Kaum Buruh Revolusioner di Iran dan Venezuela Mengkritik Chavez

Oleh: Ady Thea
27 Juni 2009

Menyikapi Pemilu Presiden 2009 di Iran, kementrian luar negeri Venezuela menyebutkan “Venezuela menyatakan penentangan terhadap kampanye fitnah yang mengerikan dan tidak berdasar yang berasal dari pihak luar” dan Venezuela juga mengecam intervensi pihak asing untuk menggoyang stabilitas di Iran (Kompas, 18 Juni 2009). Pemilu Presiden 2009 di Iran berakhir dengan kemenangan mutlak Ahmadinejad yang kembali menjabat sebagai Presiden Iran dengan memperoleh 63% suara. Iran digoncang gelombang besar demonstrasi massa rakyat. Mereka menggugat sistem Pemilu Iran yang diindikasikan penuh dengan kecurangan. Kandidat presiden Iran lainnya yaitu Mir Mousavi, yang menempati urutan kedua dengan memperoleh 34% suara, menanggapi kecurangan itu dengan menyerukan kepada seluruh pendukungnya untuk turun ke jalan melakukan aksi demonstrasi damai. Namun demonstrasi itu dihadapi oleh pemerintah Iran dengan sikap yang represif, penuh kekerasan, yang mengakibatkan sedikitnya puluhan orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka. Pemerintah Iran telah terbiasa melakukan berbagai macam tindak kekerasan terhadap gerakan revolusioner di Iran. Padahal mereka mengklaim sebagai pemerintahan yang Revolusioner, namun pernyataan itu tidak sesuai dengan realitas yang ada di Iran. Bahkan rezim yang berkuasa di Iran saat ini lebih cocok disebut dengan rezim reaksioner. Mereka tidak memberikan ruang terhadap kegiatan-kegiatan revolusioner, mereka menutup seluruh akses demokratik yang harusnya dapat dimiliki oleh masyarakat sipil di Iran. Serikat buruh revolusioner di Iran seperti serikat buruh Vahed, Iran Khodro dan gerakan-gerakan revolusioner lainnya direpresi oleh rezim pemerintah. Dengan cara mengintimidasi, menangkap para pemimpin buruh dan melakukan penyiksaan bahkan tak segan-segan untuk membunuh .

Saat ini Iran bergejolak, massa rakyat menggugat rezim reaksioner di Iran, menuntut pembaharuan dalam Republik Islam Iran, karena tidak ada sistem politik demokratik di Iran. Pemilu Presiden di Iran bukanlah pemilu yang demokratis, karena kandidat-kandidat presiden yang maju dalam Pemilu tidak ditentukan secara demokratik, tapi diseleksi dan ditentukan oleh Majelis Wali (Guardian Council). Dalam teknis pelaksanaan pemilu, para kandidat calon presiden atau kelompoknya tidak diperbolehkan untuk memonitor dan mengawasi jalannya pemilu di lokasi-lokasi pemilihan (TPS) termasuk lembaga-lembaga pemantau pemilu independen lainnya. Sehingga tidak ada transparansi yang jelas mengenai perhitungan perolehan suara. Dan semuanya itu diindikasikan telah dirancang oleh rezim jauh sebelum pemilu dilaksanakan.

Dalam ranah internasional di bawah kepemimpinan Ahmadinejad, Iran terlihat sebagai negara  “revolusioner”, ia menentang imperialisme, memusuhi Amerika Serikat (AS) dan sekutunya. Untuk mendukung dan memperkuat status quo di Iran, Ahmadinejad melakukan manuver politik luar negeri yang cukup baik sehingga pencitraan massa rakyat Internasional melihat  Iran di bawah kepemimpinan Ahmadinejad merupakan salah satu negara revolusioner di dunia, apalagi semakin eratnya hubungan antara Iran dengan Venezuela sejak kunjungan Chavez ke Iran di tahun 2004. Hubungan antar kedua negara itu berlanjut ketika Ahmadinejad dan beberapa tokoh politik Iran lainnya melakukan kunjungan balasan ke Venezuela di tahun 2006. Dalam 2 hari kunjungannya ke Venezuela, telah dicapai kesepakatan antara kedua negara untuk melakukan kerjasama ekonomi dan kurang lebih terdapat 20 nota kesepakatan yang ditandatangani kedua belah negara. Bahkan pemerintahan Iran telah berinvestasi jutaan dollar AS di Venezuela.

Namun apakah cukup dengan pencitraan seperti itu, Ahmadinejad beserta seluruh rezim yang berkuasa di Iran dikatakan sebagai para pemimpin revolusioner sejati? Apakah retorika-retorika yang terkesan revolusioner itu juga diterapkan dalam kebijakan politik domestik di Iran? Diberangusnya kekuatan-kekuatan revolusioner serikat-serikat buruh, gerakan mahasiswa dan gerakan progresif lainnya di Iran merupakan cerminan bagaimana pencitraan itu tidak sesuai dengan realitas yang ada di Iran. Rezim Iran tidak mengangkat derajat kaum proletariat, malahan mereka menghancurkan kekuatan revolusioner dengan segenap kekuatan reaksioner. Di satu sisi, pemerintahan Venezuela di bawah kepemimpinan Chavez, mendukung segenap gerakan revolusioner yang ada di Venezuela. Mendukung terbentuknya serikat buruh revolusioner sejati, menyerukan agar buruh mengendalikan pabrik yang ditinggalkan majikannya, membangun basis-basis revolusioner di seluruh penjuru Venezuela, membentuk beraneka ragam program-program sosial yang pro-kaum proletar dan hal-hal revolusioner lainnya. Namun di sisi lain, Iran, di bawah cengkraman rezim yang sekarang berkuasa, kelas buruh mengalami nasib yang sebaliknya, pekerja tidak memiliki hak untuk mendirikan serikat buruh independen, melakukan pemogokan dan melakukan kegiatan-kegiatan revolusioner lainnya. Bahkan setiap demonstrasi dan pemogokan yang dilakukan kaum buruh di Iran untuk menuntut hak-hak mereka seperti kenaikan upah, jaminan kesejahteraan dan lain-lain, seringkali berakhir dengan penangkapan, penyiksaan dan bahkan pembunuhan.

Dalam konteks politik Internasional, Venezuela mengadakan kerjasama antar negara untuk membangun perekonomian tanpa campur tangan imperialisme AS dan sekutunya, membangun hubungan diplomatik dan kegiatan-kegiatan protokoler lainnya. Diplomasi dan hubungan dagang adalah bagian dari kebijakan luar negeri, bahkan ketika ada revolusi yang sedang terjadi. Apalagi Venezuela sekarang masih membutuhkan teknologi dan industri untuk mengembangkan ekonominya, dan tanpa adanya negara-negara sosialis yang bisa saling membantu (dan kita harus jelas kalau Venezuela pun belumlah menjadi negara sosialis) maka Venezuela harus memberikan konsensi dagang pada negara-negara kapitalis lainnya, termasuk Iran. Bahkan dengan Amerika pun Venezuela masih mempertahankan hubungan dagangnya, yakni masih mensuplai minyak ke Amerika.

Akan tetapi, dalam melakukan diplomasi dan hubungan dagang ini, kita harus mengetahui dan sadar akan karakter sesungguhnya dari rejim-rejim tersebut. Iran bukanlah rejim revolusioner, Iran bukanlah rejim anti-imperialis. Iran adalah rejim reaksioner anti kelas pekerja. Untuk merepresentasikan Iran sebagai rejim progresif, seperti yang Chavez sedang lakukan, adalah sebuah kesalahan besar yang akan membingungkan rakyat Venezuela dan merusak basis dukungan dari kaum buruh dan muda Iran yang merupakan sekutu sejati dari Revolusi Venezuela. Sebagai pendukung Revolusi Venezuela, kita harus mengkritik dengan keras sikap Chavez terhadap Iran ini yang justru akan membahayakan Revolusi Venezuela. Pendukung Revolusi Venezuela bukanlah berarti pengekor Chavez.

Seperti halnya banyak kaum kiri yang kebingungan akan apa yang sebenarnya terjadi di Iran, di mana cukup banyak kaum kiri justru mendukung Ahmadinejad dan mengatakan bahwa Iran adalah rejim progresif anti-imperialis (bahkan ada partai-partai “komunis” yang mendukung rejim Iran sekarang), Chavez juga kebingungan. Ini dikarenakan banyak informasi yang tidak jelas mengenai karakter sesungguhnya dari rejim Iran sekarang ini, yang lahir dari konter-revolusi terhadap Revolusi 1979 yang menumbangkan Shah. Kita harus mengerti jelas karakter rejim Iran dan sejarahnya, kalau tidak kita akan kebingungan (Baca “Revolusi Iran – Sejarah dan Hari Depannya” oleh Dr. Zayar dari Iran)

Chavez sebagai pemimpin dari segenap elemen revolusioner di Venezuela harusnya melakukan langkah-langkah kongkrit untuk membantu memperkuat basis revolusioner di Iran. Membantu kaum proletar di Iran untuk melawan rezim reaksioner. Dalam surat terbuka yang dilayangkan oleh Liga Sosialis Revolusioner Iran kepada Chavez, menyerukan agar Chavez membantu mereka untuk mengangkat isu-isu tentang kekerasan yang dialami serikat buruh revolusioner di Iran.

Dari kubu garis keras yang diwakili oleh Ahmadinejad dan dari kubu reformis yang diwakili oleh Mousavi, merupakan satu kesatuan dari rezim yang saat ini berkuasa. Mousavi, walaupun dia saat ini menjadi tokoh yang populer di tengah-tengah massa rakyat Iran yang kebingungan, namun tetap saja dia bukanlah pemimpin revolusioner sejati yang mampu mengakomodir dan mewujudkan cita-cita elemen progresif revolusioner di Iran. Kaum proletariat Iran harus mampu menghasilkan pemimpin-pemimpin baru yang revolusioner untuk dapat memenangkan gerakan revolusi yang saat ini sedang bergairah di Iran. Karena tanpa kepemimpinan revolusioner sejati yang berpihak kepada kaum proletariat, maka massa rakyat Iran tidak akan meraih kemenangan.

