Ada Dunia Lain di Luar sana*

Oleh Rulan

“Gimana kesan kalian setelah menonton film NO VOLVERAN ini ? “, tanya Mas Farid Gaban, pemimpin majalah Madina,dan juga pernah jadi redaktur di Majalah Tempo.

Langsung saya jawab:

“Saya terpana, Mas. Ternyata sosialisme bukan utopia ya, bisa diaplikasikan dengan contoh kasus di Venezuela ini”.

Ya benar, film dokumenter buatan handoffvenezuela, sebuah LSM yang mendukung independensi Venezuela dari campur tangan imperialism asing ini benar-benar menggambarkan betapa kekuatan dan persatuan rakyat Venezuela bisa mengusir campur tangan AS dan sekutunya via perusahaan multinasionalnya. NO VOLVERAN adalah film dokumenter yang menyajikan pengalaman empiris Venezuela dalam mewujudkan apa yang Chavez sebut dengan “Sosialisme abad 21?. Film yang disutradarai Melanie Mc Donald ini menyajikan satu model pendidikan politik dalam bentuknya yang populer. Meski berkisah sejarah ringkas Venezuela di bawah kepemimpinan Hugo Chavez, film ini menekankan aktivisme masyarakat Venezuela tentang bagaimana paham Sosialisme dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari di kawasan kumuh perkotaan, gang-gang kecil, dan pabrik-pabrik. Momen kebangkitan masyarakat menentukan model ideologi untuk kesejahteraannya.

Saya terkesan dengan system komunitas yang muncul dari karsa dari bawah yang diterapkan di sana, di tiap kelompok masyarakat di sana dibentuk organisasi mandiri yang pengurusnya dari kalangan masyarakat itu sendiri, mereka membuat radio komunitas sendiri untuk saling berkomunikasi, mereka menentukan apa kebutuhan mereka dan melaporkannya ke dewan yang lebih tinggi untuk mendapatkan dana pemerintah untuk memenuhi kebutuhan mereka tersebut. Mereka punya slogan “DON’T WATCH TV, MAKE IT! “, maka tumbuhlah beberapa stasiun TV komunitas yang berisi acara acara dari mereka oleh mereka dan untuk mereka. Dengan begitu propaganda asing via RCTV dan Globalvision milik perusahaan multinasional asing jadi tidak berguna lagi. Itulah kenapa ketika Hugo Chaves gagal diturunkan oleh para kaum borjuis Venezuela yang bersekutu dengan AS tahun 2002, Hugo Chaves didukung rakyat! Propaganda asing di TV-TV besar tidak mempan untuk membuat rakyat membenci Sang Commandante.

Saya pun kaget ternyata di banyak negara latin khususnya di Kuba dan Venezuela, pelayanan kesehatan dan pendidikan begitu baik, APBN untuk kedua bidang ini sangat besar alokasinya, maka tidak aneh tingkat melek huruf di Negara Fidel Castro dan Hugo Chaves mencapai 100 % ! Anda akan kaget ketika melihat seorang ibu rumah tangga biasa mampu berbicara politik sekualitas aktivis di Indonesia. Mereka menolak pendapat Fukuyama bahwa setelah runtuhnya soviet telah terjadi The End Of History karena hanya system kapitalis yang bisa mengatur dunia. Rakyat Venezuela tanpa banyak teori bisa membuktikan bahwa system sosialisme yang identik dengan kontrol rakyat terhadap Negara pun bisa sejalan dengan demokrasi.

Nasionalisasi perusahaan yang menjadikan komposisi kepemilikan saham menjadi 49% untuk buruh yang bekerja di tempat itu dan 51% untuk pemerintah ternyata bisa diterapkan. Buruh- buruh ternyata bisa juga mengambil alih tugas pemilik, insinyur dan administrator ketika dilatih dengan benar.Mereka lah yang menjalankan perusahaan minyak Venezuela ketika terjadi pemogokan para teknisi dan insinyur sebagai wujud

sabotase mereka guna menggulingkan Hugo Chaves tahun 2002. Sejak saat itu para buruh kalangan kelas bawah lah yang menjadi tulang punggung perusahaan selanjutnya, dan itu pasti karena pendidikan yang baik di sana, sehingga seorang buruh kecil pun dengan mudah dilatih menjadi teknisi, lagi- lagi masalah tingkat pendidikan kan ? Dengan nasionalisasi ini para buruh pun menjadi jauh lebih sejahtera karena memiliki saham di perusahaannya.

Anda pun mungkin akan takjub melihat distribusi makanan bergizi bisa tersebar merata di sana, dengan sistem komunitas tersebut, para aktivis di kalangan mereka mengatur distribusi itu dari pemerintah. Mungkin hanya di Venezuela ada produk makanan yang dibungkus dengan kemasan berisi konstitusi Negara! Anda pun akan kaget ketika masyarakat kecil bergotong royong memperbaiki saluran air mereka dibantu dengan para teknisi yang dibayar pemerintah sehingga masalah urbanisasi dan tata kota menjadi terselesaikan dengan karsa dari bawah. Sekali lagi ini nyata dan bukan teori, Brur !

Saya lalu teringat dengan negara ini, banyak sekali tokoh pergerakan kita yang berpaham sosialisme, ada Bung Hatta dan Bung Syahrir sebagai ikonnya. Bung Hatta yang identik dengan Bapak Koperasi Indonesia tentu tidak menginginkan koperasi hanya sekedar sebagai unit simpan pinjam dan arena mengeruk keuntungan oknum pengurusnya. Kondisi Indonesia dan Venezuela banyak kesamaan, masalah privatisasi perusahaan nasional yang dikuasai pihak asing, masalah kemiskinan, masalah korupsi juga dihadapi Venezuela sebelum era Hugo Chaves. Negara dikontrol oleh oligarkhi kaum borjuis yang menguasai media, dan sumber-sumber ekonomi yang menguasai hajat hidup orang banyak juga dihadapi oleh rakyat Venezuela di jaman Perez, presiden sebelum Hugo Chaves.

Selama ini kita selalu mengidentikkan sosialisme dengan komunisme, padahal dua paham ini sebenarnya berbeda, komunisme biasanya menafikkan demokrasi, Negara dikontrol oleh satu partai politik dominan, dan Negara hanya dikuasai oleh segelintir elit, jadi komunisme identik dengan oligarkhi memang. Sedangkan sosialisme tidak, mereka membolehkan sistem mulipartai, rakyat mengontrol Negara sepenuhnya dan social expense untuk pendidikan dan kesehatan di Negara sosialisme biasanya besar. Orde Baru memang telah membuat bangsa kita membenci sosialisme, mendegradasi Marxisme dan menganggap paham ini anti Tuhan. Hugo Chaves sering mengutip teologi pembebasan yang ada di bible dalam melancarkan promosi sosialismenya. Film ini membuka mata kita untuk membuka kembali pemikiran para tokoh sosialis Indonesia, betapa Bung Hatta dan HOS Cokroaminoto yang sangat shalih keislamannya pun merupakan pendukung sosialisme. Jadi mau kemana kau, Indonesia ?

____________________________

*Disadur dari www.apakabar.ws


1 Comment

  1. Saya berencana membangun tv komunitas di daerah kandanghaur indramayu karena di komunitas nelayan dan petani sangat awam dengan iptek dan siaran dakwah islam. mudah-mudahan rekan-rekan bisa membantu saya di dalam memajukan IPM dan SDM indramayu. Saya tunggu program anda via email : jangkartv@yahoo.com atau silahkan hubungi fauzi : +628170063222. Terima kasih

Leave a Response