Mengenalkan Revolusi Venezuela di Kampus Unibraw

Ditulis oleh Firman Rendi Sutansyah

Di gedung kuliah fakultas teknik Universitas Brawijaya Malang (Unibraw), film dokumenter “Revolution Will Not Be Televised” diputar. Antusiasme peserta nampak terasa saat film sampai di pertengahan durasi, yakni saat kudeta militer untuk menggulingkan Presiden Chavez berlangsung dan kegagalannya yang memalukan.

“Peristiwa kudeta di Venezuela yang saya lihat sekarang berbeda dengan pemberitaan dengan yang selama ini saya dengar. Berbeda dengan sumber-sumber yang saya peroleh di Internet maupun media-media yang lain. Chavez sering digambarkan sebagai seorang diktator yang menakutkan,” kata Kabul, salah seorang peserta bedah film.

Acara bedah film dimulai pukul 19.30. Usai pemutaran film dan sebelum masuk acara diskusi, seorang mahasiswi membacakan puisi perlawanan karya salah seorang seniman Malang, Gareng Tejo Kusumo. Teater monolog yang dikemas dengan sangat apik oleh kelompok teater y.a.o.m.a ini disambut dengan rasa haru dan teriakan histeria dari para peserta bedah film pada saat melewati bait-bait tentang sejarah dan struktur penindasan.

Acara bedah film ini menghadirkan dua pembicara, yakni Jesus S. Anam dari Hands Off Venezuela (HOV) seksi Indonesia dan Andy Irfan Junaidi dari Solidaritas Perjuangan Buruh Indonesia (SPBI). Jesus SA membedah peristiwa politik di Venezuela dari peristiwa Caracazo tahun 1989 hingga kudeta terhadap Chavez tahun 2002.  Menurut Jesus, gelombang revolusioner di Venezuela bertitik tolak pada bulan Februari 1989. Pada tahun tersebut paket kebijakan IMF diperkenalkan. Perkenalan pertamanya adalah dengan menaikan harga minyak dan menghapus subsidi makanan. Hal ini mengakibatkan meningkatnya biaya transportasi umum dan bahan makanan secara massif. Keresahan rakyat terasa sekali di pagi hari saat mereka menuju tempat kerja dengan harga tiket bus yang melambung naik 200 hingga 300 persen. Situasi ini benar-benar melecut kemarahan dan mendorong pemberontakan massa rakyat secara spontan dan tak terorganisir, yang dikenal dengan nama Caracazo, karena terjadi di seluruh penjuru Caracas. Pemberontakan, kerusuhan, penjarahan, dan bentrokan pun kemudian terjadi. Pemerintah kemudian menurunkan tentara untuk menyapu massa. Sekitar 300 sampai 3000 orang tewas, tidak ada yang mengetahui jumlah pastinya.

Kemenangan Chavez di pemilu presiden pada tahun 1998, lanjut Jesus, cukup mengejutkan banyak negara karena ia berani berkonfrontasi secara langsung dengan Amerika Serikat dan berani menolak mentah-mentah semua program yang diusulkan IMF maupun World Bank. Chavez melihat itu semua sebagai program kapitalis yang ingin merampok semua kekayaan yang ada di Venezuela. Jesus juga membedah apa yang sebenarnya terjadi dalam kudeta 2002 di Venezuela, kenapa kudeta itu terjadi, dan bagaimana kudeta itu bisa digagalkan rakyat. Dan lagi-lagi adalah rakyat yang menyelematkan Chavez. Kudeta terhadap Chavez oleh kaum oligarki yang dibantu Washington berhasil digagalkan rakyat yang diorganisir oleh kelompok-kelompok revolusioner yang berada di barisan depan massa.

Sedangkan Andy Irfan Junaidi mencoba untuk mengkorelasikan peristiwa yang terjadi di Venezuela dengan di Indonesia. “Ada yang harus diwaspadai oleh kaum intelektual (mahasiswa,-red),” kata Andy. “Mahasiswa memang bisa menjadi seorang pemimpin yang revolusioner, akan tetapi mahasiswa bisa juga dengan cepat berbalik dan menjadi apatis.” Andy juga mengurai perjalanan sejarah yang terjadi di Indonesia. Menurut Andy, banyak terjadi penghapusan sejarah-sejarah pada masa lalu. Dalam era Orde Baru misalnya, sejarah-sejarah yang dianggap bisa membangkitkan gerakan massa rakyat sengaja dihilangkan dari kampus-kampus. Pada kenyataannya, pada tahun 20-an, banyak sekali tokoh-tokoh progresif yang muncul dari serikat-serikat buruh. “Para buruh mungkin secara intelektual sangat jauh di bawah level para mahasiswa. Akan tetapi, mereka diuntungkan dengan pengalaman secara langsung melawan tekanan kapitalis,” lanjut Andy. Hal ini seperti yang pernah dikatakan Lenin bahwa bobot satu ons pengalaman bisa sama dengan satu ton teori.

Nah, kemudian bagaimana dan apa dampak dari peristiwa besar yang pernah terjadi di Indonesia tahun 1998 lalu, yang sering disebut sebagai reformasi? Menurut kawan Andy, meskipun reformasi sudah berjalan selama 11 tahun, tetapi kita masih jalan di tempat alias tidak ada perubahan yang signifikan. Reformasi hanya menurunkan satu orang penguasa saja. Akan tetapi, watak ideologi bangsa kita tidak berubah, yaitu dari kolonialisme terjerembab menuju neoliberalisme (kapitalisme,-red), dimana pasarlah yang menghidupi kita, dan buruh, petani, serta rakyat miskin secara keseluruhan yang menjadi korban paling awal dari kebijakan ini. Dan fenomena yang menarik dari sebuah negara yang menganut paham neoliberalasme, negara tersebut akan mengalami krisis demi krisis.

Dalam sesi dialog, para peserta diskusi banyak yang melontarkan berbagai pertanyaan, seperti   bisakah di Indonesia melakukan revolusi sama dengan revolusi yang terjadi di Venezuela; apa yang arti dari kata “revolusi”; dll.

Jesus SA mencoba menjawab beberapa pertanyaan yang terkait dengan revolusi. Menurut Trotsky, kata Jesus, ciri utama dari sebuah revolusi adalah massa terlibat langsung dalam peristiwa-peristiwa historis. Revolusi dapat terjadi melalui dua cara: oleh sebuah bangsa yang bersatu seperti seekor singa yang siap menerkam, atau¸ oleh sebuah bangsa di dalam proses perjuangan yang memecahkan bangsa tersebut guna membebaskan bagian terbaiknya yang akan melaksanakan tugas-tugas yang tidak mampu dipenuhi oleh seluruh bangsa. Dalam konteks Indonesia, prasyarat untuk revolusi sudah ada. Krisis kemanusiaan, krisis kepemimpinan, bobroknya lembaga-lembaga negara, pembusukan akut partai-partai borjuis, dan penindasan yang semakin sistematis merupakan prasyarat untuk menggerakkan revolusi di Indonesia. Mengenai kapan akan terjadi revolusi pastinya tidak hanya tergantung pada relasi kekuatan-kekuatan sosial di dalam perjuangan kelas, tetapi juga pada faktor-faktor subyektif, seperti tradisi, inisiatif, dan kesiapan kaum buruh, petani, kaum miskin  untuk berjuang.

Kaum buruh, kaum tani, kaum miskin kota, dan mahasiswa bersatulah!

Leave a Response