Pemilu 26 September di Venezuela: Revolusi di Persimpangan

Ditulis oleh Ted Sprague

Sungguh satu pengecilan bila kita mengatakan bahwa Pemilu mendatang di Venezuela merupakan persimpangan bagi Revolusi Bolivarian yang telah berlangsung 11 tahun ini. Mungkin akan lebih tepat kalau kita mengatakan bahwa nasib Revolusi Venezuela ada di ujung tanduk. Bahaya kekalahan di dalam pemilu ini sungguh nyata, dan akibatnya akan sangat menentukan kemana arah Revolusi ini bergerak selanjutnya.

Sejarah mengenal berbagai macam transformasi sosial, dan Venezuela adalah salah satunya. Situasi revolusioner yang menggantung sudah berlangsung lebih dari 10 tahun dan belum ada pihak yang benar-benar menang. Massa rakyat pekerja sampai saat ini secara politik masih memegang keunggulan, tetapi belum benar-benar merebut kekuasaan secara menentukan dari tangan kapitalis. Sementara ekonomi jelas masih di tangan kaum kapitalis dan imperialis. Belum pernah ada di dalam sejarah satu situasi berkepanjangan seperti ini.

Pemilu kali ini adalah momen yang penting bagi rakyat pekerja Venezuela. Ini dimengerti benar oleh kaum imperialis dan agen-agen lokal mereka. Sebuah kampanye besar-besaran telah diluncurkan untuk memenangkan pemilu ini. Di media nasional, yang masih dikuasai oleh bisnis-bisnis besar, dan media internasional sebuah kampanye fitnah semakin gencar. Tiba-tiba saja media massa dan tuan-nyonya terhormat ini menjadi khawatir dengan tingkat kejahatan Venezuela. Berbagai macam artikel dicetak untuk menciptakan suasana genting, dimana Caracas digambarkan seperti medan perang dimana setiap saat kamu bisa dibunuh tanpa alasan. Bahkan satu koran mengatakan bahwa kota Baghdad di Irak adalah lebih aman daripada Caracas. Kita bisa yakin kalau tuan nyonya ini akan dengan sukarela pindah ke Baghdad, menjalani kehidupan rakyat jelata Baghdad yang aman dari ancaman bom dan terorisme. Sebelum Chavez berkuasa, siapa yang peduli dengan tingkat kejahatan di Caracas? Yang kebanyakan menimpa rakyat miskin dan bukan orang-orang kaya dengan tembok tinggi dan satpam-satpam pribadi mereka.

Selain kampanye media kotor ini, imperialis AS juga telah mengaktifkan basis-basis militer di Kolombia, Kosta Rika, dan juga berupaya membuka basis militer di Panama. Walaupun secara nyata AS tidak akan mampu mengintervensi secara langsung karena mereka terpuruk dalam peperangan di Irak dan Afghanistan, kehadiran basis-basis ini adalah untuk memberikan bantuan logistik kepada kawan mereka di Kolombia yang berbagi perbatasan dengan Venezuela. Bogota telah meningkatkan provokasinya terhadap Caracas belakangan ini, dan tidak mengherankan kalau ini terjadi pada saat sebelum pemilu yang penting ini.

Namun dari semua serangan yang diluncurkan oleh kelas kapitalis untuk melemahkan Revolusi Venezuela, yang paling berbahaya adalah sabotase ekonomi. Pada analisa terakhir, ekonomi – walaupun bukan satu-satunya faktor – adalah yang menentukan. Ekonomi masih ada di tangan kaum oligarki di Venezuela. Kita ambil satu contoh: distribusi bahan pangan, satu cabang industri yang penting di Venezuela. Tujuh puluh persen makanan masih diimpor dan distribusinya didominasi oleh supermarket-supermarket besar dan monopoli-monopoli bahan pangan. Penimbunan makanan dan sabotase-sabotase lain telah menyebabkan kekurangan persediaan, yang pada gilirannya menyebabkan inflasi. Suasana yang ingin diciptakan adalah kekacauan, dan ini sudah mulai berhasil membuat lapisan-lapisan rakyat pekerja yang lebih terbelakang untuk menarik dukungan mereka terhadap Venezuela.

Selain itu, dari dalam pemerintahan sendiri, birokrasi merajalela yang secara sadar berusaha menghambat laju revolusi. Kita bisa coba bayangkan kalau negara kita sendiri Indonesia sedang dalam proses revolusi dengan terpilihnya pemimpin rakyat seperti Chavez, tetapi fungsionaris-fungsionaris negara masih dipegang oleh birokrat-birokrat sebelumnya di segala tingkatan, dari RT/RW, Kelurahan, hingga Kementerian. Kita bisa yakin kalau orang-orang ini, yang sebelumnya mentalnya adalah mental sogok dan KKN, akan menjadi halangan terbesar untuk revolusi Indonesia. Dan inilah yang terjadi di Venezuela. Walaupun Chavez sudah terpilih, dan banyak fungsionaris negara yang sudah digantikan, hampir semua roda negara masih dijalankan oleh elemen-elemen korup dari rejim sebelumnya.

