Presiden Chaves: Tidak Ada dan Tak Seorang Pun Yang Boleh Menghentikan Revolusi Bolivarian

Ditulis oleh Prensa Latina (Disadur dari berdikarionline.com)
CARACAS: Presiden Venezuela, Hugo Chavez, menegaskan bahwa tidak ada hal atau tak seorang pun yang dapat menghentikan revolusi Bolivarian, sebuah proses perubahan yang diawali sejak satu dekade yang lalu.

Chavez menyerukan untuk memperdalam revolusi dan transpormasi yang sudah berlangsung sejak tahun 1999, dan menambahkan lebih rinci mengenai perencanaan dan penelitian ilmiah. Kami harus menciptakan situasi untuk memperluas sosialisme, dan menggantikan kapitalisme dengan model baru, katanya menegaskan.

Dalam pertemuan kemarin dengan wakil-wakil terpilih dari Partai Persatuan Sosialis Venezuela (PSUV), Chavez mendesak organisasinya untuk bekerja tanpa lelah untuk pemilu Presiden pada tahun 2012. Mengacu pada komposisi baru dalam parlemen Venezuela, yang akan mulai berkantor pada Januari 2011, ia mengatakan bahwa ini akan membuat Undang-Undang lebih revolusioner dari majelis nasional saat ini. Dia menegaskan bahwa sampai sekarang ini proses legislatif akan melanjutkan membuat UU sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Dalam pidatonya yang disiarkan langsung stasiun TV, ia menyerukan untuk merefleksikan kembali hasil pemilihan 26 September, dimana kaum sosialis memenangkan 60% kursi parlemen. Longsoran ini, Chavez berkata, “bagaimanapun, kita akan mengkritik secara mendalam untuk meningkatkan dan memulihkan dimana kita kehilangan untuk menjadi bangun.” Dia menyerukan meningkatan kritik oto kritik dalam jajaran partai dengan meliputi tujuh juta anggota.

Usaha Melemahkan Revolusi

Menurut Gregory Wilpert, analis politik dari Venezuelananalysis.com, sejak pemilu parlemen 26 September lalu kaum oposisi kembali berusaha melemahkan pemerintahan Chavez, setelah sebelumnya pernah gagal; kudeta tahun 2002, sabotase minyak (2003), dan boikot pemilu (2005). Sejak itu, katanya, oposisi mulai mengintegrasikan dirinya kembali ke dalam politik Venezuela, yakni dengan berpartisipasi dalam pemilu Presiden (2006) pemilihan kepala daerah (2008), dan pemilu parlemen baru-baru ini. Selain itu, dengan membentuk persatuan seluruh oposisi di bawah payung aliansi kesatuan baru (MUD), oposisi semakin menyadari bahwa mereka harus bersatu untuk mengefektikan kekuatan dalam melawan Chavez, katanya dalam artikel di Venezuelananalysis.com.

Selain itu, sebuah laporan baru-baru ini menunjukkan, bahwa oposisi sangat rajin menerima dukungan dana dari luar negeri, terutama lembaga yang berpusat di Washington, yang nilainya mencapai puluhan juta dollar per-tahun. Apalagi, seperti dikatakan Gregory Wilpert, di tengah revolusi Bolivarian seperti mengalami keausan, seperti program-program sosial yang buruk pelaksanaannya, persoalan akibat krisis ekonomi, dan kejahatan, semakin memudahkan oposisi untuk melancarkan serangan. Namun, di berbagai pedalaman Venezuela, rakyat masih memperlihatkan kesetiaannya kepada “commandante Chavez”, katanya. “Reformasi tanah, dewan komunal yang memberi banyak kekuatan kepada komunitas mereka, dan banyak program sosial yang sangat berharga bagi komunitas ini,” ujarnya. Gregory menjelaskan, Venezuela adalah negara yang sangat terpolarisasi secara politik, namun tidak dalam populasinya.
Menurut survey, lebih dari sepertiga penduduk yang merupakan pendukung mati-matian Chavez, sementara kurang dari seperpertiga yang menjadi penentang kerasnya. Dan diluar itu adalah bagian penduduk yang diperebutkan Chavez dan oposisi untuk meraih kemenangan. Salah satu partai yang berusaha mengambil keuntungan dari segmen penduduk itu, dengan tidak mendukung Chavez ataupun oposisi, adalah partai PPT (tanah air untuk semua), yang sekian lama menjadi pendukung Chavez, memisahkan diri dari koalisi pro-Chavez pada awal tahun ini dan berusaha, dengan bantuan gubernur sangat populer dari negara bagian Lara, Henri falcon, membentuk segitiga kekuatan berlaku di negeri itu.

Prospek Sosialisme Abad 21

Meskipun hasil perolehan suara relatif sama di kedua sisi, namun oposisi mengklaim bahwa ini merupakan awal untuk mengakhiri Chavez. Pernyataan itu, menuru Gregory Wilpert, tampak masuk akal jika menganggap bahwa Chavez sudah menikmati puncak popularitasnya pada tahun 2006, setelah terpilih kembali sebagai Presiden dengan suara 63%.

Program utama Chavez untuk jangka waktu sampai pemilu berikutnya, adalah melanjutkan upaya membangung “sosialisme abad-21” di Venezuela. Terkait hal ini, Wilpert mengatakan, “tepatnya pengertian ini memang belum jelas, tetapi ada sejumlah indikasi.” Untuk menuju agenda puncak itu, ada program hukum baru di bidang perburuhan, yang tidak hanya akan mendemokratiskan perusahaan negara, tetapi juga perusahaan swasta, melalui dewan-dewan pekerja. Juga memperkuat peran dewan komunal harus diperkuat, khususnya di wilayah kota dan seluruh negeri. Negara juga harus membuat perencanaan ekonomi untuk memperluas industry dan mendukung industry swasta strategis, sehingga negara tidak begitu bergantung kepada minyak.

Banyak pihak di Venezuela, baik dari kalangan oposisi maupun dari sayap moderat di PSUV, berusaha menyakinkan Chavez bahwa alasan kerugian ini adalah karena pendekatan yang terlalu radikal, sehingga direkomendasikan untuk “diperlambat” atau dimoderatkan. Gregory wilpert juga menggaris bawahi sejumlah permasalahan mendasar, seperti pengangguran, ketidakamanan, dan pelayanan pemerintah terhadap orang miskin. Dia menyakinkan bahwa masih banyak orang Venezuela, khususnya kaum miskin, yang bereaksi positif terhadap program Chavez untuk memperdalam demokratisasi ekonomi, media, dan politik, dan ini menjadi alasan untuk melanjutkan mendukung Chavez karena program ini. “Jika Chaves dan pendukungnya bisa tegas menyelesaikan permasalahan mendasar dan program strategis, maka Chavez akan mendapat kesempatan yang sangat baik untuk dipilih kembali pada tahun 2012 dan sekaligus membalikkan oposisi,” usulnya.

Leave a Response