Hidup kaum proletar di Iran…!!!

Quo Vadis 10 tahun Revolusi Venezuela menuju Sosialisme: Kesejahteraan Rakyat Membaik atau Memburuk

Oleh Ady Thea
3 Juni 2009

Venezuela termasuk negara yang kaya akan sumber daya alam, terutama minyak dan gas. Kandungan minyak yang terdapat di daerah Orinoco Basin yang terletak di wilayah Venezuela bagian timur diperkirakan memiliki cadangan sebesar 370 miliar barel dan dinyatakan sebagai cadangan minyak terbesar di dunia. Namun ladang minyak itu tidak dikelola dengan baik oleh pemerintah yang lalu sebelum Chavez, bahkan banyak perusahaan-perusahaan asing yang beroperasi disana seperti Exxon Mobil (perusahaan minyak AS), Chevron (Inggris), Total (Perancis), dan lain-lain. Akibatnya, massa rakyat Venezuela tidak dapat menikmati hasil kekayaan alam yang dikeruk dari bumi Venezuela. Bahkan pada tahun 1989, di masa kepemimpinan Carlos Andres Perez yang pro-kapitalis, sebanyak 80,42% dari keseluruhan jumlah penduduk Venezuela terjerumus dalam jurang kemiskinan.

Sejak 1999 Hugo Chavez terpilih menjadi presiden Venezuela. Ia dipilih secara demokratis melalui pemilu. Mulai saat itulah Venezuela yang sebelumnya berada dalam cengkraman kapitalisme mulai mengarah menuju sosialisme. Langkah pertama yang diambil Chavez pada saat ia berkuasa adalah membuat konstitusi untuk melindungi hak-hak massa rakyat lewat Dewan Konstituante yang secara resmi dibentuk pada tahun 1999. Dari situ kemudian ia mengubah kebijakan-kebijakan yang selama ini pro-kapitalis menjadi pro-sosialis. Sebagai salah satu upaya yang dilakukan Chavez untuk menyejahterakan kelas pekerja, ia mengeluarkan dekrit untuk menaikkan upah minimum menjadi 144.000 Bolivar pada tahun 2000. Langkah itu tentu saja memberi angin segar bagi kelas pekerja di Venezuela, karena kesejahteraan mereka kini lebih baik daripada masa sebelumnya. Pada semester kedua di tahun 2000, angka kemiskinan di Venezuela turun menjadi 46,20%.

Untuk meningkatkan gizi anak-anak usia sekolah, pada tahun 1999 pemerintahan Chavez membuat program makanan tambahan bagi anak sekolah yang dinamakan Programa Alimenticio Escolar (PAE). Melalui program itu anak-anak sekolah mendapatkan sarapan, makan siang, dan makanan ringan (snack) gratis dari pemerintah. Program ini pada tahun 1999 mampu dinikmati sekitar seperempat juta anak sekolah di Venezuela dan dari tahun ke tahun jumlah itu semakin meningkat.

Melihat kebijakan-kebijakan pemerintahan Chavez yang progresif revolusioner, pihak oposisi (pro-kapitalis) melakukan segala daya upaya untuk menggulingkan pemerintahan demokratis di bawah kepemimpinan Chavez. Puncaknya terjadi pada tahun 2002 dimana pihak oposisi melakukan kudeta. Mereka menobatkan pemimpin Fedecamaras (Federasi Bisnis Venezuela), Pedro Carmona, sebagai Presiden Venezuela. Selain itu kelompok oposisi juga menyerang kelompok-kelompok pro-Chavez. Bahkan mereka juga menyerang kedutaan besar Kuba di Caracas, ibukota Venezuela .

Di satu sisi kudeta itu dapat dipatahkan oleh massa rakyat. Kelompok-kelompok pro-Chavez memainkan peran yang sangat penting untuk membela Revolusi Bolivarian. Sehingga terhitung sejak 14 April 2002 Presiden Hugo Chavez dapat kembali menempati posisinya sebagai Presiden Venezuela. Namun di sisi lain pihak oposisi masih terus berusaha untuk melemahkan pemerintahan Chavez dengan cara melakukan pemogokan di perusahaan minyak milik pemerintah yaitu PDVSA. Para pekerja PDVSA yang berasal dari tingkat manajerial menghentikan proses produksi, sehingga jumlah produksi PDVSA berkurang hingga mencapai 1 juta barel/hari. 40 sumur minyak berhenti beroperasi dan minyak menjadi langka di Venezuela. Peristiwa ini memberi pukulan keras terhadap pemerintahan Chavez dan juga massa rakyat.

Dengan berhentinya produksi minyak PDVSA, secara otomatis pemerintah mengalami penurunan pemasukan keuangan negara. Selain itu mobil-mobil dan mesin-mesin tidak dapat dioperasikan karena kelangkaan bahan bakar. Namun manuver pihak oposisi itu mampu dipatahkan kembali oleh kekuatan massa rakyat pekerja. Para pekerja minyak bawahan mengambil alih produksi minyak yang sangat kompleks ini tanpa bantuan teknis para manajer. Sehingga pada 9 Februari 2009 pemerintahan Chavez dapat mengendalikan PDVSA agar kembali berproduksi secara normal. Akibat tindakan yang dilakukan pihak oposisi ini, perekonomian Venezuela menurun dan angka kemiskinan kembali naik pada semester kedua di tahun 2003 menjadi 62,10%. Peristiwa ini semakin menyadarkan massa rakyat bahwa pihak pro-kapitalis akan terus berupaya untuk menggulingkan pemerintahan pro-sosialis dan dengan itu massa rakyat sadar bahwa musuh utama mereka adalah kapitalisme. Massa rakyat menyadari bahwa dalam pemerintahan Chavez masih terdapat birokrat-birokrat yang pro-kapitalis, namun mereka bersembunyi di balik pemerintahan Chavez yang progresif revolusioner. Dan sampai detik ini pun, Presiden Chavez berupaya semaksimal mungkin untuk membersihkan pemerintahannya dari kelompok-kelompok yang pro-kapitalis.

Kapitalisme merangsek ke berbagai lini di Venezuela, terutama ke sektor-sektor penting yang berpengaruh langsung terhadap kesejahteraan massa rakyat, dimana seharusnya dapat dinikmati sebagai kebutuhan dasar dan menjadi hak-hak massa rakyat. Seperti makanan murah dan berkualitas, pelayanan kesehatan, akses pendidikan dan lain sebagainya. Namun sebelum Chavez berkuasa, hak-hak rakyat itu tidak terpenuhi, bahkan cenderung diabaikan. Oleh karena itu di masa pemerintahan Chavez banyak sekali kebijakan-kebijakan yang dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar massa rakyat melalui program-program transisional menuju sosialisme.

Pada tanggal 21 April 2003 pemerintahan Chavez membentuk program kesehatan yang dinamakan Mission Barrio Adentro. Selama ini kesehatan massa rakyat Venezuela diatur oleh pasar sehingga kapitalisme di bidang kesehatan merajalela. Hanya penduduk dari golongan menengah atas yang mampu menikmati fasilitas kesehatan sedangkan sebagian massa rakyat Venezuela yang hidup miskin tidak mampu mendapatkan akses kesehatan yang layak. Oleh karena itu, melalui program Mission Barrio Adentro, Presiden Chavez mendobrak keangkuhan kapitalisme agar massa rakyat mampu mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak.

Sektor pendidikan pun tak lepas dari genggaman kapitalisme. Sebelum Chavez berkuasa, pendidikan hanya mampu dinikmati oleh anak-anak orang kaya. Sedangkan sebagian massa rakyat Venezuela tidak mampu mendapatkan akses pendidikan yang bermutu. Jerat kemiskinan menjadi penyebab utama kenapa pendidikan bermutu tidak dapat dinikmati anak-anak usia sekolah kurang mampu. Bahkan mereka harus bekerja untuk membantu orang tua memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Untuk mengatasi masalah pendidikan itu, Chavez membuat program melek huruf yang dinamakan Mission Robinson. Program itu mulai berjalan di tahun 2003. Alhasil tingkat kemampuan membaca dan menulis massa rakyat Venezuela naik menjadi 93,8% untuk kaum pria dan 93,1% untuk kaum wanita. Dan saat ini pemerintah Venezuela membebaskan biaya pendidikan mulai dari tingkat taman kanak-kanak (TK) sampai Universitas bagi massa rakyat miskin.

Untuk menjamin kesediaan pangan bagi kaum miskin, mulai dari tahun 2003 pemerintahan Chavez memulai program Mercal yang ditujukan untuk menyediakan bahan-bahan makanan yang murah dan berkualitas bagi massa rakyat. Pemerintah menunjuk toko-toko sembako tertentu yang tersebar di seluruh penjuru Venezuela, terutama di daerah yang miskin sebagai agen untuk mendistribusikan bahan-bahan makanan itu. Pada tahun 2003, bahan-bahan makanan yang sudah terjual melalui toko-toko itu mencapai 45.662 metrik ton dan jumlah itu semakin meningkat menjadi 1,25 juta metrik ton di tahun 2008.

Masih banyak lagi kebijakan-kebijakan sosialis yang memberikan pengaruh langsung bagi kesejahteraan massa rakyat di Venezuela seperti pembangunan rumah untuk kaum miskin, menaikkan gaji guru hingga 30% dan lain-lain. Beberapa kebijakan yang telah ditulis di atas merupakan contoh dari perubahan nyata selama revolusi terjadi sehingga massa rakyat secara langsung dapat menikmati hasilnya. Jika dilihat dari angka kemiskinan yang ada di Venezuela, selama masa pemerintahan Chavez kesejahteraan massa rakyat Venezuela semakin membaik. Sejak kebijakan transisional menuju sosialisme dilaksanakan oleh pemerintahan Chavez, angka kemiskinan di Venezuela semakin menurun, bahkan pada semester ke dua di tahun 2008 angka kemiskinan di Venezuela turun menjadi 31,50%.

