Carlson C, “What is Venezuela’s Constitutional Reform Really About? | http://www.venezuelanalysis.com/analysis/2890. (2007) Artikel ini telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan dapat dibaca di website SERIAL.

Harnecker M and Chavez H, Understanding the Venezuelan Revolution: Hugo Chavez Talks to Marta Harnecker (Fordham University Press, 2005). Buku ini telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia.Raby D L, Democracy and Revolution: Latin America and Socialism Today (Pluto Press, 2006).

Sylvia R D and Danopoulos C P, “The Chavez Phenomenon: Political Change in Venezuela,” Third World Quarterly 24, no. 1 (February 2003): 63-76.

Wilpert G, “The Economics, Culture, and Politics of Oil in Venezuela | http://www.venezuelanalysis.com/analysis/74 (2003a)

Wilpert G, “Venezuela’s Mission to Fight Poverty | http://www.venezuelanalysis.com/analysis/213. (2003b)

Wilpert G. “Venezuela’s New Constitution | http://www.venezuelanalysis.com/analysis/70. (2003c)

Wilpert G, “Venezuela: Participatory Democracy or Government as Usual? | http://www.venezuelanalysis.com/analysis/1192. (2005)

_________________________________________

Data Brainanta adalah penerjemah teks “No Volveran”; salah satu penerjemah teks “The Revolution Will Not Be Televised“, dan aktivis Partai Persatuan Pembebasan Nasional (PAPERNAS)

PELUNCURAN HOV INDONESIA DISAMBUT ANTUSIAS

Jakarta, 28 Maret 2008.

Peluncuran HOV Indonesia disambut sangat antusias oleh beberapa elemen pro perubahan di Indonesia. Dihadiri sekitar 70 orang, HOV Indonesia diluncurkan di Gedung LBH Jakarta, hari Jumat 28 Maret 2008. Beberapa yang ikut hadir, selain delegasi-delegasi dari organ-organ yang terlibat dalam kepanitiaan nasional HOV – Indonesia seperti Rumah Kiri, Resist Book Yogyakarta, PRP, SMI, IGJ, SERIAL, KPRM – PRD, LMND – PRM, KSM UNAS, juga dihadiri oleh delegasi-delegasi dari Kelompok Miskin Kota, elemen-elemen yang peduli pada perubahan di Indonesia, dan individu-individu yang tertarik dengan proses revolusi di Venezuela.

Peluncuran diawali oleh pemutaran film No Volveran, sebuah film dokumenter tentang perjuangan rakyat Venezuela dalam meruntuhkan rezim otoriter kapitalistik. Dilanjutkan diskusi bersama tentang Venezuela. Zely Ariane, juru bicara HOV – Indonesia, berbicara tentang ekonomi baru dan demokrasi baru dengan belajar dari proses revolusi dan program-program sosialis di Venezuela. Sadikin Gani dari Rumah Kiri, yang juga menjadi narasumber pada diskusi peluncuran HOV – Indonesia, menekankan pentingnya gerakan internasional dalam upaya untuk menghancurkan kapitalisme. Menurutnya, gerakan seperti ini akan berhasil jika dilakukan oleh banyak negara.

Dari hasil diskusi pada peluncuran HOV – Indonesia ini telah memberi penegasan bahwa perjuangan rakyat Venezuela dan sikap politik Presiden Chavez merupakan inspirasi yang tepat guna membangun kepemimpinan revolusioner, kekuatan garda depan revolusi, dan membangkitkan kesadaran kelas yang massif di Indonesia. Diskusi ini juga merupakan manifestasi keberhasilan perjuangan kaum miskin yang tidak memiliki akses pada kekuasaan. Perjuangan rakyat Venezuela dalam usahanya untuk mengorganisir diri, membangun komunitas-komunitas, pengambilalihan pabrik-pabrik oleh kaum pekerja, dan lain-lain, yang terdokumentasi dalam film No Volveran bisa menjadi inspirasi bagi perjuangan dan perubahan di Indonesia. Kontekstualisasi perjuangan rakyat Venezuela menjadi hal yang sangat mendasar. Dan penyelenggaraan pendidikan politik untuk membangun kesadaran basis massa rakyat di Indonesia dengan belajar dari kasus Venezuela menjadi sebuah alternatif yang sangat memungkinkan. Hal ini memerlukan kerja-kerja yang kontinyu, dan Hands Off Venezuela – Indonesia akan mempelopori kerja-kerja revolusioner ini.

Diskusi diakhiri dengan beberapa pernyataan yang mewakili elemen-elemen yang hadir untuk mendukung kampanye Revolusi Venezuela. Beberapa elemen sudah mempersiapkan diri untuk membuat serial diskusi di basis masing-masing, beberapa lagi akan terus memantau website HOV – Indonesia dan akan berkontribusi lewat tulisan. Selain itu, mereka merencanakan akan bertemu kembali untuk membuat rencana tindak lanjut terutama dalam rangka membangun jaringan yang bisa mendukung kampanye tentang Venezuela sebagai inspirasi bagi gerakan revolusioner di Indonesia.(JSA)

Keputusan Pengadilan London Memenangkan Venezuela dalam Perseteruannya Dengan Exxon

By James Suggett – Venezuelanalysis.com

18 Maret 2008

Mérida, March 18, 2008 (venezuelanalysis.com)- Hakim Inggris Paul Walker mengumumkan dalam ruang pengadilan di London hari ini bahwa pembekuan aset perusahaan minyak negara Venezuela, PDVSA, sejumlah $12 milyar harus dicabut. Keputusan ini adalah kekalahan telak bagi perusahaan minyak terbesar di dunia, ExxonMobil, yang pada 7 Februari secara sementara membekukan asetnya dalam perseteruannya dengan PDVSA mengenai nasionalisasi saham Exxon dalam proyek Sabuk Sungai Orinoco Venezuela yang dikenal sebagai Cerro Negro.

“Kami dapat katakan bahwa kami telah memenangkan satu lagi pertempuran, satu lagi kemenangan bagi rakyat kami, bagi pemerintah kami, dan yang paling penting adalah satu lagi kemenangan bagi negeri kami,” seperti dinyatakan oleh Menteri Minyak dan Petroleum Rafael Ramirez berhubung keputusan itu.

Duta Besar Venezuela di London, Samuel Moncada, menyebut keputusan itu sebagai “awal dari keakhiran pelecehan ExxonMobil terhadap Venezuela.” Moncada juga mengatakan bahwa negerinya “gembira” bahwa pengadilan Inggris “menolak dijadikan alat Exxon dalam memaksakan dirinya di ajang internasional melawan Venezuela.”

“Yang terpenting bagi negeri kami adalah kampanye, serangan berupa kebohongan dan kekacauan [yang mana] mereka coba tanamkan kecemasan di negeri kami dan mereka coba katakan bahwa industri nasional kami rusak, itu semua digugurkan, karena itu semua bohong… itu adalah bagian dari, sekali lagi, manipulasi yang mereka ciptakan terhadap rakyat kami,” kata Ramirez dalam wawancara dengan stasiun televisi pemerintah Venezuela, VTV.

Pengacara Exxon Catherine Otton-Goulder, menolak mengomentari keputusan tersebut.

Hakim Walker, yang menunda keputusan dua kali sejak kasus yang berlangsung selama seminggu ini dimulai pada 28 Februari, akan memberikan penjelasan penuh tentang keputusannya dalam hari-hari berikut.

PDVSA berargumen bahwa pengadilan London tak memiliki yurisdiksi hukum terhadap aset perusahaan asing nasional yang tidak beroperasi di Inggris Raya. Exxon berargumen sebaliknya dan pada bulan Februari telah memenangkan keputusan pengadilan di New York yang membekukan aset PDVSA sebesar $315 juta.

Sebagai hasil keputusan ini, Exxon diharuskan membayar biaya pengadilan PDVSA, yang menurutnya mencapai $766.000. Dan juga, PDVSA akan menuntut kompensasi terhadap kerugian lainnya, seperti devaluasi surat-surat hutangnya (bonds), peningkatan biaya pinjaman, dan ketakmampuannya berinvestasi dalam kilang-kilang pada masa pembekuan, demikian menurut pengacara PDVSA George Pollack.

Sementara, PDVSA akan mendapatkan kembali kendali penuh atas aset-asetnya di Inggris Raya, tapi pembekuan asset yang dilakukan Exxon di Antilles Belanda, Belanda, dan New York untuk sementara tidak berubah.

“Saya pikir semua rakyat Venezuela dapat berbangga,” kata Ramirez, menjanjikan bahwa pemerintahnya akan terus membela “prinsip dan kedaulatan” bangsa dari agresi asing.