Sebuah contoh dari sini adalah PDVAL, perusahaan makanan milik negara, yang mengirimkan 1000 ton bahan makanan setiap harinya ke seluruh pelosok Venezuela. Pada akhir bulan Mei tahun ini, ditemukan 2344 kontainer bahan makanan yang disembunyikan oleh manejer-manejer PDVAL yang korup. Ini hanya satu kasus skandal yang besar. Di baliknya adalah ribuan jika bukan puluhan ribu kasus kecil serupa yang perlahan-lahan menggerogoti Revolusi Venezuela.

Pada akhirnya, sebuah Revolusi harus bisa memberikan kesejahteraan kepada rakyat. Dalam bahasa kasarnya, Revolusi harus bisa menaruh sepiring nasi (dengan lauk sehat, dan bukan garam saja) di atas meja rakyat. Eforia rakyat ada batasnya, karena kita tidak bisa hidup dalam eforia saja. Retorika hanya bisa bergerak sejauh mana kondisi objektif mengijinkannya. Keletihan bisa, dan sudah mulai, merasuki batin rakyat pekerja pendukung Chavez.

Dalam pemilu Majelis Nasional bulan ini, kaum oposisi memperhitungkan untuk memenangkan sejumlah besar kursi, walau ada kemungkinan mereka bisa memenangkan mayoritas. Bila yang belakangan ini terjadi, kita bisa pastikan ini akan menandai kemunduran Revolusi. Skenario yang pertama adalah yang paling mungkin terjadi, dengan kaum oposisi meraup banyak kursi, dan ini akan mereka gunakan untuk melakukan manuver-manuver “demokrasi parlementer” – satu keahlian yang sungguh mereka miliki – guna memutar balik semua pencapaian Revolusi. Dengan posisi kuat di parlemen, mereka akan menyabotase kerja pemerintah dan memobilisasi kelas menengah untuk menumbangkan Chavez, secara konstitusional ataupun tidak. Bukankan kudeta April 2002 sudah mengajari kita mengenai ini?

Bila konter-revolusi menang, kita tahu apa yang akan terjadi pada para pendukung Revolusi. Peristiwa 1965 di Indonesia sudah mengajari kita dengan baik apa yang sanggup dilakukan oleh reaksi bila ia meraih kemenangan. Hal yang sama bisa terjadi di Venezuela. Semakin besar arus revolusi, semakin besar juga arus reaksi yang akan menghukumnya bila ia gagal. Ini bukan ditulis untuk menakut-nakuti atau untuk menjadi alarmist. Alarm sudah bergema keras di koridor-koridor White House semenjak Chavez terpilih presiden.

Semua kaum buruh yang sadar di Venezuela berharap bahwa ini tidak akan terjadi. Tetapi harapan tidak akan membuahkan hasil tanpa satu arah yang jelas untuk memenangkan perjuangan ini. Ada dua halangan terbesar dalam Revolusi Venezuela: kepemilikan pribadi (ekonomi) dan keberadaan negara borjuis (birokrasi). Chavez sendiri sudah mengenali masalah ini, tetapi sebesar apapun peran Chavez sampai saat ini, dia hanyalah seorang individual. Ini bukan masalah Chavez, tetapi ini masalah yang harus diselesaikan oleh seluruh elemen-elemen Revolusi.

Tuas-tuas ekonomi harus segera dinasionalisasi di bawah kontrol rakyat pekerja, dan dewan-dewan komunal, yang sudah mulai terbentuk, harus segera menggantikan negara borjuis yang masih bercokol dan menjadi dasar untuk negara yang baru, negara buruh. Ini dua tugas besar yang harus dilakukan bila Revolusi ini ingin menang dan membawa sosialisme sekali lagi ke muka bumi setelah jatuhnya tembok Berlin. Untuk melakukan ini, sebuah partai politik harus ditempa sebagai instrumen pelaksana. PSUV (Partai Persatuan Sosialis Venezuela) lahir di saat Revolusi, dan tidak punya waktu untuk menempa dirinya sebelumnnya untuk menjadi instrumen yang kuat, dan sayangnya ini harus dilakukan justru pada saat-saat genting. Partai massa ini juga menghadapi masalah yang serupa: penyusupan birokrasi. Pertentangan tajam sudah terjadi di dalam tubuh PSUV, antara rakyat pekerja dan elemen-elemen birokrasi pengejar karir. Keberhasilan elemen-elemen revolusioner dalam mengambil alih kemudi PSUV akan menentukan hasil Revolusi Venezuela.

Setiap buruh yang sadar dari seluruh dunia sedang memperhatikan dengan seksama hasil pemilu yang akan datang, dan sudah sepatutnya. Namun tugas kita juga tidak boleh hanya mengamati dan berharap untuk yang terbaik, kita harus sebisa mungkin menyampaikan pesan solidaritas kita kepada saudara-saudari kelas kita di Venezuela, bahwa perjuangan mereka adalah menentukan, dan oleh karenanya kemenangan harus diraih, tindakan tegas harus diambil. Tidak ada ruang untuk bersopan-santun di dalam situasi revolusioner. [ ]

[Untuk menyampaikan dukungan solidaritas pada Pemilu 26 September, bubuhi tandatangan anda melalui kampanye Hands Off Venezuela]

Leave a Response