Nasionalisasi pabrik di bawah kontrol buruh merupakan kata kunci terwujudnya kemajuan-kemajuan progresif di Venezuela. Nasionalisasi harus dilakukan di sektor-sektor industri penting untuk membiayai program-program sosialis di Venezuela, seperti perusahaan minyak PDVSA, perusahaan besi baja SIDOR, beberapa perusahaan semen milik asing yang beroperasi di Venezuela, dan lain-lain. Setelah dinasionalisasi, kemudian perusahaan-perusahaan itu harus sepenuhnya dikelola oleh buruh dan pemerintah. Dari situlah kedaulatan massa rakyat dijunjung tinggi, mereka merencanakan, mengelola dan menjalankan pembangunan massa rakyat tanpa dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan imperialis.

Partisipasi seluruh massa rakyat Venezuela merupakan tulang punggung bagi revolusi sosialis di Venezuela karena tanpa partisipasi aktif dari massa rakyat, revolusi sosialisme akan menuju kegagalan. Perkembangan progresif revolusioner yang ada di Venezuela merupakan buah manis dari pohon revolusi yang ditanam oleh kelas pekerja di Venezuela. Mereka tidak henti-hentinya berorganisasi, merapatkan barisan, mengasah kesadaran kelas sampai akhirnya mampu membawa Venezuela bergerak menuju sosialisme. Selain itu sosok Hugo Chavez yang karismatik dan revolusioner mampu tampil memimpin jalannya revolusi. Sinergisitas ini menjadi sebuah energi revolusioner yang sangat dahsyat untuk memutuskan belenggu rantai besi kapitalisme di Venezuela.

Namun bukan berarti saat ini massa rakyat telah meraih kemenangan, bukan berarti sekarang Venezuela telah menjadi Negara sosialis atau Negara kelas pekerja sejati. Masih banyak sektor yang harus dibenahi dan diperkuat untuk membangun sebuah Negara sosialis di Venezuela. Dan dari kesemuanya itu yang perlu diingat adalah Venezuela saat ini telah berjalan menuju sosialisme. Konsep internasionalisme akan mewujudkan dan memperkuat basis sosialisme di Venezuela. Dan mulai saat ini di kawasan Amerika Latin bukan hanya Kuba yang menjadi kobaran api revolusioner, namun kobaran api itu telah menyambar ke Venezuela, Bolivia, Ekuador, Nikaragua, dan lainnya. Kobaran api revolusioner itulah yang nantinya akan menerangi dunia, menghanguskan keangkuhan kapitalisme, melelehkan kebrutalan imperialisme, dan membuat neoliberalisme menjadi abu.

Referensi:
– http://www.antara.co.id/view/?i=1178088506&c=EKB&s=, diakses pada tanggal 3 Juni 2009
– http://en.wikipedia.org/wiki/Education_in_Venezuela, diakses pada tanggal 3 Juni 2009
– Mark Weisbrot, Rebecca Ray dan Luis Sandoval, “The Chavez Administration at 10 Years: The Economy and Social Indicators”. Makalah CEPR. ( Washington DC , Februari 2009)

Chavez: Pabrik-pabrik harus menjadi “sekolah”

Oleh Ady Thea

Dalam pertemuan yang bertema “transformasi sosialis” pada tanggal 21 Mei 2009 yang berlangsung di komplek industri CVG Ferrominera, Puerto Ordaz, Kota Guayana, Venezuela, Chavez mengumumkan beberapa pabrik yang baru saja dinasionalisasi, yaitu lima pabrik besi dan baja yang terdiri dari Pabrik besi dan baja Orinoco, Venezolana de Prerreducidos of Caroní (VENPRECAR), Materiales Siderúrgicos (MATESI), Complejo Siderúrgico de Guayana (COMSIGUA), Tubos de Acero de Venezuela (TAVSA) dan Pabrik Keramik Caraobo. Kelima pabrik besi dan baja serta satu pabrik keramik yang dinasionalisasi itu merupakan bagian dari langkah Chavez untuk membangun sosialisme Venezuela yang berbasiskan kekuatan massa rakyat pekerja. Chavez juga menjelaskan persetujuan perundingan secara kolektif dari CVG Ferrominera dan berencana untuk membuat komplek pabrik industri besi baja dimana pabrik-pabrik yang tergabung dalam komplek itu harus berada dibawah kontrol buruh. “Mari kita mulai proses nasionalisasi untuk membangun komplek industrial ini”, kata Chavez.

Pertemuan itu dihadiri sekitar 400 buruh, 200 orang diantaranya berasal dari buruh sektor industri alumunium dan 200 orang lainnya berasal dari sektor industri besi dan baja. Chavez, sebagai presiden Venezuela, dalam pertemuan itu ia didampingi oleh beberapa menterinya yaitu Jorge Giordani, Rodolfo Sanz, Rafael Ramírez, dan Alí Rodríguez Araque serta Gubernur Guayana, Francisco Rangel Gómez.

Untuk seluruh massa rakyat di Venezuela, khususnya mereka yang hadir dalam pertemuan itu, Chavez menegaskan bahwa perlunya menggiatkan pendidikan politik bagi buruh, ia mengatakan saat ini “setiap pabrik harus menjadi sekolah, seperti yang dikatakan Che, bahwa untuk membangun tidak hanya membutuhkan briket, besi, baja dan alumunium, namun juga, diatas semuanya, pemuda dan pemudi baru, sebuah masyarakat baru, sebuah masyarakat sosialis”. Chavez juga menegaskan kembali idenya untuk membuat sekolah-sekolah politik, seperti sekolah poltik yang ada di CVG Alcasa, dimana pengelolaannya berada di bawah kontrol pekerja dan diketuai oleh Carloz Lanz. “Saya pikir akan sangat bermanfaat jika segera dibuka Sekolah bagi buruh di Guayana, sebuah Sekolah pendidikan politik bagi buruh; dengan itu maka kita dapat memulai untuk menganalisa berbagai macam persoalan, baik mengenai sosialisme dan dunia, politik, budaya, masyarakat dan ekonomi”. Dengan sekolah-sekolah politik itu diharapkan kesadaran buruh akan meningkat. Sehingga buruh tidak hanya sekedar tahu tentang sosialisme, tapi juga paham, dan mengerti bagaimana mewujudkannya. Karena proyek besar pembangunan transisional menuju sosialisme yang terjadi di Venezuela membutuhkan partisipasi dengan penuh kesadaran massa rakyat pekerja.

Bagi Chavez, Guayana merupakan salah satu kota penting dalam membangun sosialisme di Venezuela , di kota ini program-program sosialisme sedang dijalankan. Dan diharapkan Guayana dapat menjadi kota percontohan bagi kota-kota lainnya di Venezuela bahkan di seluruh dunia. Dengan penuh optimis Chavez mengatakan “Saya yakin bahwa Guayana dan pergerakan di Guayana…akan menjadi platform sosialisme yang besar, dalam membangun sosialisme, kelas pekerja menjadi garda terdepan, kelas pekerja sebagai pelaku utama. Dan Guayana, akan menjadi – disinilah saya melihat – sebuah sekolah Sosialis”.

Chavez juga mengatakan bahwa pembangunan dan perencanaan proses Revolusi Venezuela ini membutuhkan partisipasi sadar dari kelas pekerja. Pidato yang dia berikan merupakan satu langkah maju, tetapi ini harus dipenuhi dan dijalankan melalui aksi-aksi konkrit oleh pekerja sendiri. Kita telah melihat berkali-kali bagaimana rencana-rencana yang telah dipaparkan oleh Chavez terkubur dan diabaikan oleh birokrasi-birokrasi pemerintah yang notabene masih merupakan warisan dari pemerintahan korup yang lama sebelum Chavez. Untuk berangkat dari pidato ke aksi, kelas pekerja Guayana dan segenap kelas pekerja Venezuela harus mengambil tanggung jawab ini.

Kelas pekerja harus mengambil sebuah langkah tegas dan aksi yang konkrit. Komite-komite pabrik harus dipilih secara demokratis dan dapat dipanggil kembali (recall) setiap saat supaya kontrol buruh yang sejati dapat terbentuk. Manajemen dan pembukuan perusahaan harus dikontrol oleh pekerja sendiri supaya surplus-surplus produksi tidak lari ke kantong para birokrat. Kelas pekerja Venezuela harus memiliki manejemen kolektif di dalam setiap divisi dan departemen industri, yang mengontrol semua aspek produksi, termasuk pemasaran dan penjualan, guna membentuk kontrol buruh yang efektif.

Menjelang akhir acara pertemuan itu Chavez menegaskan kembali bahwa revolusi Bolivarian yang sedang dijalankan di Venezuela ini memainkan peran yang sangat besar bagi perkembangan massa rakyat pekerja di seluruh dunia. Seluruh kelas pekerja dunia saat ini melihat dan berharap bahwa proses revolusi sosialisme yang berlangsung di Venezuela dapat mewujudkan terbentuknya Negara buruh sejati. Dengan penuh suka cita di akhir kalimat penutupnya Chavez berucap “Hidup kelas pekerja! Hidup kebebasan di Guayana! Hidup buruh! Hidup Negara sosialis! Patria, Socialismo o Muerte! Venceremos!”

Jakarta 29 Mei 2009

Gaji Guru Naik 30% di Venezuela

Oleh Jesus SA

Pemerintah Venezuela terus bergerak maju memberi pelayanan terhadap rakyatnya. Seperti, peningkatan mutu pendidikan dan peningkatan kesejahteraan guru. Berita yang dihimpun www.Venezuelanalysis.com tanggal 14 Mei 2009 menyatakan, pemerintah Venezuela menetetapkan 30% kenaikan gaji dan menambah tingkat pendapatan bagi sekitar setengah juta guru yang masih aktif maupun yang sudah  pensiun.