Ia juga menjamin bahwa PDVSA akan berupaya segala cara untuk membersihkan citra Venezuela di awal aksi-aksi Exxon. Ramirez menyebut upaya-upaya Exxon sebagai “terorisme yudisial” pada bulan Februari karena dilancarkan di luar proses arbitrase yang sedang berjalan di Pusat Internasional untuk Penyelesaian Perseteruan Investasi (ICSID) dan bermaksud menghancurkan reputasi dan kredibilitas PDVSA walaupun Exxon ditawarkan kompensasi (indemnity).

“Kami telah mengalahkan ExxonMobil,” ujar Ramirez dengan gembira, sambil menambahkan bahwa “keputusannya 100% menguntungkan Venezuela, tuduhan-tuduhan Exxon digugurkan,” tapi, katanya, ia akan menunggu hingga hakim menjelaskan sepenuhnya keputusannya sebelum memberikan komentar lebih jauh, demikian reportase berita ABN.

Kini, ExxonMobil dan PDVSA akan kembali pada proses arbitrase ICSID yang telah ditinggalkan, jelas Ramirez.

Menyusul nasionalisasi cadangan minyak Sabuk Sungai Orinoco pada bulan Mei 2007, pemerintah Venezuela mengharuskan negara memegang setidaknya 60% saham dalam proyek perminyakan. Negara menasionalisasi saham beberapa perusahaan, termasuk perusahaan Italia ENI, yang mana dicapai kesepakatan kompensasi $700 juta pada bulan lalu.

Exxon, namun demikian, menolak tawaran kompensasi Venezuela sebesar $750 juta untuk 41,6% saham dalam proyek “Cerro Negro”. Tawaran didasarkan pada nilai saham Exxon menurut catatan PDVSA di saat nasionalisasi, demikian klaim PDVSA, tapi Exxon menghendaki proyeksi profit dari proyek itu dan menuntut arbitrase.

Kompensasi maksimum yang diupayakan Exxon dalam negosiasinya adalah $5 milyar sebelum melancarkan pembekuan aset sebesar $12 milyar, demikian menurut pengumuman Ramirez kepada Majelis Nasional Venezuela bulan Februari. Perbedaan dalam klaim kompensasi menciptakan tuduhan bahwa upaya Exxon merupakan bagian dari “perang ekonomi” melawan Venezuela.

Sejak nasionalisasi, partisipasi negara dalam Sabuk Sungai Orinoco meningkat dari 39% menjadi 78%, dan Venezuela tetap menjadi penghasil minyak mentah terbesar di Amerika Latin, dengan hampir setengah minyaknya diekspor ke Amerika Serikat.

Tak ada tanda bahwa penghentian hubungan bisnis antara Venezuela dan ExxonMobil pada 12 Februari akan dirubah, walaupun PDVSA akan menghormati kontraknya pada kilang Chalmette yang dimilikinya bersama dengan Exxon.

PDVSA dan Mobil menjadi mitra bisnis pada 1997, sebelum Mobil diambil-alih oleh Exxon. Dalam periode 1990an, dikenal sebagai era “Pembukaan Petroleum”, nasionalisasi minyak Venezuela yang dilakukan pada 1976 secara perlahan melemah dan PDVSA diberikan otonomi, mentransformasi perusahaan tersebut menjadi apa yang oleh Ramirez dikatakan sebagai “Kuda Troyan” modal internasional.

Secara kontras, administrasi Presiden Hugo Chavez menggalakkan apa yang disebutnya sebagai “kedaulatan petroleum.” Selain menasionalisasi proyek-proyek produksi minyak yang dikuasai asing, kebijakan ini menyertakan penyaluran $30 milyar keuntungan minyak PDVSA ke Dana Pengembangan Nasional Venezuela (FONDEN) antara 2004 dan 2007. Dana ini antara lain diinvestasikan ke dalam proyek-proyek infrastruktur, perluasan sistem perawatan kesehatan Barrio Adentro, pembersihan lingkungan, dan pendidikan.

Berita PRP dari Inggris

Pertemuan Terbuka Lawan Intervensi Imperialisme di Amerika Latin[i]

Pada sore tanggal 15 Maret yang lalu, Perhimpunan Rakyat Pekerja (PRP) hadir dalam rapat terbuka yang membahas tentang kondisi Revolusi Amerika Latin di pusat kota London, setelah paginya dilangsungkan demonstrasi Anti Perang yang diikuti oleh puluhan ribu massa.

Pertemuan ini diorganisir oleh empat organisasi solidaritas internasional yakni Hands Off Venezuela (HOV), Colombia Solidarity Campaign, the Movement of Ecuadorians, dan The Bolivia Solidarity Campaign sebagai sebuah respon terhadap aksi militer yang baru saja dilancarkan oleh Pemerintah Colombia Presiden Uribe dengan sokongan Amerika terhadap kelompok pejuang FARC yang berbasis di Ecuador, dan terhadap berbagai bentuk ancaman terbaru imperialisme.

Sekitar 70 orang hadir dalam pertemuan tersebut menyimak para pembicara dari masing-masing organisasi. Mereka menjelaskan bagaimana saat ini perjuangan buruh dan petani di Amerika Latin harus berhadapan dengan ancaman dari kekuatan imperialis, terutama Amerika serikat dan kelompok elit yang mengontrol ekonomi dan mendominasi media massa di negara-negara tersebut.

Fidel perwakilan dari Movimiento Ecuador Reino Unido (Gerakan Rakyat Ecuador) menjelaskan tentang persoalan-persoalan yang dihadapi oleh gerakan rakyat Ecuador terkini. Ia juga mengemukakan berbagai langkah yang ditempuh oleh Presiden sayap kiri Rafael Correa (yang beraliansi dengan Chaves) untuk meraih kekuasaan, dan melawan semua oposisi dari partai-partai tradisional, kelompok oligarki, dan media massa.

Jorge Martin dari Hands Off Venezuela menjelaskan tentang ancaman-ancaman terbaru yang dilancarkan oleh imperialisme Amerika terhadap proses revolusi di Venezuela. Misalnya saja, upaya perusahaan minyak Amerika ExxonMobil untuk untuk membekukan asset-aset PDVSA (Perusahaan minyak nasional Venezuela) lewat jalur hukum, upaya Bush memasukkan Venezuela ke dalam daftar “negara-negara terroris”, dan sabotase-sabotase ekonomi yang dilakukan oleh kelompok oligarki yang terus berlangsung.

Menurut Jorge, pada kongres terbaru PSUV (Partai Persatuan Sosialis Venezuela), suara dari lapisan massa yang mendukung revolusi Bolivarian semakin kencang, meskipun para birokrat-birokrat berusaha untuk terus membungkamnya. Ia juga mengingatkan bahwa sekitar 100 keluarga oligarki saat ini memang telah kehilangan kekuasaan politiknya, namun mereka masih memiliki kekuasaan ekonomi. Bahaya lainnya adalah persoalan birokratisme internal, dan sayap kanan di dalam revolusi yang terus menghalang-halangi inisiatif revolusioner rakyat dan juga perintah dari presiden Chaves sendiri

Ia mencontohkan, dalam kasus penambangan batu bara diwilayah Zulia Venezuela, yang telah membawa dampak buruk pada mata pencaharian masyarakat setempat, birokrat-birokrat yang memiliki hubungan dengan perusahaan-perusahaan tambang multinasional tidak mau menutup penambangan tersebut meskipun Chaves sudah memerintahkannya.

Pembicara berikutnya, Andy Higginbottom dan Juan Gabriel dari Colombia Solidarity Campaign menjelaskan tentang pemerintahan Presiden Uribe Colombia yang dibina oleh Amerika sebagai kaki tangannya dalam menjalankan politik imperialisme di Amerika Latin. Kini, sayap kanan demikian takutnya terhadap perkembangan gerakan kiri di negara tersebut, sehingga mereka menggunakan cara-cara yang represif dan intimidatif. Sebagai contoh, para pengusaha memberika izin waktu kepada buruh-buruhnya untuk ikut berdemonstrasi anti kelompok pejuang sayap kiri FARC yang diorganisir oleh pemerintah bersama sayap kanan pada tanggl 4 Februari yang lalu. Selain itu pada tanggal 6 Maret, empat organiser demonstrasi anti paramiliter dan tindak kekerasan telah ditembak mati. Andy Higginbottom juga menambahkan bahwa praktek perdagangan obat bius di Kolombia memiliki kaitan erat dengan kepentingan kelas penguasa di negeri itu.