Menurut Menteri Pendidikan Hector Navarro, guru-guru sekolah umum Venezuela sekarang memperoleh lebih dari 700% dari apa yang mereka telah  peroleh sepuluh tahun yang lalu, ketika Presiden Hugo Chávez pertama kali terpilih.

Dalam pernyataan Navarro yang disiarkan oleh TV pemerintah Venezuela, Venezolana de Television, juga mengatakan, guru yang saat ini dalam kondisi semakin baik, tidak hanya dari masalah gaji tetapi juga dalam hal organisasi.

Tidak hanya itu, pemerintah Venezuela juga memberikan jaminan transportasi, kesehatan bagi guru-guru yang masih aktif maupun yang sudah pensiun, dan juga memberikan cuti hamil.

Kebijakan radikal di atas merupakan bukti keberhasilan kepemimpinan revolusioner Chavez yang berorientasi pada kemakmuran rakyat. Kebijakan-kebijakan pro rakyat yang tengah mengumandang di Venezuela tidak terjadi, atau sulit terjadi di banyak negara yang masih menyerahkan semua proses kehidupan rakyatnya kepada mekanisme pasar, tanpa intervensi kuat dari negara.

Melihat kemajuan di Venezuela, Indonesia terlihat masih jauh dari capaian itu. Di Indonesia,  guru merupakan  bagian dari jajaran  pegawai yang bergaji kecil, sangat tidak memadai untuk hidup. Departemen Pendidikan Nasional mencatat jumlah total guru berstatus PNS (Pegawai Negeri Sipil) mencapai 2,7 juta orang (dari SD – SMU). Mereka bergaji antara Rp 1.040 juta per bulan termasuk  tunjangan untuk golongan terendah, I A, dan Rp 3,4 juta per bulan untuk golongan tertinggi, IV E dengan masa kerja 32 tahun. Dengan jumlah tersebut,  seorang  kepala keluarga misalnya dengan tanggungan 2 anak, akan mustahil bisa memenuhi biaya kebutuhan dasar secara layak (rumah sederhana layak huni, makan, pakaian dan pendidikan sampai perguruan tinggi, dan dana asuransi kesehatan yang memadai).

Memang, misalnya pada jaman pemerintahan Gus Dur, guru mendapat kenaikan gaji yang signifikan. Namun kebijakan tersebut masih belum bisa mendongkrak  kesejahteraan guru. Meskipun peristiwa itu pernah menjadi fenomena terbesar dalam sejarah kesejahteraan guru. Nyatanya, tingkat kesejahteraan guru  masih tetap memprihatinkan. Kenaikan gaji di atas laju inflasi tahun 2008, yang mencapai 11,2 %, yang diharapkan bisa menyesuaikan dengan inflasi, ternyata tidak begitu memberi makna apa-apa bagi kesejahteraan guru.

Mengingat jumlah guru PNS cukup besar dalam komposisi PNS, seharusnya bisa mendorong komitmen pemerintah Indonesia untuk segera memperbaiki tingkat kesejahteraan guru. Namun kebijakan pemerintah Indonesia dalam sektor pendidikan sama sekali belum menjawab persoalan yang secara faktual tetap muncul sepanjang sejarah pendidikan Indonesia—besaran  gaji guru tetap tak memadai jika dilihat dari  kenaikan harga kebutuhan pokok dan inflasi serta besarnya tanggung jawab pendidikan (menjaga mutu dan prefesionalisme).

Kebijakan Chaves dalam sektor pendidikan memberikan makna bahwa pemerintah Venezuela dengan program-program sosialisnya bersungguh-sungguh mensejahterakan rakyatnya salah satunya melalui kesejahteraan guru dan kualitas pendidikan. Pada saat krisis finansial,  konsentrasi negara justru  lebih pada pembangunan kapasitas bangsa, bukan pada pembukaan industri berbasis investasi besar yang akan menguntungkan para investor atau pemodal pada skala besar, seperti yang terjadi di Indonesia.

_____________________________________________

Jesus SA adalah  aktivis Hands off Venezuela Indonesia

Buruh Plywood Jombang Bersatu Berlawan Membentuk Serikat Buruh

Oleh Solidaritas Perjuangan Buruh Indonesia (wilayah Jombang)

Situasi politik dan ekonomi Indonesia yang semakin lama tidak menentu ini sangat berpengaruh pada kondisi perburuhan yang semakin lama semakin tidak berpihak pada buruh. Reformasi telah berjalan lebih dari 10 tahun, rejim telah berganti 4 kali, tetapi kebijakan di sektor perburuhan justru semakin parah. Ini bisa dilihat dari kebijakan pemerintah dalam perburuhan dalam satu dekade terakhir, misalkan Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 dan Undang-Undang Nomor 2 tahun 2004. Kondisi buruh lebih mengenaskan dengan kemunculan legalisasi sistem kerja kontrak dan outsorcing di dalam Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003.

Situasi ini lebih parah dengan munculnya paket kebijakan yang dikeluarkan oleh Bappenas (Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional) mengenai kebijakan Labour Market Flexibillity (Fleksibilitas Pasar Tenaga Kerja). Beberapa kebijakan ini akhirnya dijadikan landasan bagi para pengusaha kapitalis untuk menindas buruh.

Menghadapi krisis ekonomi global yang melanda seluruh dunia termasuk Indonesia, pemerintah justru menelurkan satu paket kebijakan yang semakin membenamkan buruh jauh ke dasar jurang kemiskinan. Di antaranya, Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri yang dikeluarkan pada tahun 2008, di mana dalam satu pasalnya menyatakan bahwa kenaikan upah buruh tidak boleh melebihi pertumbuhan ekonomi sebesar 6%. Dibungkus dengan retorika bahwa ini adalah kebijakan yang akan menyelamatkan ekonomi Indonesia, arti sesungguhnya dari kebijakan ini adalah memaksa buruh untuk membayar kegagalan sistem kapitalisme. Krisis ekonomi ini juga dijadikan alasan bagi pengusaha untuk mempekerjakan buruh dengan status kerja kontrak dan membayar upah tidak sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh gubernur.

Satu contoh kongkrit adalah sebagaimana yang dihadapi oleh kawan-kawan buruh PT. Sejahtera Usaha Bersama (SUB) atau biasa disebut PT. Plywood Jombang. Perusahaan ini bergerak di sektor kayu olahan dengan pangsa pasar di Timur Tengah dan mempunyai banyak pabrik di beberapa daerah di Jawa Timur, di antaranya Madiun dan Banyuwangi. PT. SUB yang ada di Jombang mempekerjakan sekitar 3000 orang dengan status kontrak dan harian lepas. Sampai hari ini buruh SUB Jombang belum juga mendapatkan kesejahteraan sesuai dengan haknya yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003, di antaranya menyangkut status kerja. Ada sekitar 200 buruh yang sudah bekerja sekitar 3 tahun lebih tetapi status kerjanya masih kontrak.

Tidak puas dengan penghisapannya terhadap buruh, PT.SUB meminta uang dari buruh yang mau bekerja di perusahaannya berkisar Rp 500 ribu hingga Rp 6 juta. Buruh yang mencoba mempertanyakan status kerjanya diancaman dipecat atau PHK. Padahal sudah terlihat jelas proses pelanggaran normatif yang telah dilakukan oleh pengusaha terhadap buruh tetapi sampai hari ini belum juga ada upaya kongkrit dari Dinas Tenaga Kerja Jombang untuk mengambil tindakan. Inilah yang menjadikan dasar mengapa para buruh hari ini mulai tidak percaya terhadap pemerintah.

Sebagian buruh PT. SUB tidak menyerah begitu saja. Sekitar 1 bulan yang lalu tepatnya 12 April 2009, sekitar 10 orang buruh menghadiri acara pemutaran film dokumenter “No Volveran” yang disponsori oleh kampanye Hands Off Venezuela dan juga SPBI (Serikat Buruh Perjuangan Indonesia). Film “No Volveran” ini menceritakan mengenai proses Revolusi Venezuela dan terutama mengenai perjuangan buruh Venezuela yang menduduki pabriknya setelah pemilik pabrik tidak membayar upah layak kepada mereka. Film ini memberikan semangat kepada kawan-kawan buruh.

Para buruh PT.SUB Jombang mulai tergerak untuk mendirikan serikat dan menggabungkan diri dalam SPBI. Proses bergabungnya kawan-kawan buruh bertujuan untuk mencoba memulai proses perjuangan dalam menuntut hak-haknya yang selama ini belum mereka dapatkan.

Beberapa hal yang hari ini sedang disiapkan oleh kawan-kawan SPBI di antaranya rencana dalam waktu dekat untuk melakukan perjuangan menuntut pihak disnaker melakukan proses verifikasi status kerja yang telah diterapkan oleh perusahaan. Kita akan menuntut status kerja dari sistem kontrak menjadi tetap, dan juga melakukan antisipasi terkait isu yang beredar di kalangan perusahaan yang akan melakukan “efisiensi” (baca PHK) sekitar 200 orang. Meskipun situasi ini sulit bagi kita, tetapi dengan kesabaran dan komitmen kita dalam perjuangan, kita tidak akan menyerah begitu saja; karena kita tidak bisa berharap pada siapapun kecuali dengan semangat solidaritas yang kita punya.

Elit plitik hari ini sama sekali tak menunjukkan keberpihakannya kepada buruh. Ini bisa kita lihat dari kampanye calon presiden dan juga partai-partai politik. Dalam setiap kampanye mereka tidak pernah menyentuh isu-isu perburuhan. Pemilu 2009 bukanlah pemilu rakyat dan juga semakin memperlihatkan bahwa partai-partai yang ada hanyalah sibuk dengan proses pembagian kekuasaan. Tidak ada partai yang mewakili rakyat pekerja. Buruh dan rakyat tertindas lainnya harus membangun organisasi politiknya sendiri yang memiliki program keberpihakan kepada buruh dan rakyat luas.