Amancay Colque dari Bolivia Solidarity Campaign juga berbicara tentang bagaimana isu tuntutan “otonomi” sedang marak di Santa Cruz dan propinsi lainnya, yang sengaja digunakan oleh kelompok sayap kanan untuk melemahkan pemerintahan President Evo Morales. Tujuan utama dari tuntutan ini tentunya adalah agar mereka dapat terus mengontrol ladang-ladang minyak dan gas di wilayah tersebut

Dalam diskusi juga ditegaskan bahwa perusaahaan-perusahaan multinasional yang mengeksploitasi negara-negara di Amerika latin tersebut berbasis di Amerika Serikat dan Eropa. Dengan demikian, yang dibutuh saat ini tidak saja sebatas solidaritas dari rakyat Eropa atau Amerika saja, namun sebuah perjuangan melawan sistem yang telah menciptakan kondisi ini. Perjuangan untuk menegakkan sosialisme tidak hanya di Amerika Latin, tapi juga di harus terjadi diseluruh belahan dunia.

________________________________________

[i] Dilaporkan oleh Diana Aziza Hubungan Internasional PRP dari Public meeting against imperialist intervention in Latin America dan diterjemahkan dari http://www.socialist.net/venezuelan-revolution-back-agenda-2.htm dengan beberapa pemotongan dan tambahan, untuk memudahkan pembaca Indonesia memahami konteks yang dibicarakan.

Hands Off Venezuela – Indonesia: The Solidarity

Written by Jesus S. Anam*

“Proletariat tidak dapat menggulingkan borjuasi tanpa terlebih dulu merebut kekuasaan politik.” (Lenin, Negara dan Revolusi)

Lukisan besar Revolusi Bolivarian saat ini sedang terpampang di koridor utama sebuah galeri revolusi. Lukisan itu telah memberi ketegasan makna di tengah garis yang kusut dan muram dari sejarah. Ini hasil pertapaan panjang kaum proletar dalam mencari kemurnian—mencari gambaran yang lebih menggembirakan tentang kehidupan manusia.

Revolusi Bolivarian tidak boleh ragu: semangat revolusioner, kebulatan tekad dan seluruh gelora tidak boleh lelah. Ongkos revolusi memang besar, tetapi bukankah setiap revolusi perlu pengorbanan?

Revolusi Bolivarian memang masih harus menemui banyak malam. Ia belum tuntas. Masih banyak persoalan yang belum selesai. Kekuatan kontra-revolusi terus berusaha menggagalkannya. Kampanye yang penuh kebohongan dan informasi yang keliru tentang Venezuela kerap kali menghiasi halaman-halaman berbagai media imperialis untuk santapan publik internasional. Mereka melukiskannya di kanvas kotor dengan bercak-bercak hitam yang menyakitkan. Mereka menciptakan perspektif yang terbalik dari kenyataan yang sesungguhnya. Memberikan bacaan yang salah tentang Venezuela: ada sebuah “rezim” otoriter disana!

Menanggapi hal itu, Alan Woods, editor In Defence of Marxism, mengeluarkan sebuah seruan untuk membela revolusi Bolivarian, untuk menentang intervensi Amerika di Venezuela dan untuk memastikan bahwa serikat buruh dan gerakan buruh di seluruh dunia dapat memperoleh informasi yang benar mengenai apa yang sebenarnya terjadi di Venezuela (baca HANDS OFF VENEZUELA! An appeal to the international Labour Movement )

Seruan ini dengan segera didukung oleh Jeremy Dear (sekretaris jendral British National Union of Journalists) dan sejumlah pemimpin-pemimpin penting serikat buruh di Inggris lainnya. Kampanye ini dengan cepat menyebar ke negara-negara lain di Eropa, Amerika Utara, Asia, dan Afrika (lihat signatures page). Sekarang, kampanye ini memiliki pendukung di lebih dari 30 negara di dunia.

Tanpa mengenal lelah, kami telah mengorganisir aktivitas-aktivitas solidaritas dengan revolusi Bolivarian melalui pertemuan-pertemuan publik, penayangan-penayangan film dokumenter, mengangkat isu ini di dalam gerakan serikat buruh di negara-negara lain, mengorganisir tur-tur untuk pembicara, mendorong resolusi-resolusi di parlemen, dan mengirim delegasi solidaritas ke Venezuela.

Aktivitas kampanye ini telah diakui oleh president Chavez sendiri (baca Chavez backs Hands Off Venezuela campaign) dan wakil-wakil dari Hands Off Venezuela tampil secara menyolok di Pertemuan Sedunia Untuk Solidaritas Dengan Revolusi kedua pada bulan April 2004.

Prinsip-prinsip dasar kampanye Hands Off Venezuela adalah:

  • Pertama, membangun solidaritas dengan Revolusi Bolivarian
  • Kedua, menentang intervensi imperialis di Venezuela
  • Ketiga, menjalin hubungan hubungan dengan gerakan revolusioner dan gerakan serikat buruh di Venezuela.

Hari ini, tanggal 2 Februari 2008, Hands Off Venezuela – Indonesia mengundang beberapa organ kiri revolusioner Indonesia untuk bersama-sama membahas dan terlibat dalam kampanye HOV sebagai usaha mengkonter kampanye anti-Chavez oleh media-media imperialis. Organ-organ kiri revolusioner yang sudah siap terlibat dalam kampanye adalah Rumah Kiri (Media Progresif Kaum Kiri), Perhimpunan Rakyat Pekerja, SERIAL, Resist Book, SMI, KPRM – PRD, Ultimus Bandung, dan beberapa organ kampus revolusioner.

Akhirnya, bagi organ-organ kiri revolusioner Indonesia, tidak ada alasan untuk menolak atau tidak terlibat dalam kampanye HOV mengengingat Venezuela dengan revolusi Bolivariannya adalah wahana belajar bagi kaum kiri dimanapun, termasuk di Indonesia. Kegagalan Revolusi Bolivarian bisa menjadi goresan hitam dan memberi warna yang suram bagi perjuangan revolusioner dimanapun, dan semakin memberi keleluasaan bagi kekuatan borjuis untuk menggencet gerak dari perjuangan rakyat.

Salam Pembebasan!

____________________

*Koordinator Hands Off Venezuela – Indonesia

Belajar dari Kasus RCTV di Venezuela

Written by Indro Suprobo*

Berita menarik yang pantas dicermati dari negeri Venezuela akhir-akhir ini adalah tidak diperpanjangnya ijin siaran Radio Caracas Television (RCTV) yang menuai gelombang protes. Yang lebih menarik lagi dari berita itu adalah bagaimana banyak media memberitakannya. Tidak diperpanjangnya ijin siaran RCTV diberitakan dengan judul-judul yang menarik pikiran, antara lain “Stasiun Televisi Oposisi Ditutup”, “Berakhirnya Pluralisme Media” dan sebagainya. Judul-judul dan isi pemberitaan yang beredar itu telah menciptakan suatu imaji tertentu tentang kebijakan pemerintahan Venezuela di bawah kepemimpinan Hugo Chaves. Beberapa imaji yang muncul berkaitan dengan berita ini antara lain adalah terjadinya pelanggaran hak asasi oleh pemerintah Venezuela, kebijakan Chaves adalah anti demokrasi, dan terjadinya pemberangusan kebebasan bersuara. Pertanyaan yang bisa diajukan di sini adalah apa yang sebenarnya terjadi?

Kebijakan Politik Radikal

Naiknya kepemimpinan Hugo Chaves di Venezuela didukung oleh 63% suara dalam pemilu. Kepemimpinan baru ini telah diikuti oleh lahirnya Konstitusi Bolivarian pada tahun 1999 yang menjadi dasar utama bagi seluruh kebijakan pemerintahan dalam banyak bidang. Pembaharuan-pembaharuan yang dijalankan di atas dasar konstitusi ini oleh karenanya lebih akrab disebut sebagai perubahan revolusioner bolivarian. Perubahan revolusioner bolivarian ini ditandai oleh visi kerakyatan yang diamanatkan oleh konstitusi 1999 yakni tegaknya kedaulatan politik dan ekonomi rakyat Venezuela yang anti imperialisme, demokrasi partisipatif yang membuka ruang luas bagi keterlibatan politis akar rumput, swadaya ekonomi, distribusi yang adil dari pendapatan pertambangan minyak Venezuela dan penghapusan tindakan korupsi.

Visi kerakyatan itu oleh pemerintahan Chaves diwujudkan dalam beragam program kesejahteraan sosial yang meliputi pengadaan transportasi gratis untuk rakyat yang sangat membutuhkan namun tak mampu membayar, penyediaan pelayanan kesehatan masyarakat yang berkualitas dan gratis, perlindungan hak-hak komunitas lokal yang selama ini terpinggirkan oleh kebudayaan dominan, pelayanan perumahan gratis bagi mereka yang miskin, upaya pengadaan kedaulatan pangan yang murah, berkualitas, organik dan bersifat lokal untuk membuka akses nutrisi bagi masyarakat yang tak mampu dan seabrek program lain yang memprioritaskan mayoritas rakyat miskin Venezuela yang selama ini selalu berada di pinggiran kebijakan. Sangat jelas di sini bagaimana kedaulatan dan kesejahteraan rakyat menjadi visi dasar seluruh kebijakan. Tentu saja kebijakan semacam ini sangat menggoncang kemapanan segelintir orang yang telah menuai banyak keuntungan sebelumnya.