Untuk itu tidak ada kata lain bahwa hari ini buruh harus mulai sadar dengan kekuatannya dan mulai mengorganisir dirinya karena tanpa organisasi buruh hanyalah bahan mentah untuk dieksploitasi.

Tunduk Ditindas atau Bangkit Melawan

Karena Mundur adalah Bentuk Pengkhianatan.

Kaum Buruh Sedunia Bersatu!

Solidaritas internasional dengan para buruh dari pabrik yang sedang diokupasi di Venezuela

Oleh FRETECO (www.controlobrero.org)
11 Mei, 2009

Kami menyerukan sebuah panggilan kepada rakyat Venezuela, kelas pekerja internasional, dan semua yang mendukung perjuangan emansipasi buruh untuk mengirimkan surat ke Presiden Chavez menuntut diekspropriasinya pabrik Acerven di bawah kontrol buruh,  tidak meninggalkan nasib pabrik Inveval di tangan pasar kapitalis, akhiri sabotase birokrasi, ekspropriasi pabrik Gotcha, INAF, MDS, dan Vivex, dan penyelidikan penuh terhadap pembunuhan Argenis Vazquez.

Akhiri sabotase birokrasi terhadap Inveval!

Nasionalisasi pabrik-pabrik yang sedang diokupasi!

Akhiri pembunuhan pemimpin-pemimpin serikat buruh!

Sebuah panggilan dari FRETECO untuk rakyat pekerja seluruh dunia

Empat tahun sudah berlalu semenjak nasionalisasi pabrik klep Inveval di Venezuela. Semenjak itu, buruh Inveval telah menjalankan pabriknya di bawah kontrol buruh dan menunjukkan jalan ke depan untuk membangun sosialisme di Venezuela. Setelah ekpropriasi pabrik ini pada tahun 2005 oleh Presiden Chavez, para buruh membentuk sebuah dewan pabrik yang anggotanya dipilih secara demokratis dan dapat dipanggil (recall) setiap saat. Dewan pabrik ini bertugas mengkoordinasi produksi. Para buruh juga mengorganisasi sebuah serikat buruh untuk membangun hubungan dengan gerakan buruh yang lebih luas, dan membangun hubungan dengan dewan-dewan komunal di negara bagian Miranda dimana mereka berada. Mereka juga telah mengorganisasi FRETECO (Front Okupasi Pabrik) bersama-sama dengan para buruh dari perusahaan-perusahaan yang sudah diokupasi atau dinasionalisasi (INAF, Gotcha, MDS, Vivex, SIDOR, dan lainnya).

Para buruh Inveval telah menunjukkan bahwa buruh dapat menjalankan sebuah pabrik dengan sukses. Selama 4 tahun, mereka berhasil menghidupkan pabrik ini dengan memperbaiki klep-klep yang rusak, dan telah menyiapkan pabrik ini untuk memproduksi klep-klep baru. Akan tetapi, mereka belum bisa memproduksi klep-klep baru karena hambatan-hambatan yang senantiasa disebabkan oleh para fungsionaris pemerintah, yang secara langsung menyabotase keputusan presiden Chavez. Kaum birokrasi pemerintah tidak ingin kontrol buruh di Inveval berhasil untuk alasan yang sederhana: mereka tidak ingin Inveval menjadi contoh bagi para buruh di pabrik-pabrik lainnya.

Sebuah perusahaan sosialis harus menjadi bagian dari sebuah rencana ekonomi demokratis yang dikoordinasikan dengan perusahaan-perusahaan milik negara lainnya. Ini termasuk memiliki anggarannya sendiri untuk belanja bahan baku, investasi, dll. Tetapi birokrasi pemerintah sedang berusaha mencekik Inveval secara ekonomi. Mereka menolak memberikan Inveval sebuah anggaran untuk tahun 2009. Selain itu anggaran Inveval untuk tahun 2008 masih belum ditransfer. Para buruh Inveval tidak pernah diberi alasan mengapa demikian. Ini berarti, secara de facto, mendorong Inveval untuk bangkrut.

Juga, pada tahun 2009, presiden Chavez memberikan perintah untuk mengekspropriasi pabrik Acerven di Tinaquillo, Cojedes. Acerven adalah sebuah perusahaan yang membuat cetakan, yang bisa membantu Inveval memproduksi klep-klep baru untuk industri minyak. Sampai hari ini, perintah Chavez belum diimplementasikan. Sementara, industri minyak Venezuela (PDVSA, perusahaan minyak negara) mengimpor klep-klep. Ini adalah sebuah bisnis yang besar dan menguntungkan bagi beberapa orang, dan mereka menekan para fungsionaris pemerintah supaya Inveval tidak bisa memproduksi klep-klep baru untuk PDVSA.

Seluruh situasi yang tidak efisien dan sabotase birokratis ini telah menyebabkan kesulitan yang sangat besar bagi para buruh Inveval. Empat tahun setelah ekspropriasi Inveval, para fungsionaris PDVSA (perusahaan minyak negara) dan Kementerian Industri Ringan (Milco) terus mencegah diimplementasikannya perintah Chavez yang akan memungkinkan Inveval untuk berproduksi dengan kapasitas penuh.

Gotcha, INAF, MDS, Vivex

Setelah ekpropriasi Invepal dan Inveval, para buruh dari pabrik tekstil Gotcha, perusahaan perlengkapan kamar mandi INAF, dan perusahaan transportasi MDS juga mengokupasi pabrik mereka. Ini dilakukan sebagai respon atas serangan-serangan yang dilakukan oleh bos mereka, tidak dibayarnya kontribusi Jamsostek, dan dicampakkannya produksi pabrik.

Para pekerja dari perusahaan-perusahaan ini telah menuntut berulang kali supaya perusahaan tersebut diekspropriasi, tetapi sampai sekarang mereka belum menerima jawaban dari kementrian yang bertanggung jawab, Milco. Ada sekitar 150 buruh yang telah bertahan selama 3 atau 4 tahun di dalam kondisi yang sangat sulit.

Lalu juga ada kasus di Vivex, sebuah pabrik suku cadang (otopart) di negara bagian Anzoategui. Pada bulan Nopember 2008, sang pemilik menolak untuk membayar tunjangan buruh secara penuh. Merespon seruan presiden Chavez, yang mengatakan bahwa buruh di perusahaan dimana sang pemilik melanggar hak mereka harus mengokupasi pabrik tersebut, lebih dari 300 buruh Vivex mengambil alih pabrik tersebut. Mereka telah mengokupasi pabrik itu selama 6 blan tanpa menerima gaji sama sekali, dan tanpa menerima respon apapun dari para fungsionaris pemerintah yang memproses kasus mereka.

Ada sebuah urgensi yang besar untuk menuntut ekspropriasi perusahaan-perusahaan ini guna menjamin pekerjaan para buruh dan sumber pendapatan bagi ratusan keluarga.

Pembunuhan pemimpin serikat buruh pabrik Toyota

Para buruh pabrik Toyota, sebuah perusahaan mobil di Cumaná, di negara bagian Sucre, sedang berjuang membela hak negosiasi mereka dan mereka juga bersolidaritas dengan perjuangan buruh Mitsubishi di Anzoategui. Pada tanggal 6 Maret 2009, mereka memutuskan untuk mengokupasi pabrik mereka, sebuah okupasi yang mereka pertahankan selama beberapa minggu.

Pada hari Selasa, 5 Mei, sekjen serikat buruh Toyota (Sintratoyota), Argenis Vazques, dibunuh di dalam perjalanannya untuk bertemu dengan pihak manajemen. Ini adalah kasus pembunuhan pemimpin serikat buruh militan yang baru di Venezuela, setelah pembunuhan 3 pemimpin serikat buruh UNT di Aragua pada bulan Nopember 2008, dan pembunuhan 2 buruh Mitsubishi dan Macusa di tangan polisi di Anzoategui pada bulan Januari 2009 (sebuah serangan yang diarahkan ke kawan Felix Martinez, sekjen serikat buruh Mitsubishi, Singetram). Kita menuntut penyelidikan penuh dalam kasus pembunuhan ini dan mereka yang bertanggung jawab harus diseret ke pengadilan.

Oleh karena itu, kami menyerukan sebuah panggilan kepada rakyat Venezuela, kelas pekerja internasional, dan semua yang mendukung perjuangan emansipasi buruh untuk mengirimkan surat ke Presiden Chavez.

Contoh Surat Solidaritas

Yth. Presiden Hugo Chavez,

Melihat masalah-masalah yang dihadapi oleh para pekerja di pabrik-pabrik yang telah diokupasi di Venezuela, kami meminta anda untuk mengambil solusi yang cepat sebagai berikut:

  1. Ekspropriasi pabrik Acerven di bawan kontrol buruh
  2. Jangan tinggalkan nasib Inveval di tangan pasar kapitalis. Berikan anggaran tahun 2008 dan 2009 kepada Inveval, sebagai bagian dari rencana produksi PDVSA dan Kementrian Pengetahuan dan Teknologi.
  3. Akhiri sabotase birokrasi terhadap Inveval – badan-badan pemerintah harus mengimplementasikan perintah presiden Chavez.
  4. Ekspropriasi Gotcha, INAF, MDS, dan Vivex – untuk mempertahankan pekerjaan dan penghidupan ratusan keluarga.
  5. Hentikan pembunuhan pemimpin-pemimpin serikat buruh – Penyelidikan penuh terhadap pembunuhan Argeniz Vazquez, sekjen serikat buruh Sintratoyota. Mereka yang bertanggungjawab harus diseret ke pengadilan, mereka yang membunuhnya dan mereka yang memerintahnya.

Salam Solidaritas,
………………..

Kirim surat ini ke Presiden Hugo Chavez (presidencia@venezuela.gov.ve) dan ke kedutaan besar Venezuela di Indonesia (evenjakt@indo.net.id, evenjakt@cbn.net.id) dan juga ke FRETECO (frentecontrolobrero@gmail.com)

Solidarity resolution model

Dear Presiden Hugo Chavez,

Knowing of the problems faced by the workers in the occupied factories in Venezuela, we ask you for a quick solution to their problems in the following terms:

  1. The expropriation of Acerven under workers’ control
  2. Do not leave Inveval at the mercy of the capitalist market. For a 2008 and 2009 budget for the company, as part of a plan of production with PDVSA and the Ministry of Science and Technology.
  3. An end to the bureaucratic sabotage against Inveval – State bodies should implement the orders of president Chávez
  4. The expropriation of Gotcha, INAF, MDS and Vivex – for the defence of jobs and livelihoods of hundreds of families.
  5. Stop the killings of trade union activists – Full inquiry into the killing of Argenis Vazquez, general secretary of Sintratoyota – those responsible should be brought to justice, both those who carried out the killing and those who ordered it.

Yours in solidarity,
……………………..

Perspektif Marxis Mengenai Revolusi Venezuela

Oleh : Jesus S. Anam

the-venezuelan-revolution1November tahun lalu, kamerad Jorge Martin, sekretaris internasional Hands off Venezuela (HoV), memberikan buku kepada saya berjudul The Venezuelan Revolution: A Marxis Perspective karya Alan Woods, tokoh sentral International Marxist Tendency (IMT). Buku itu berisikan 14 artikel yang ditulis oleh Alan Woods mengenai realitas politik di Venezuela seputar kegagalan kudeta tahun 2002 dan arah revolusi Bolivarian menuju sosialisme awal tahun 2005. Setelah membacanya, saya membuat sebuah catatan ringkas pandangan brilian Alan Woods mengenai revolusi Venezuela dan menyuguhkannya di forum ini. Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan saya sebelumnya, Kaum Kiri dan Revolusi Venezuela.

Alan Woods menulis sejumlah artikel itu dalam rentang waktu antara tahun 2002 (setelah kegagalan kudeta) hingga tahun 2005. Artikel-artikel dalam buku ini tidak hanya mendiskripsikan sebuah kejadian, tetapi sebuah analisis Marxis mengenai revolusi Venezuela, kelemahan, kekuatan, kontradiksi dan karakter-karakter uniknya.

Dalam buku itu, Alan Woods juga memberi apresiasi yang tinggi terhadap perjuangan rakyat di Venezuela dan melihatnya sebagai jalan menuju revolusi sosialis dunia. Tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa Venezuela adalah jalan utama yang akan menjadi titik tolak pembangunan revolusi dunia, karena kaum pekerja di Venezuela saat ini memiliki kesadaran lebih maju dibanding kesadaran kaum pekerja di tempat lain. Artikel-artikel yang ditulis Alan Woods itu mendorong keterlibatan kaum Marxis, kaum pekerja revolusioner, dan kaum muda militan seluruh dunia dalam proses revolusi di Venezuela dengan media-media yang memungkinkan.

Pandangan politik Alan Woods yang dipaparkan dalam artikel-artikelnya memperlihatkan sebuah sikap politik yang progresif, tajam, dan internasionalis. Woods ingin menyatukan elemen-elemen terbaik dari kaum Marxis seluruh dunia dengan gerakan dan kepemimpinan baru yang revolusioner. Ini merupakan poin yang luar biasa bagi Alan Woods dan IMT karena mampu menjelajah dunia (setidaknya baru sebagian), bergabung dengan gerakan Bolivarian dan memasukkan ide-ide Marxisme ke dalam gerakan tersebut.

Banyak sekali kelompok-kelompok dan partai-partai revolusioner yang skeptis dan dingin terhadap revolusi yang terjadi di Venezuela. Hal ini bukan tanpa sebab. Ada beberapa alasan fundamental yang menjadi sumber keberatan mereka untuk mendukung revolusi Bolivarian. Pertama, sejumlah pemimpin Bolivarian datang dari kalangan militer. Kedua, program Bolivarian, pada tahap awalnya, bukanlah sosialis. Ketiga, Chavez bukan seorang sosialis, tetapi hanya seorang borjuis yang radikal.

Sikap skeptis dan dingin dari beberapa kelompok dan partai revolusioner tersebut berbeda jauh dengan pandangan politik Alan Woods yang menganggap penting keterlibatan kaum Marxis di Venezuela dan seluruh dunia dalam proses revolusi di Venezuela. Bahkan, sebagai cerminan sikap progresifnya, Alan Woods membangun media kampanye solidaritas internasional untuk mendukung proses selanjutnya dalam revolusi di Venezuela, yakni Hands Off Venezuela (HOV).

Dari awal Alan Woods memang telah menganggap penting hal ini. Kaum Marxis tidak hanya mengritik dan berdiri di luar arena sebagai penonton. Tetapi terlibat dan menjadi bagian dari revolusi. Karena tugas krusial yang harus dilakukan oleh kaum Marxis di Venezuela saat itu, sebagai sikap dari kaum Marxis sejati, yakni mempengaruhi gerakan Bolivarian dengan ide-ide Marxis untuk mengarahkan jalannya revolusi ke arah sosialisme.

Gagasan-gagasan maju Alan Woods tercermin dalam setiap artikelnya. Revolusi Venezuela tidak boleh berhenti di tengah jalan dengan membiarkan kelompok sayap kanan yang didukung Amerika Serikat dalam sektor-sektor penting dan menjadi aparatus negara yang kuat yang sewaktu-waktu bisa menggagalkan jalannya revolusi. “Kekuatan kontra-revolusi tidak boleh dibiarkan,” kata Alan Woods. “Mereka semakin putus asa… nekat dan kasar…. Rakyat pekerja harus mengambil alih kepemilikan kapitalis dan meletakkan dasar bagi pembangunan sosialisme. Dengan kemenangan besar atau dalam keadaan buruk sekalipun.” (Bab 9)

Mengenai pengambil alihan kepemilikan kapitalis, Woods menggambarkannya sebagai suatu pekerjaan yang tidak mudah. Hal ini memerlukan kesiapan manajerial dari kaum pekerja, dan juga faktor-faktor lain yang tak kalah berat. Nasionalisasi, menurut Woods, hanya bisa diemban oleh gerakan massa rakyat pekerja yang telah memahami bahwa tidak ada alternatif lain dan yang sudah siap untuk mengambil alih tanggungjawab manajemen. Mereka juga harus siap dengan masalah-masalah dalam mengelola kegiatan-kegiatan produksi. Karena pengambil alihan perusahaan-perusahan asing ke tangan mereka bisa menyebabkan kekurangan bahan baku, pasokan alat-alat untuk produksi, dan tentunya pasar untuk menjual barang-barang produksi.

Woods juga mempresentasikan perlunya menasionalisasi kepemilikan kapitalis melalui cara yang konstitusional. “For the immediate expropriation of the property of the imperialists and the Venezuelan bourgeoisie! The only way to remove the danger of counter-revolution…. An emergency decree to this effect must be put to the National Assembly,” kata Woods, tidak lama setelah kegagalan kudeta tahun 2002. (Halaman 17)

Hal penting lain yang perlu dicermati dalam buku ini, bahwa, secara implisit, Woods juga mengkritisi sikap politik Chavez yang masih cenderung inkonsisten. Dalam bab pembukaan, yang ditulis dari London dan Buenos Aires tidak lama setelah percobaan kudeta tahun 2002, Woods mengkhawatirkan langkah-langkah politik Chavez ke depan. Woods menulis bahwa Chavez cenderung bertindak inkonsisten dan sering memperlihatkan sikap ragu-ragu. Dia terkesan menyia-nyiakan kesempatan dan berusaha berdamai dengan kekuatan kontra-revolusi. (Bab 1)

Kekhawatiran Woods yang diucapkan 7 tahun lalu, meskipun secara eksplisit tidak terbukti, setidaknya menjadi pijakan kita untuk terus bersikap kritis terhadap kebijakan politik Chavez dan proses dari Revolusi Venezuela. Karena masih banyak tugas-tugas revolusi yang belum selesai. Sistem ekonomi Venezuela juga masih didominasi oleh kapitalis. Sebagaimana dikatakan oleh Kamerad Ted Sprague dalam artikelnya yang berjudul Peringatan Kudeta April 2002 di Venezuela dan Kemunafikan Demokrasi Barat, bahwa sistem ekonomi Venezuela masih didominasi oleh kapitalis dan negara Venezuela masihlah berbentuk negara borjuis yang dipenuhi oleh elemen-elemen birokrasi korup dari pemerintahan yang lama, yang secara sengaja menyabotase usaha-usaha Chavez dari dalam.

Premis dasar dari Marxisme yang telah diajukan Alan Woods dalam bukunya itu telah dikonfirmasikan pada tiap-tiap tahap dalam perjuangan rakyat Venezuela, mampu membangkitkan kepekaan politik di kalangan kaum Bolivarian. Studi yang teliti di setiap artikel Alan Woods dalam buku itu akan menjadi referensi guna mengawal revolusi Venezuela.

Hidup Revolusi Venezuela!

Hidup Sosialisme!


Peringatan Kudeta April 2002 di Venezuela dan Kemunafikan Demokrasi Barat

Oleh Ted Sprague*
23 April 2009

Pada 13 April 2002 lalu, sebuah peristiwa bersejarah terjadi di Venezuela. Sebuah era yang baru telah tiba, yang didobrak oleh jutaan rakyat Venezuela dengan gemuruh derap langkah mereka seraya menyerukan: “Kembalikan pemimpin kami!”. Jutaan rakyat Venezuela berbondong-bondong mengepung istana presiden dan menuntut dikembalikannya presiden mereka, Hugo Chavez, yang dua hari sebelumnya diculik oleh para petinggi militer dan pemerintahan terpilihnya dibubarkan oleh kaum borjuasi reaksioner.