Kebijakan tentang Media

Tak dapat disangkal bahwa kebijakan pemerintahan Chaves tentang media selalu harus mendasarkan diri pada Konstitusi Bolivarian tahun 1999. Konstitusi ini mendorong persyaratan yang sangat tegas berkaitan dengan penyelenggaraan lembaga media, terutama oleh lembaga-lembaga swasta. Undang-undang tentang Pertanggungjawaban Media yang berlaku di Venezuela, biasa disebut Ley Resorte, sangat tegas dalam menuntut tanggung jawab sosial dari para penyelenggara media radio dan televisi, dan berorientasi kepada komitmen yang sangat kuat terhadap dua hal mendasar yakni “hak-hak anak” dan “meningkatnya jumlah program siaran yang diproduksi sendiri secara nasional maupun lokal”. Kebijakan dalam hal media ini sangat jelas terkait dengan apa yang disebut sebagai kedaulatan rakyat dalam pelayanan dan produksi media siaran.

Dalam konteks kebijakan inilah ijin siaran RCTV tidak diperpanjang oleh pemerintah. RCTV merupakan stasiun televisi milik swasta yang pada bulan April 2002 terlibat aktif dalam kampanye kudeta terhadap pemerintahan Chaves dan turut memblokir siaran Venezolana de Television, siaran televisi milik pemerintah yang merepresentasikan mayoritas penduduk miskin di Venezuela dengan program siaran unggulan berupa tanya jawab langsung dengan presiden tentang semua persoalan yang dihadapi secara real oleh masyarakat. Alasan yang diajukan oleh pihak pemerintah berkaitan dengan tidak diperpanjangnya ijin siaran RCTV ini adalah untuk mendemokratisasikan gelombang siaran, agar gelombang siaran itu menjadi milik lebih banyak orang yang merepresentasikan kepentingan mayoritas warga Venezuela daripada hanya menjadi milik segelintir juragan media yang melakukan oligopoly dengan dukungan internasional.

Lebih jauh, pemerintah memberikan penjelasan bahwa Channel 2 yang selama ini menjadi milik RCTV tidak ditutup, siaran di gelombang ini tetap akan diteruskan. Hanya ijin siaran yang dimiliki oleh sebuah perusahaan swasta inilah yang tidak diperpanjang, dan sebagai gantinya, ijin siaran itu akan diberikan kepada swasta lain yang lebih dapat mengemban visi konstitusi, atau kepada perusahaan gabungan swasta dan publik, atau kepada perkumpulan kaum pekerja itu sendiri. Pemerintah justru memberikan prioritas dan mendorong para pekerja RCTV untuk mengorganisir diri dalam suatu perkumpulan dan mendapatkan ijin untuk mengelola siaran secara mandiri. Persyaratan dasarnya, program-program siaran yang akan dijalankan mengacu secara tegas kepada komitmen mendasar terhadap dua hal yaitu “perlindungan terhadap hak-hak anak” (program siaran yang edukatif) dan “mendorong peningkatan produksi program siaran mandiri baik lokal maupun nasional”, bukan produk impor yang menyedot biaya mahal, menguntungkan segelintir orang, dan tidak memberi kontribusi ekonomis bagi rakyat Venezuela.

Kebebasan Bersuara

Langkah demokratisasi media yang dijalankan dalam tindakan tidak memperpanjang ijin siaran ini diarahkan untuk membuka ruang lebih luas bagi sebagian besar rakyat yang mengorganisir diri dalam banyak perkumpulan untuk mengekspresikan kepentingannya melalui media siaran. Salah satu hal penting yang dibangun oleh pemerintahan baru dalam kepemimpinan Hugo Chaves adalah dibukanya ruang-ruang pendidikan populer hak-hak rakyat berdasarkan Konstitusi Bolivarian agar mereka lebih mandiri dalam partisipasi aktif berpolitik, dalam memperjuangkan hak-haknya berhadapan dengan kekuatan-kekuatan yang abai terhadap kepentingan mereka, dalam mengajukan alterhatif-alternatif solutif real dan kontekstual berkaitan dengan problem sosial di wilayah masing-masing. Kekuatan politik rakyat semacam inilah yang pada saat terjadi kudeta di bulan April 2002, menjadi kekuatan populis utama yang mampu mengembalikan kepemimpinan dan pemerintahan Chaves. Mayoritas kaum miskin Venezuela yang selama ini tak pernah mendapatkan bagian dari kue keuntungan kekayaan negara ini menjadi subjek pertama yang dipertimbangkan oleh kebijakan sosialisme demokratis Venezuela. Merekalah harta utama bagi gerakan-gerakan pembaharuan populis negeri Venezuela. Apabila gelombang siaran yang selama ini dikuasai oleh sekelompok kecil pemilik saham perusahaan swasta itu ditawarkan kepada 63% rakyat pendukung Chaves yang senyatanya berasal dari beragam latar belakang, bukankah itu berarti membuka keran bagi mereka yang selama ini tak pernah mendapatkan saluran untuk bersuara, mengemukakan cara berpikir sesuai dengan konteksnya, memandang permasalahan sosial real yang dihadapi dari kacamata mereka sendiri, dan tidak didekte oleh sekelompok kecil juragan media pemegang hak gelombang siaran?

Dengan demikian, tidak diperpanjangnya ijin siaran RCTV barangkali dapat dibaca sebagai demokratisasi media, dibukanya lebih banyak kemungkinan bagi mereka yang selama ini kalah untuk bersuara, dan lebih dari itu, kedaulatan rakyat dalam pengelolaan media yang berkomitmen kepada siaran edukatif demi perlindungan hak-hak anak dan peningkatan jumlah program siaran yang mampu diproduksi sendiri secara lokal maupun nasional, mendapatkan lebih banyak jaminan. Bagi mayoritas rakyat miskin Venezuela, barangkali kebijakan ini dipahami sebagai sebuah kebijakan populis. Seandainya kita bertanya kepada Chaves sendiri tentang kebijakan ini, barangkali ia akan menjawab dengan mengutip sebuah ungkapan lama,”Di mana hartamu berada, di situlah hatimu”.***

______________________


*Resist Book

Enam Jam di Caracas

Written by Indro Suprobo*

Bagi orang yang biasa-biasa saja seperti saya, mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi Venezuela secara gratis, merupakan pengalaman luar biasa. Ini terjadi karena undangan seorang teman lama, Alejandro Pino d”Araujo, yang kebetulan mengajar filsafat di College of Social and Humanistic Sciences, Simon Bolivar University. Pada saat itu, Universitas Simon Bolivar menyelenggarakan Workshop National berjudul “Simon Bolivar : The Liberation Movement in Philosophycal and Political Perspective”. Yang menarik dalam seminar itu adalah hadirnya Hugo Chaves, sang presiden, sebagai salah satu narasumber karena dia adalah salah satu mantan mahasiswa yang pernah kuliah di universitas tersebut. Narasumber yang lain adalah Ambrosio Wegemento Segundo, salah seorang murid dari teolog besar penggagas A Theology of Liberation, Gustavo Gutierrez.

Dalam paper setebal 15 halaman yang berjudul Contra l’estigma (Melawan Stigmatisasi), Hugo Chaves menyatakan bahwa selama sekian lama rakyat Venezuela telah berada dalam berbagai macam bentuk penindasan dan penjarahan namun selalu saja mengalami halangan besar untuk melakukan pemberontakan karena sejak kecil, dalam keluarga-keluarga, telah ditanamkan alat sensor yang sangat ampuh yakni kesadaran stigmatis. Kesadaran stigmatis ini telah menumpulkan kesadaran kritis warga masyarakat dan pada gilirannya memupus segala kemungkinan untuk melakukan kritik, perubahan, apalagi pembebasan. Salah satu contoh stigmatisasi itu dialaminya sendiri ketika masih kecil. Keluarga besarnya secara turun temurun menuturkan bahwa kakeknya adalah seorang pembunuh. Setelah dewasa, dengan wawasan dan bacaan sejarah tentang gerakan-gerakan revolusioner di banyak tempat, Chaves menyadari bahwa sebenarnya kakeknya bukanlah seorang pembunuh, melaikan seorang pejuang yang emoh terhadap segala bentuk ketidakadilan di hadapan matanya. Kesadaran yang ditanamkan sejak kecil itu merupakan kesadaran stigmatis yang bertujuan agar orang-orang biasa yang setiap hari hidup dalam kesusahan, tidak menirukan tindakan protes maupun perlawanan seperti para pejuang pendahulu itu. Lebih dari itu, sosialisme sebagai sebuah model pemikiran dan gerakan telah diberi stigma sebagai satu-satunya keburukan pemikiran yang arogan dan terbukti telah bertekuk lutut di hadapan kegagalan besar. Sosialisme lalu dengan mudah telah dilipat-lipat dalam kesadaran hanya sebagai sebentuk komunisme, ateisme, kediktatoran dan represi yang justru menyengsarakan. Itulah stigma terhadap sosialisme.