Berlagak seperti seorang demokrat sejati, Pedro Carmonas, pemimpin Asosiasi Pemilik Perusahaan mengangkat dirinya sendiri sebagai presiden baru beserta kroni-kroninya dengan secarik kertas dan sebuah pena membubarkan parlemen Venezuela yang terpilih secara demokratis. Media internasional pun dengan segera (seperti sudah terencana sebelumnya) melaporkan kudeta ini sebagai sebuah gerakan popular demokratis.

Sejarah Amerika Latin memang dipenuhi dengan kudeta-kudeta semacam ini yang biasanya diikuti dengan kediktatoran yang kejam di mana puluhan ribu aktivis dibantai. Kudeta terhadap Salvador Allende di Chile adalah salah satu contoh yang paling jelas. Akan tetapi, kali ini rakyat Venezuela tidak akan membiarkan sejarah gelap itu terulang kembali. Tidak kali ini, ketika mereka untuk pertama kalinya telah mencicipi kebebasan dan meraih harga diri yang dulu dirampas dari mereka. Dengan spontan rakyat miskin Venezuela segera memobilisasi diri mereka sendiri. Polisi-polisi dan tentara-tentara yang sebelumnya ditempatkan di sudut-sudut kota guna merepresi rakyat segera mencair dan menguap di hadapan jutaan massa yang turun ke jalan.

Tentara Venezuela pun pecah menjadi dua kubu: di satu pihak, kelompok minoritas yang terdiri dari perwira-perwira tinggi yang mendukung kelas penguasa di Venezuela; di pihak yang lain, mayoritas tentara-tentara bawahan yang berasal dari rakyat miskin yang naluri instingnya harus membela rakyat. Bertahun-tahun disiplin ketentaraan, di mana para tentara digembleng untuk selalu menuruti perintah komandannya, hancur menjadi debu dihantam godam rakyat yang bergerak. Para tentara Venezuela pun kemudian membangkang, menangkapi para perwira tinggi yang melakukan kudeta terhadap Chavez, dan mengembalikan Chavez kepada rakyat Venezuela. Peristiwa yang dramatis itu mengingatkan kita pada puisi Bertolt Brecht, seorang penyair revolusioner dari Jerman Timur:

“General, Your Tank Is a Powerful Vehicle”

It smashes down forests and crushes a hundred men.
But it has one defect:
It needs a driver.

General, your bomber is powerful
It flies faster than a storm and carries more than an elephant.
But it has one defect:
It needs a mechanic.

General, man is very useful.
He can fly and he can kill.
But he has one defect:

He can think.

Dalam bahasa Indonesia:

“Jendral, Tank Anda adalah Sebuah Kendaraan Yang Perkasa”

Ia meratakan hutan dan melindas ratusan rakyat.
Tetapi ia punya satu kelemahan:
Ia membutuhkan seorang sopir

Jendral, pesawat pembom Anda sangatlah hebat.
Ia terbang lebih cepat dari badai dan dapat mengangkut beban lebih berat dari seekor gajah.
Tetapi ia punya satu kelemahan:
Ia membutuhkan seorang mekanik.

Jendral, seorang tentara sangatlah berguna.
Dia dapat terbang dan dia dapat membunuh.
Tetapi dia punya satu kelemahan:
Dia dapat berpikir.

Usaha kudeta dari kelas borjuasi Venezuela ini, yang didukung oleh imperialis Amerika Serikat dan Eropa adalah respon terhadap reformasi-reformasi yang dilakukan oleh Chavez. Saat itu, Chavez hanyalah berusaha melakukan perubahaan-perubahaan kecil: distribusi laba perusahaan minyak negara (PDVSA) yang lebih adil, menggantikan pejabat-pejabat PDVSA yang korup, penggunaan tanah yang lebih adil untuk kaum tani miskin, dan lain-lain. Chavez hanya ingin membuat kapitalisme yang lebih manusiawi. Saat itu, Chavez adalah pengagum “Third Way”nya Tony Blair, Perdana Menteri Inggris saat itu dan pemimpin Partai Buruh di Inggris. “Third Way” adalah sebuah konsep jalan tengah antara kapitalisme dan sosialisme. Chavez belumlah menyebut dirinya sebagai seorang sosialis. Hanya pada tahun 2005 lah dia mengakui bahwa satu-satunya jalan keluar dari kesengsaraan kapitalisme adalah sosialisme.

Tetapi peristiwa kudeta ini mengajarkan satu hal kepada Chavez dan rakyat miskin Venezuela: reformasi kecil pun tidak akan terwujud di bawah kapitalisme karena kaum borjuis nasional dan kaum imperialis tidak akan membiarkannya. Semenjak kudeta April 2002, gerakan di Venezuela semakin bergerak menuju sosialisme. Melalui pecutan konter-revolusi ini, rakyat Venezuela menjadi semakin teguh dan semakin yakin akan cita-cita sosialisme. Tidak ada jalan tengah: sosialisme atau barbarisme!

Di perayaan 7 tahun kudeta di Caracas, pada 13 April 2009, berdiri di bawah spanduk besar yang bertuliskan “Ingat April”, Presiden Hugo Chavez mengatakan, “Saat itu saya adalah rajanya orang bodoh”. Dia merujuk pada keyakinannya dulu bahwa dia dapat mengubah kapitalisme menjadi kapitalisme yang lebih adil dan bekerja sama dengan kaum borjuis oligarki di Venezuela.

Di saat yang sama, media-media Venezuela yang masih dikuasai oleh kapitalis menyebarkan propaganda bahwa tidak ada kudeta pada bulan April 2002. Menurut mereka yang ada adalah gerakan demokratis untuk menerapkan kembali demokrasi sejati. Ya, demokrasi sejati untuk kaum borjuis. Sungguh sudah tidak ada urat malunya, para kapitalis di Venezuela dengan muka yang serius bisa mengatakan bahwa tidak ada usaha kudeta sama sekali. Tetapi kadang-kadang sebuah kebohongan yang diucapkan beratus-ratus kali bisa menjadi sebuah kebenaran bagi sang pembohong itu sendiri. Inilah kebangkrutan dari para kapitalis.

Mereka yang berpendapat bahwa revolusi Venezuela harus berjalan lambat supaya tidak memprovokasi kaum kapitalis adalah orang bodoh yang sebenarnya. Bukankah peristiwa kudeta April 2002 justru menunjukkan sebaliknya? Pemerintahan Chavez hanya ingin perubahan-perubahan kecil dan ini langsung dihantam dengan sebuah kudeta. Justru setelah gerakan Venezuela mengambil langkah yang lebih tegas menuju sosialisme, kelas borjuis ketakutan dan semakin melemah.

Revolusi adalah sebuah pertempuran, layaknya sebuah pertempuran militer. Bila kita menunjukkan kelemahan kita, musuh kita akan semakin percaya diri dan menyerang kita. Tetapi bila kita menunjukkan kegigihan dan bergerak maju, maka kita akan menghancurkan rasa percaya diri musuh kita dan membuatnya tak berkutik.

Apakah sosialisme sudah terwujud di Venezuela? Sayangnya belum. Ini merupakan satu kelemahan dari revolusi Venezuela yang harus dihadapi. 10 tahun sudah berlalu semenjak terpilihnya Hugo Chavez sebagai presiden, 4 tahun semenjak deklarasi Hugo Chavez bahwa revolusi Venezeula adalah revolusi yang bercita-citakan sosialisme, tetapi sistem ekonomi Venezuela masih didominasi oleh kapitalis. Negara Venezuela masihlah berbentuk negara borjuis yang dipenuhi oleh elemen-elemen birokrasi korup dari pemerintahan yang lama, yang secara sengaja menyabotase usaha-usaha Chavez dari dalam.

Pergulatan sengit masih terjadi di dalam gerakan Venezuela. Revolusi di Venezuela belum selesai. Masih ada 3 masalah utama yang harus diselesaikan: 1. Masalah ekonomi di mana industri-industri besar masih dimiliki oleh kelas borjuis; 2. Masalah negara di mana struktur negara Venezuela masihlah warisan lama yang notabene adalah negara borjuis; 3. Masalah kepemimpinan di mana belum ada partai massa revolusioner yang bisa menyatukan kehendak jutaan rakyat pekerja, petani, rakyat miskin, dan rakyat tertindas lainnya ke satu ekspresi politik yang terorganisir (PSUV, Partai Persatuan Sosialis Venezuela, baru saja dibentuk pada tahun 2008 dan merupakan usaha untuk menyelesaikan masalah kepemimpinan ini).

Industri-industri utama dan sistem perbankan Venezuela harus dinasionalisi dan dijalankan di bawah kontrol buruh. Struktur negara borjuis harus dihancurkan dan digantikan dengan sistem kekuasaan yang berdasarkan dewan-dewan komunal dan komite-komite pabrik. Sebuah partai massa revolusioner harus segera dibentuk untuk bisa mengorganisasi dan memimpin revolusi Venezuela ini menuju kemenangan mutlak sosialisme.

Hanya ada dua pilihan untuk revolusi Venezuela: meraih kemenangan mutlak dengan mewujudkan sosialisme atau dikalahkan oleh konter-revolusi dan jatuh ke barbarisme. Krisis ekonomi dunia sekarang ini semakin menajamkan kedua pilihan tersebut bagi Venezuela. Elemen-elemen yang paling maju di dalam gerakan Venezuela semakin sadar akan gentingnya situasi yang mereka hadapi. Gerakan-gerakan okupasi pabrik di bawah kontrol buruh yang dipimpin oleh FRETECO (lihat www.controlobrero.org) semakin menyebar dan menjadi inspirasi bagi pabrik-pabrik lainnya di Venezuela yang dijalankan oleh bos-bos kapitalis. Bahkan gerakan okupasi pabrik di Venezuela telah menjadi inspirasi bagi rakyat pekerja Indonesia dan negara-negara lainnya.