Karena sebagian besar rakyat Venezuela adalah pemeluk agama katolik Roma, Chaves menggunakan teologi pembebasan Amerika Latin sebagai bahasa komunikasi yang ampuh. Prinsip-prinsip dasar sosialisme memang menjiwai pendekatan teologi pembebasan ini. Ia menyatakan bahwa Yesus dari Nazareth adalah orang yang dalam iman yang besar, melakukan pemberontakan secara individual, social, politis, cultural dan religius pada jamannya. Yesus adalah inspirasi bagi gerakan pembebasan dan revolusi. Yesus adalah tokoh revolusioner dan progresif yang melawan segala bentuk manipulasi, stigmatisasi, akumulasi keuntungan oleh segelintir orang yang menyengsarakan ribuan bahkan jutaan orang yang lainnya. Sebagaimana Yesus telah melakukan revolusi pada jamannya, maka pada saat ini, adalah tugas semua orang yang mengaku sebagai pengikut Yesus, untuk secara radikal melakukan gerakan revolusioner. Setan paling nyata dalam kehidupan dunia sekarang adalah kebijakan politik-ekonomi dan dominasi Amerika yang merampas hak dan menghancurkan kehidupan sebagaian besar warga dunia. Kemiskinan dalam semua dimensinya telah merenggut kehidupan rakyat Venezuela dan rakyat di sebagian besar belahan dunia ini. Kemiskinan adalah sebuah penghancuran terhadap kehidupan manusia dalam banyak sendi. Kemiskinan yang mematikan ini tidaklah sesuai dengan apa dipesankan oleh Yesus yakni hadirnya kerajaan kehidupan. Oleh karena itu, dalam semangat yang sama seperti Yesus, “Kita harus melawan segelintir orang yang terus menerus menghancurkan sebagian besar dunia ini. Sekarang juga harus kita lakukan!”, tegasnya dengan nada tinggi, sorot mata yang menatap tajam karena kesedihan dan komitmen, sambil mengepalkan tangan ke atas. Semua yang hadir tanpa dikomando serentak berdiri dan bertepuk tangan. Saya ikut berdiri di antara mereka yang hadir dengan hati yang luar biasa tergetar. Beberapa yang hadir bahkan meneteskan air mata entah karena kobaran semangat, kemarahan maupun keharuan.

Kampus Universitas Simon Bolivar yang terletak di lembah Sartenejas, dan termasuk daerah kotamadya Baruta, wilayah ibu kota Caracas bagian selatan itu terasa bergetar dalam kemegahan semangat, sesuai dengan nama yang dikenakan padanya, Simon Bolivar, El Libertador, sang pembebas bagi beberapa Negara Amerika Latin. Sesi seminar itu dilanjutkan dengan diskusi kelompok di luar ruangan aula.

Dalam diskusi kelompok, saya mendapatkan tempat diskusi yang cukup menarik, yakni di sebuah gazebo kecil di pinggiran Laguna de los patos, sebuah danau kecil buatan yang indah di dekat pintu gerbang masuk universitas. Danau buatan itu menjadi semakin menarik karena dipenuhi bebek putih yang berenang dan berlompatan di atas air. Laguna de los patos memang berarti “danau bebek”.

Hugo Chaves memang presiden yang tegas dalam prinsip namun sangat low profile. Dengan santainya dia meminta para pengawalnya untuk menikmati danau, sementara dia sendiri menyelonong nimbrung dalam diskusi kecil kami. Salah seorang anggota kelompok diskusi kami adalah seorang Marxis tulen bernama Milan Machovec. Ia adalah seorang profesor senior yang jauh-jauh datang dari Charles University, Praha. Salah satu buku terkenal yang pernah ditulisnya adalah Jesus Fur Atheisten yang diterbitkan oleh Kreuz Verlag Stuttgart, dan diterbitkan dalam bahasa Inggris oleh Darton, Longman & Todd, London dengan judul A Marxist Looks At Jesus.

“Saya sangat sepakat dengan apa yang tadi telah dinyatakan oleh mister Presiden, Hugo Chaves dalam forum. Yesus adalah manusia radikal dan progresif yang dapat menjadi inspirasi bagi gerakan perlawanan saat ini, bukan hanya bagi rakyat Venezuela, melainkan bagi sebagian besar warga dunia yang cenderung mengalami ketidakadilan. Kita semua musti terlibat penuh komitmen di dalamnya”, kata Machovec memulai pikirannya.

“Benar, dan terima kasih tuan Machovec. Anda adalah teman bagi kami, rakyat Venezuela, dan Anda pantas mendapatkan lebih banyak teman dari berbagai belahan dunia kita”, potong Hugo Chaves meneguhkan pernyataannya.

“Tetapi saya memiliki kritik terhadap kekristenan secara khusus berkaitan dengan bagaimana mereka memahami pesan Yesus”, kata Machovec lagi. Teman saya yang sangat katolik, Alejandro Pino d’Araujo tampak serius menantikan tuturan Machovec selanjutnya.

“Pesan Yesus yang asli sebenarnya terdiri dari dua elemen penting”, sambung Machovec. “Yang pertama, Yesus menyatakan bahwa suatu jaman baru sedang datang. Kedatangan jaman baru itu menjadi efektif karena usaha dan kerja keras manusia sendiri. Kedua, jaman baru itu bukan hanya merupakan jaman yang akan datang kelak, melainkan terwujud dalam situasi konkret kekinian hidup kita ini, pada saat sekarang ini dan di sini, serta bersifat imperatif bagi hidup manusia sehari-hari. Oleh karena itu, semua orang yang mengaku sebagai pengikut Yesus sang manusia revolusioner itu, musti mewujudkan daya pembaharuan dan progresivitas itu saat sekarang ini juga dalam konteks yang sangat real ini. Namun sayangnya, daripada mewujudkan daya kekuatan radikal dan progresif bagi penegakan keadilan jaman ini, melawan secara tegas semua yang melakukan perampasan, manipulasi dan peminggiran serta pemiskinan terhadap kemanusiaan, kristianitas telah cenderung membelokkan pesan itu kepada pencapaian kedamaian dan kebahagiaan pada akhir jaman. Dengan cara itu, kekristenan pada saat sekarang ini justru cenderung menawarkan opium atau candu bagi manusia yang lebih asyik dengan kebahagiaan batiniah pribadi tanpa memberi dampak nyata bagi situasi kemiskinan yang akut”.

Semua anggota kelompok tampak serius mencermati jalan pikiran sang profesor yang Marxis dan gandrung kepada Yesus itu. Semuanya masih menunggu-nunggu akhir dari paparan pikiran Machovec. Saya juga demikian.

“Saya percaya bahwa kekristenan tidak mati, melainkan pincang saja. Namun, pesan Yesus itu justru masih sangat hidup sampai sekarang ini. Saya melihat bahwa pesan itu sangat hidup dalam sebagian besar rakyat Venezuela yang menginginkan kehidupan dunia yang lebih adil. Pilihan politik mister Presiden dan rakyat Venezuela adalah bukti nyata”, kata Machovec melambat, mengakhiri paparannya dalam diskusi kecil itu.

Diskusi kecil menjadi semakin hangat oleh beberapa tanggapan kemudian. Contoh-contoh konkret kebijakan politik radikal populis di Venezuela yang lebih dikenal dengan bolivarianisme itu, meneguhkan para peserta diskusi bahwa alternatif itu sangat mungkin dan sangat terbuka. Namun alternatif itu membutuhkan komitmen yang besar dan kerja keras serta kerjasama yang lebih luas. Sebagaian kecil warga tentu masih saja ada yang tak sepakat dengan ini karena mereka telah lama menikmati untung tanpa peduli kepada sebagian besar lain yang buntung.

Jam makan bersama menjadi penentu berakhirnya diskusi kelompok kecil ini. Semuanya menuju ke tempat perjamuan lalu pulang ke tempat masing-masing. Saya masih punya waktu dua hari dan menginap di rumah teman yang mengundang saya itu. Rumah si Alejandro Pino d’Araujo itu kecil dan sederhana namun sangat nyaman. Kasurnya yang empuk dan pepohonan sejuk di sekitar kamar membuat saya cepat tertidur. Namun ternyata, ketika bangun tidur, saya sudah berada di rumah sendiri, di pinggiran desa Ngaglik, Sleman.

“Kamu tidur pulas sekali siang ini”, kata isteri saya sambil mengenakan pakaian sehabis mandi sore. Saya merapikan buku-buku yang tersebar di tempat tidur lalu berangkat mandi. Ah….hari minggu yang segar… dan mimpi yang indah.***

_____________________

* Resist Book

Sumbangan Revolusi Venezuela kepada Rakyat Dunia

-Mengapa kaum gerakan di Indonesia harus bersolidaritas-

Written by Zely Ariane*

Tulisan ini merupakan pokok-pokok pikiran yang mendukung pembangunan Sosialisme Abad 21 di Venezuela. Sumbangan penting Revolusi Venezuela terhadap masa depan perjuangan sosialisme di dunia menuntut tanggung jawab gerakan revolusioner di seluruh dunia untuk memertahankan dan memajukan proses revolusioner di negeri itu; sekaligus membangun solidaritas diantara kaum kiri dan gerakan rakyat di negeri kita sendiri terhadap Revolusi Venezuela.

Sekarang, alternatif itu ada; mari mempertahankan dan memajukannya.

Ada Alternatif

Neoliberalisme telah kehilangan legitimasi dan landasannya, sejak ia tidak bisa “membebaskan pasar dan membiarkan tangan-tangan tak terlihat melakukan pekerjaan” untuk mengglobalisasikan kesejahteraan. Neoliberalisme telah mengkhianati filosofinya sendiri dan terpaksa kembali pada tipe Negara Kesejahteraan (Keynesianism) demi terlihat lebih manusiawi dan dermawan. Millennium Development Goals (MDGs), Corporate Social Responsibility (CSR), sokongan terhadap kebijakan Mikro Kredit (paling jauh) semacam Greemen Bank, adalah diantara formula klise mereka untuk mempertahankan sistem (kapitalisme), namun, tak pernah bisa menanggulangi globalisasi kemiskinan dan kehancuran tenaga produktif dunia saat ini.

Namun sekarang, dunia sudah berubah dan neoliberalisme sedang dipertanyakan. Revolusi Venezuela (bersamaan dengan kemajuan sosialisme Kuba) telah mempercantik dunia, membuat suatu (sistem) alternative menjadi mustahil dan menggugat apa yang dianggap oleh perspektif dominan sebagai akhir dari sejarah. Seiring perlawanan terhadap neoliberalisme di banyak tempat di dunia, perluasan alternative Venezuela telah menjadi isu besar diantara gerakan social: suatu alternative yang mengembalikan revolusi dan sosialisme ke dalam agenda perjuangan rakyat.

Revolusi Venezuela telah memutus rantai involusi di bawah neoliberalisme; merevolusionerkannya melalui proses transfer kekuasaan ke tangan rakyat (dengan demokrasi langsung dan partisipatif) serta mendistribusi kepememilikan pribadi (baik secara bertahap maupun simultan) yang membuka jalan bagi sosialisme abad 21. Sosialisme ini harus sanggup memberi jawaban kongkret bagi kemajuan tenaga produktif yang telah dihancurkan oleh kapitalisme yang rakus di banyak negeri di dunia ketiga; meningkatkan produktivitas rakyat yang selaras dengan keberlanjutan lingkungan; memperjuangkan suatu demokrasi langsung yang partisipatif untuk membangkitkan kesadaran rakyat atas kekuatannya sendiri untuk mengatur Negara dan kehidupannya.

Proses revolusioner yang menempatkan Chavez-Venezuela-Sosialisme Abad 21 sebagai suatu pilihan tandingan dari Bush-Washington-Neoliberalisme, bersamaan dengan kemajuan di Kuba, Bolivia, dan Ekuador, telah menginspirasi banyak kekuatan demokratik dan revolusioner di seluruh dunia. Pada kenyataannya, ada pusaran baru di dunia saat ini; pusaran alternative yang harus dibela oleh kaum kiri dan gerakan social di seluruh dunia.

Sumbangan Revolusi Venezuela

Revolusi sosialis dalam pengertian kongkritnya berupa sosialisasi kepemilikan pribadi, transformasi kesadaran dan kebudayaan, serta peningkatan tenaga produktif, sedang berkembang di Venezeula. Melalui apa yang disebut ‘revolusi damai’, proses tersebut terus berlanjut dan membuat yang dianggap mustahil menjadi kenyataan. Momen-momen penting dan menentukan dalam tahap revolusi adalah 13 April 2002—ketika mobilisasi jutaan rakyat miskin Venezuela berhasil mengalahkan kudeta oposisi sayap kanan—serta keberhasilan perjuangan melawan pemogokan para pemilik bisnis di akhir tahun yang sama.

Sejak itulah, proses revolusioner semakin ditingkatkan, meski beberapa pendapat menganggapnya masih terlalu lamban. Karena sosialisme tidak terjadi lewat dekrit atau deklarasi—walau Chavez sudah mendeklarasikannya di akhir Desember 2005—maka pemahaman terhadap proses revolusi Venezuela sangatlah penting dalam rangka menentukan kesimpulan bersama yang bermanfaat bagi kampanye sosialisme.

Pemenuhan kebutuhan darurat rakyat bukanlah hal mudah bagi negeri-negeri miskin di bawah imperialisme. Kontradiksi antara satu kebijakan dengan kebijakan lainnya membuat propaganda social demokrasi hanya di atas awan. Seperti itulah nasib yang akan terjadi pada masa depan kebijakan MDGs; suatu pajangan ‘niat baik’ di bawah liberalisasi pasar domestic, liberasilisasi pendidikan, kesehatan, perumahan, pertanian dst, di bawah dikte institusi keuangan internasional dan perancang ekonomi konsensus Washington. Venezuela telah meninggalkan involusi ini, dan meradikalisir proses perubahan negerinya dengan memutus hubungan dengan IMF dan Bank Dunia, serta pengambil-alihan alat produksi dari tangan imperialis.

Misi-misi sosial (Missions) Venezuela merupakan program-program transisional darurat untuk memenuhi kebutuhan darurat rakyat sekaligus meningkatkan kapasitas tenaga produktifnya. Sekilas tampak mirip dengan kebijakan-kebijakan sosial demokrasi (Negara kesejahteraan), namun memiliki perbedaan mendasar dalam karakter politiknya, yakni partisipasi/inisiatif rakyat dan sumber pembiayaanya. Misi-misi tersebut dibiayai langsung dari pemasukan minyak (yang sudah dinasionalisasi) dan diatur sendiri oleh rakyat (tidak ada institusi ‘formal’ pemerintah terlibat) melalui berbagai komite seperti komite kesehatan; pendidikan; makanan; perumahan, pertanian, dst.

Penguasaan alat produksi dan distribusi kepemilikan pribadi berlanjut. Dalam beberapa kasus (seperti di Invepal—pabrik kertas, dan Alcasa—pabrik alumunium), tingkat dan tipe penguasaan buruh terhadap produksi dan distribusi pabrik berbeda satu dengan lainnya (lihat wawancara dengan Rafael Rodriguez oleh International Viewpoint, bulan Oktober 2006). Di sector pertanian, reforma agrarian tak hanya meliputi distribusi tanah pada para petani tak bertanah, namun juga peningkatan teknologi dan system produksi pertanian.

Peningkatan tenaga produktif dan teknologi. Venezuela sekarang adalah negeri kedua di dunia (setelah Kuba) yang bebas buta huruf. Program-program peningkatan penguasaan teknologi seperti perangkat lunak gratis, komputerisasi tingkat sekolah dasar, produksi komputer dalam negeri , merupakan sebagian dari langkah-langkah pentingnya.

Praktek demokrasi partisipatoris dan kekuasaan kerakyatan sekarang mulai menantang demokrasi perwakilan. Meski belum begitu jelas bagaimana mekanisme nasional dan otoritasnya terhadap pemerintah, pembentukan ribuan Dewan-dewan Komunitas (lokal) merupakan langkah yang menguntungkan.

Poros internasionalisme baru telah berdiri. Alternatif Bolivarian untuk Amerika Latin (ALBA) dan Bank Selatan (Bancosur) merupakan kampanye yang penting untuk membangun solidaritas yang progressif diantara negeri-negeri miskin di selatan.

Kerja Solidaritas

Pekerjaan solidaritas terhadap pembangunan sosialisme di Venezuela (dan Kuba) adalah tugas penting yang menentukan sukses tidaknya perjuangan untuk pembebasan nasional dan sosialisme di negeri-negeri dunia ketiga. Kekalahan sosialisme di Venezuela akan memundurkan perjuangan untuk sosialisme di negeri manapun di dunia.