Pada saat yang sama, gerakan-gerakan buruh di negara lain juga akan memberikan dorongan moral pada rakyat Venezuela. Setiap kemenangan yang diraih oleh rakyat pekerja di belahan dunia yang lain dalam melawan kapitalisme akan semakin meneguhkan harapan rakyat Venezuela akan cita-cita sosialisme sedunia, dan juga sebaliknya. Cara terbaik untuk membela revolusi Venezuela adalah dengan membangun revolusi di negara kita masing-masing.

*Ted Sprague adalah aktivis Hands Off Venezuela

No Volveran Inspirasi Bagi Serikat Buruh

Sebuah film dokumenter No Volveran kali ini diputar di Jombang, sebuah kota kecil di Jawa Timur. Film itu merekam perjuangan rakyat Venezuela saat merebut haknya sebagai warga negara dari tangan kekuasaan yang korup. Di bawah kepemimpinan Hugo Chavez, rakyat Venezuela bergerak menuju cita cita masyarakat sosialis. Film No Volveran yang dibuat oleh para aktivis Hands off Venezuela internasional menyuguhkan inspirasi bagi perjuangan buruh melawan kapitalisme.

Sejumlah buruh dan mahasiswa dari Serikat Perjuangan Mahasiswa (SPM) dan Solidaritas Buruh Jombang (SPBJ) dengan seksama menyaksikan jalan revolusi yang ditempuh rakyat Venezuela yang berakhir dengan kemenangan gemilang secara konstitusional. Film itu diputar di aula Universitas Darul Ulum Jombang (UNDAR) pada 12 April lalu. Sebelumya film itu telah diputar di beberapa kota di Indonesia seperti Jakarta dan Bandung

Pemutaran film itu hendak menyampaikan semangat kepada kawan-kawan buruh untuk tidak ragu dalam membangun serikat buruh sebagai alat perjuangan dalam melepaskan diri dari kesewenangan pemilik modal.

Andy Irfan Junaidy, sekretaris jendral Komite Pusat Solidaritas Perjuangan Buruh Indonesia dalam diskusi usai pemutaran film menegaskan, berserikat adalah satu keharusan bagi buruh sebagai alat untuk memperkuat perjuangan buruh, ini bisa dilihat dari pengalaman kawan-kawan buruh di Venezuela yang berhasil melakukan okupasi terhadap perusahaan sebagai langkah menuju cita-cita sosialisme.

Penting bagi kita untuk melihat film ini sebagai bahan perjuangan buruh, tentunya dengan memahami kondisi ekonomi politik di Indonesia yang sama sama dijajah oleh kaum pemodal. Demikian pula situasi politik elektoral di Indonesia yang disetir oleh kepentingan kapitalisme global.

Proses revolusi di Venezuela bisa menjadi inspirasi bagi kita yang meneriakkan revolusi sebagai satu jalan perubahan yang pasti. Kita akan melangkah menuju gerbang perubahan dengan terus meniti jalan panjang perjuangan kelas pekerja menuju cita-cita sosialisme di Indonesia.

Fakta di Venezuela kemudian menjawab keragu-raguan khususnya bagi para buruh di Jombang yang selama ini masih takut untuk berserikat. Perjuangan buruh tidak bisa dilakukan sendirian.

Dalam sesi terakhir diskusi, Andy mengajak kawan-kawan yang hadir dalam acara itu untuk turut serta terlibat dalam proses pembangunan Hands off Venezuela di Indonesia dan bersolidaritas untuk revolusi di Venezuela. (HOV Indonesia)

Kaum Kiri dan Revolusi Venezuela: Sebuah Perspektif

Oleh Jesus SA

Revolusi sosialis di Venezuela merupakan peristiwa politik yang spektakuler. Revolusi ini akan mengguncang dunia kapitalis dan akan menyebar dengan cepat dari tanah Amerika Latin menuju tanah-tanah yang lain. Lahirnya revolusi ini digerakkan oleh tampilnya kepeloporan Hugo Chavez dan didukung oleh kekuatan-kekuatan progresif dari kaum pekerja dan kaum muda militan. Tetapi perjalanan revolusi ini dengan program-program sosialisnya dihadapkan pada situasi yang berat. Musuh-musuh revolusi berdiri menghimpit tidak hanya dari satu arah. Musuh-musuh itu tidak hanya berasal dari kelompok sayap kanan, tetapi juga dari kaum kiri di Venezuela.

Tulisan ini bermaksud mengulas kembali dengan singkat perdebatan yang pernah terjadi diantara kaum kiri di Venezuela mengenai Revolusi Bolivarian. Tulisan ini juga menghadirkan pemikiran Trotsky, salah satu tokoh kunci dalam revolusi Rusia dan juga salah satu teoritikus terbaik Partai Bolshevik — mengenai revolusi.

Keberatan utama dari kaum kiri di Venezuela mengenai Revolusi Bolivarian bisa dirangkum dalam dua peratanyaan penting: apakah sudah saatnya revolusi terjadi di Venezuela? Dan bukankah Chavez berasal dari kelas borjuis?

Untuk menjawab keberatan yang pertama kita bisa masuk dalam tulisan Trotsky ”History of the Russian Revolution”. Dalam tulisan tersebut Trotsky menjelaskan bahwa revolusi adalah situasi dimana massa mulai membawa takdirnya ke dalam tangan mereka sendiri. Pandangan Trotsky tentang revolusi ini bisa memberi penjelasan yang masuk akal mengenai apakah revolusi Venezuela ”sudah saatnya terjadi?”

Menurut Trotsky, ciri utama dari sebuah revolusi adalah massa terlibat langsung dalam peristiwa-peristiwa historis. Dalam keadaan biasa, negara, baik yang menganut sistim monarki ataupun demokrasi, dibentuk oleh para ahli yang terlibat dalam jalur bisnis — para raja, menteri, birokrat, anggota parlemen, dan jurnalis. Tetapi dalam keadaan darurat, ketika kondisi sudah cukup matang, massa tidak bisa menahan lagi untuk menghancurkan seluruh rintangan dan mengeluarkan mereka dari arena politik, dan meletakkan dasar bagi sebuah rejim baru dengan keterlibatan langsung dari massa.

bolivarian-campaignDalam peristiwa politik di Venezuela, tampak sekali kesadaran massa dan partisipasi aktif mereka dalam politik. Dan ini merupakan hal yang paling menentukan dalam Revolusi Venezuela. Dalam keaadaan normal, massa tidak berpartisipasi aktif dalam politik. Kondisi kehidupan di bawah sistim kapitalisme segala duri yang berserakan di jalan tidak bisa disingkirkan. Hari-hari dari kehidupan kaum pekerja, baik fisik maupun mental, sudah sangat lelah. Akan tetapi, dalam situasi kritis, massa akan bangkit semangat revolusionernya dan akan merangsek dalam kancah sejarah. Mereka akan mengambil hidup dan takdirnya ke dalam tangan mereka sendiri dan mengubah sikap pasifnya dengan menjadi pelaku utama dalam proses sejarah. Dan situasi seperti inilah yang tengah terjadi di venezuela.

Sejak percobaan kudeta pada bulan April 2002, jutaan kaum buruh dan massa tertindas tengah bergerak, berjuang keras untuk mengubah masyarakatnya, membela Chavez dengan harapan akan membawa perubahan signifikan. Hal ini sering tidak dipahami oleh gerekan kiri di Venezuela sebagai dialektika sejarah. Mereka juga tidak memahami hubungan dialektik antara Chavez dan massa. Mereka menggunakan pemahaman yang formal dan mekanik mengenai revolusi. Mereka tidak memahaminya sebagai proses dari kehidupan, yang tidak beraturan dan penuh kontradiksi. Ini tidak sesuai dengan ”skema jadi” milik mereka mengenai bagaimana revolusi harus terjadi. Oleh karena itu, mereka menolak Revolusi Venezuela sebagai sesuatu yang harus terjadi.

Untuk memahami revolusi Venezuela, menggeledah peristiwa-peristiwa revolusi sebelumnya merupakan tindakan yang cerdas. Karena kita akan menemukan proses dan karakter yang berbeda-beda dalam revolusi. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Trotsky, masih dalam buku yang sama, bahwa tahapan dalam proses revolusi akan berbeda-beda. Dinamika dalam peristiwa-peristiwa revolusioner tergantung secara langsung oleh kecepatan, intensitas, dan dinamika gairah dalam psikologi kelas-kelas, yang telah membentuknya sebelum revolusi.

Keberatan yang kedua, yakni ”bukankah Chavez berasal dari kelas borjuis?” merupakan cara berpikir yang simplistik. Mereka hanya melihatnya sebagai hitam atau putih, benar atau salah, ya atau tidak, borjuis atau proletar. Jika kita mengkaji dengan cara yang lebih sosiologis, latar belakang sosial Chavez bukanlah borjuis, tetapi dari kelas menengah. Berulangkali dia menyebut dirinya petani. Kelas menengah bukanlah kelas yang homogen. Di lapisan atasnya, seperti jabatan pengacara, dokter, profesor, memang berdiri dekat dengan kelas borjuis bahkan sering menjadi alat dari kepentingan borjuasi. Tetapi di lapisan bawahnya, seperti pemilik toko kecil, petani kecil, para intelektual miskin, berdiri dekat dengan kelas pekerja dan, dalam situasi tertentu, mereka akan mendukung dan terlibat dalam revolusi sosialis.

Originalitas kelas seorang pemimpin tidaklah mengindikasikan sifat kelas dari sebuah partai atau gerakan yang ia pimpin. Sifat kelas sebuah partai atau gerakan ditentukan oleh program, kebijakan, dan basis kelasnya.