Di Indonesia, selama 33 tahun rezim diktator Soeharto berkuasa, telah berhasil menghapus memori sejarah rakyat Indonesia dari pengalaman-pengalaman sejarah revolusionernya; gagasan-gagasan kiri dan sosialis yang subur di masa-masa pergerakan nasional (paruh pertama abad 20) hingga sebelum 1965, hampir-hampir mati potensi. Terima kasih kepada Revolusi Kuba, Revolusi Sandinista, kemenangan Front Popular di Chile, termasuk kemenangan rakyat Vietnam, yang turut menyumbang inspirasi pada kebangkitan kesadaran politik kiri-kerakyatan mahasiswa di era 1970-an, melalui berbagai kelompok studi dan ruang-ruang diskusinya.

Setelah Soeharto dijatuhkan, dan hampir 10 tahun reformasi berjalan, ruang-ruang keterbukaan yang berhasil diperjuangan gerakan mahasiswa dan rakyat belum berhasil dimanfaatkan untuk meluaskan kampanye mengenai kebutuhan dan pembangunan kekuasaan alternative. Banyak aktivis gerakan radikal yang popular di era 90-an (termasuk pimpinan-pimpinan Partai Rakyat Demokratik—PRD, tokoh-tokoh LSM, tokoh-tokoh mahasiswa) , terkooptasi ke dalam politik parlementer di bawah bendera pemerintahan rezim neoliberal, partai-partai sisa lama dan reformis gadungan.. Situasi tersebut telah memperlambat perjuangan untuk menuntaskan reformasi dan mengampanyekan suatu politik alternatif.

Apa yang terjadi di Venezuela di akhir tahun 90-an (1998 dan 1999) serupa dengan situsi politik di Indonesia saat ini, yang ditandai dengan kekecewaan rakyat pada partai politik tradisional. Namun, di Indonesia tidak ada elit politik dan partai politik sisa lama (Orde Baru) dan reformis gadungan di Indonesia yang menyatakan keberpihakan terhadap pembebasan rakyat miskin, seperti yang dikatakan Chavez di banyak pidatonya bahwa pembebasan rakyat miskin adalah satu-satunya cara untuk membangun sebuah bangsa.

Ditengah situasi inilah pekerjaan solidaritas untuk revolusi sosialis di Venezuela mendapatkan momentumnya. Kaum aktivis gerakan (kiri) di Indonesia (seharusnya) merupakan mereka yang berkepentingan untuk menyebarluaskan gagasan-gagasan revolusi Venezuela; meluruskan propaganda sesat tentang demokrasi dan Chavez dari tangan elemen-elemen sisa lama (orba) dan tentara di Indonesia.
Propaganda sesat yang dilancarkan kekuatan lama di Indonesia terhadap Venezuela saat ini adalah, bahwa kesejahteraan rakyat dapat dicapai tanpa demokrasi; dan tentara adalah elemen penting yang berkesanggupan melakukan perubahan. Termasuk di antara elemen sisa orba tersebut adalah Prabowo—pelaku penculikan aktivis gerakan 90-an—dan Wiranto—mantan Jenderal pelanggar HAM—yang mencoba masuk dalam politik nasional kembali dengan menunggangi perubahan di Venezuela di bawah kepemimpinan Chavez.

Demikian pula para politisi reformis palsu seperti Amien Rais—mantan ketua MPR—dan beberapa anggota DPR dari partai-partai reformis gadungan semacam partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan (PDIP), yang mulai bersuara mengenai nasionalisasi minyak Venezuela. Mereka khususnya mengambil contoh renegosiasi kontrak karya terhadap perusahaan minyak asing di Venezuela. Tapi tentu saja, mereka tidak bicara mengenai demokrasi partisipatif; nasionalisasi di bawah kontrol buruh (rakyat); referendum; dewan-dewan komunal sebagai elemen yang paling penting dari revolusi Venezuela.

Dalam kepentingan inilah pekerjaan solidaritas terhadap Revolusi Venezuela dapat sekaligus memberikan landasan bagi perjuangan pembebasan nasional di Indonesia, yakni perjuangan pembebasan rakyat miskin oleh kekuatan rakyat miskin sendiri. Revolusi Venezuela merupakan bukti bahwa berjuang (untuk perubahan yang mendasar) tidaklah mustahil; bahwa rakyat bisa melakukan perubahan dengan kekuatannya sendiri; bahwa mobilisasi kekuatan rakyat sendiri adalah senjata paling ampuh untuk merebut kekuasaan. Inilah senjata utama revolusi yang tidak boleh dilucuti oleh politik kooptasi dan kooperasi dengan musuh-musuh rakyat.

Banyak kalangan yang skeptis mengatakan bahwa tidak mungkin Indonesia bisa mencontoh Venezuela, oleh karena latar belakang sejarah, ekonomi dan politik yang berbeda. Pertanyaannya adalah, mengapa tidak mungkin? Mengapa membatasi diri? Dalam logika yang sama, banyak masyarakat klas menengah Indonesia tak segan untuk dengan terbuka berkiblat pada mimpi-mimpi Amerika atau Eropa yang bisa maju karena kolonialisme dan imperialisme modern. Atau kagum pada China dan India yang bisa besar karena mengambil madu dari perjalanan sejarah bangsanya yang revolusioner—dari Revolusi Kebudayaan Mao Tsetung dan militansi Gandi. Para pejuang pergerakan nasional Indonesia pun mengambil manfaat sebesar-besarnya dari Revolusi Rusia 1917 dan Nasionalisme Tiongkok, untuk pergerakan rakyat yang lebih modern demi perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Mengapa kita takut untuk membebaskan diri mempelajari Revolusi yang terjadi Venezuela, Kuba, dan Bolivia? Apakah ketakutan itu akibat prasangka terhadap sosialisme yang dijadikan hantu berpuluh-puluh tahun oleh rezim Soeharto? Atau karena kita terperangkap oleh sistem ‘bebas nilai’ dunia akademik yang palsu? Bila benar demikian, maka tamatlah riwayat kita sebagai manusia berilmu yang bertanggung jawab untuk merubah situasi dunia menjadi lebih baik dan manusiawi.

Untuk kepentingan inilah Solidaritas Rakyat Indonesia untuk Alternatif Amerika Latin (SERIAL) didirikan pertengahan tahun 2006 lalu. Meski belum maksimal dalam perluasan propaganda, beberapa aktivitas yang sudah dilakukan antara lain:

Kegiatan penerbitan

  1. Buku: “Perubahan Sejati Terbukti Bisa”, Pidato Presiden Venezuela Hugo Chavez di depan Majelis Nasional bulan Januari tahun 2005. Diterbitkan dalam bahasa Indonesia bulan Agustus 2006.
  2. Pamflet: “Strategi Pembangunan Gerakan Perempuan dalam Revolusi Bolivarian”, diterbitkan bulan November, 2006.
  3. Mendukung penerbitan buku: “Memahami Revolusi Venezuela”, Wawancara Martha Harnecker dengan Hugo Chavez, Monthly Review Book, Februari 2007.
  4. Memberikan teks bahasa Indonesia pada film dokumenter: “A Revolution Will Not be Televised”, tahun 2005.
  5. Memberikan teks bahasa Indonesia pada film dokumenter “Bersama Rakyat Miskin Dunia-Con Los Pobres Del Tierra”, tahun 2007.

Kegiatan seminar

  1. P elucuran SERIAL, dengan tema: Ada Alternatif, Bercermin dari Amerika Latin, 15 Agustus 2006
  2. Belajar dari Amerika Latin, Solo, Oktober, 2006
  3. Perubahan di Amerika Latin; Apa Manfaatnya Buat Indonesia, 22 Februari 2007
  4. Talk Show di TV Kabel: Q-TV, Venezuela-Chavez dan Indonesia.

Melanjutkan pekerjaan tersebut, pada awal Februari 2008, SERIAL bersama beberapa aktivis dari Perhimpunan Rakyat Pekerja (PRP), Rumah Kiri (RK), dan mahasiswa dari Universitas Nasional (UNAS) Jakarta, berkumpul dan mendiskusikan suatu proyek kerja bersama untuk membangun komunitas solidaritas Hands Off Venezuela (HOV) di Indonesia. Inisiatif ini segera mendapat dukungan dari banyak pihak seperti: penerbit buku-buku radikal Resist Book- Jogjakarta; Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI); dan Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi-Politik Rakyat Miskin (LMND-PRM). Pekerjaan terdekat yang akan dilakukan adalah pertunjukan film No Volveran, dan deklarasi Hands Off Venezuela-Indonesia.

Kerja-kerja solidaritas yang masih perlu ditingkatkan meliputi

  • Pembangunan komite-komite SERIAL dan atau HOV di berbagai Universitas di Indonesia
  • Produksi lebih banyak bahan bacaan; subtitling dan pertunjukan film; web site; diskusi publik, dll.
  • Aksi-aksi solidaritas
  • Konfrensi-konfrensi taktik diantara aktivis gerakan, belajar dari pengalaman taktik perjuangan di AL.
  • Membuka ajang-ajang studi dan perdebatan ilmiah mengenai sosialisme abad 21.

Sedikit disayangkan, bahwa pekerjaan kampanye Venezuela sendiri dalam bahasa Indonesia tidak banyak dikeluarkan oleh Kedutaan Venezuela di Jakarta. Serangkaian pertemuan yang kami lakukan untuk mendorong Kedutaan Venezuela lebih mampu terbuka mengampanyekan perubahan Venezuela, belum membuahkan hasil. Hingga saat ini belum ada satu bentuk kampanye dalam bahasa Indonesia (penerbitan maupun website) yang reguler dikeluarkan oleh kedutaan Venezuela, yang memberitakan kemajuan perjuangan sosialisme abad 21 di negerinya kepada rakyat Indonesia.

Pada akhirnya, kami berharap Rakyat Venezuela dan Pemerintahan Chavez memainkan peran penting untuk mendukung pekerjaan solidaritas diantara gerakan rakyat di seluruh dunia. Penyebarluasan informasi tentang kemajuan sosialisme di Venezuela, Kuba, dan Bolivia, dalam berbagai bahasa, adalah kunci bagi membesarnya gerakan solidaritas terhadap perjuangan sosialisme abad 21 di seluruh dunia.

Sampai Menang.***

_______________________

Zely Ariane adalah Juru Bicara Hands off Venezuela – Indonesia; Koordinator Solidaritas Rakyat Indonesia untuk Alternatif Amerika Latin (SERIAL): www.amerikalatin.blogspot.com;

Juru Bicara Komite Politik Rakyat Miskin-Partai Rakyat Demokratik (KPRM-PRD):

www.kprm-prd.blogspot.com;

www.kprm-peoples-democratic-party.blogspot.com

Revolusi di Venezuela: Memecah Keheningan Sejarah

Written by Jesus S. Anam*

“Hiduplah di tahun 1953, maka kau akan menemui dua peristiwa besar yang menyejarah: mangkatnya Stalin dan matinya ideologi,” begitulah kata seorang kawan kapada saya, suatu malam, di ruang perpustakaan sebuah seminarium teologia.

Suasana hening, murung dan sedih tengah terjadi di malam 5 Maret 1953. Itulah hari meninggalnya Stalin. Dunia seakan terdiam, menahan gerak. Pemimpin Soviet yang berkuasa mutlak dan disembah-sembah itu telah menyelesaikan hidupnya, meninggalkan goresan hitam di tubuh sosialisme dan menjeburkannya di selokan peradaban. Seluruh Uni Soviet terguncang.

Hari itu rakyat Moskow berkerumun di lapangan Trubnaya, ingin mendekati keranda Stalin dan melambaikan tangan terakhir buat sang pemimpin. Soviet terlihat agak gelisah saat keranda yang membawa Stalin perlahan meninggalkannya. Tangis, senyum, diam, tawa, bercampur tidak jelas. Ia begitu terkenal meskipun menyakitkan. Ia memang ikon yang kontroversial.

Seusai 1953, banyak orang mulai enggan bicara sosialisme. Sosialisme tampak sekedar kontemplasi politis dan keheningan sejarah. Ia begitu eksotik sebagai perenungan tetapi bukan untuk dijalani.

Pada sekitar tahun yang sama, muncul pemikiran sinin terhadap ideologi. Daniel Bell dengan bukunya The End of Ideology tampil memukau di tengah-tengah publik. Buku itu segera mengisi rak-rak perpustakaan universitas. Dibaca banyak orang dan mendatangkan kebingungan. “Berakhirnya ideologi.” Orang pun manggut-manggut, kemudian ragu: mungkinkah ideologi bisa berakhir; mungkinkah sosialisme sudah terkubur bersama jasad Stalin?

Pada tahun 1960-an dan 70-an The End of Ideology ditendang dari rak-rak perpustakaan dan dicampakkan di keranjang sampah pemikiran. Orang-orang muda progresif tidak percaya bahwa ide-ide radikal sudah lekang meskipun Barat berulangkali mengulangi kata-kata sinisnya, bahwa revolusi sudah terlalu letih untuk dilanjutkan, ideologi sudah mati, dan sosialisme hanyalah utopia orang-orang miskin.

Kecurigaan dan sinisme Barat kini ditepis oleh sejarah yang sedang bangkit dari keheningannya. Pagi yang cerah telah menghapus duka senja. Revolusi tengah hadir di bumi Venezuela, tanah Simon Bolivar. Nyanyian riang terus mengiringi rakyat Venezuela yang sedang kegirangan. Mereka sedang menyambut sosialisme, seperti orang-orang majus dari timur saat menyambut kedatangan Kristus.

Perjuangan rakyat Venezuela adalah fenomena tersendiri yang layak dikaji. Kesadaran kelasnya dan keberhasilan mereka mengorganisir diri serta berjuang bersama-sama untuk melawan imperialisme, kapitalisme, dan mengambil alih kekuasaan adalah hal yang luar biasa di abad ini. Mengingat di belahan dunia yang lain, masyarakatnya sudah terkungkung oleh semangat individualisme dan asyik dengan benda-benda.

Selain itu, rakyat paham benar bahwa perjuangan bisa membuatnya berkeping-keping, seperti serpihan-serpihan yang berserakan. Darah bisa tertumpah sewaktu-waktu, dan kelaparan bisa mendera setiap saat. Mereka tidak gentar. Bahkan seorang ibu rela menjual TV-nya untuk membeli senapan – tentunya – demi revolusi.

Hal buruk pernah dialami dalam proses revolusi di Venezuela karena tindakan sabotase dari para bos. Disember 2002, para bos menutup bisnis mereka di penjuru Venezuela. Menelantarkan para pekerja dan pelanggannya selama 2 bulan. Di industri minyak, manajer dan ahli teknisi menyabotase mesin dan komputer sebelum meninggalkan posnya.Produksi minyak jatuh dari 3 juta barel sehari menjadi 25 ribu. Tanker-tanker minyak berhenti di lepas pantai. Pompa-pompa bensin di kota mongering. Tidak ada transportasi dan semakin menipisnya sumber daya. Tidak ada gas untuk memasak, sedikit makanan, dan rakyat terpaksa berjalan kaki. Bahkan ambulans tak bisa jalan dan para pasien di rumahsakit banyak yang meninggal. Tapi sebagai responnya, rakyat mulai mengorganisir diri, pekerja mengambil kendali minyak teknologi tinggi dan menjalankan kembali pompa-pompa.

Semangat rakyat dalam berjuang untuk memperoleh hak-haknya tidak lepas dari pidato-pidato provokatif Sang Presiden, Hugo Chavez. Pidato-pidato Chavez yang lantang melawan kapitalisme telah menjadi spirit yang terus bergejolak. Kapitalisme harus dihancurkan. Kapitalisme adalah biang dari semua persoalan.

“Kapitalisme adalah praktek yang bejat. Praktek bejat yang mengarah pada egoisme ekstrim. Pada individualisme, pada kebencian. Kapitalisme adalah penyebab Perang Dunia Pertama dan Kedua. Kapitalisme sesungguhnya biang kerok invasi ke Irak dan kudeta di Venezuela.” Itulah kata-kata Chavez yang terekam dalam film dokumenter No Volveran.

Pidato Chavez ini disambut dengan antusias oleh seluruh rakyat Venezuela yang pernah menelan pahitnya penindasan oleh karena kapitalisme. Kesadaran politik yang tinggi muncul di tengah-tengah rakyat. Rakyat paham bahwa kapitalisme biang dari seluruh persoalan dan mereka menyelesaikannya dengan sosialisme.

Gerakan rakyat, rakyat yang mengoganisir diri, dan intervensi aktif massa dalam kejadian-kejadian historis adalah hal yang sangat penting dalam revolusi. Sebagaimana kata Trotsky, bahwa revolusi diciptakan oleh manusia dan melalui manusia. Revolusi adalah bergantian tatanan sosial. Tatanan baru akan terjadi jika ia berbasis pada kelas yang progresif, yang mampu mengorganisir mayoritas rakyat yang besar jumlahnya.

Kenyataan ini terjadi di Venezuela. Sosialisme di Venezuela hadir dan memecah keheningan sejarah. Sejarah sosialisme yang muram karena kesalahan Stalis dalam memahami Marxisme.

Salam Revolusi!

___________________________________
* Koordinator Hands off Venezuela Indonesia