Mengenal Revolusi Bolivarian Lewat Film

Ditulis oleh Fatkhul Khoir

no-volveran_300x225Di kota industri Gresik, kemarin 18 Oktober 2009, puluhan orang berkumpul untuk menonton dan mendiskusikan film dokumenter No Volveran. Film ini bercerita mengenai Revolusi Venezuela dan perjuangan buruh Sanitarios Maracay ketika menduduki pabrik dan menjalankannya di bawah kontrol buruh. Antusiasme peserta sangat nyata. Ini terlihat dari proses diskusi yang berlangsung usai pemutaran film. Saat diskusi, para peserta berusaha menarik sebuah benang merah dari apa yang telah dilakukan oleh serikat-serikat buruh di Venezuela.

Bedah film yang diinisiasi oleh Solidaritas Perjuangan Buruh Indonesia (SPBI) Komite Wilayah Gresik dan Hands Off Venezuela Indonesia menghadirkan Jesus S. Anam sebagai pembicara. Jesus S. Anam menjelaskan sejarah gerakan di Venezuela dan beberapa hasil perjuangan buruh di sana dan apa yang telah dilakukan oleh kelas buruh di Venezuela bisa menjadi inspirasi bagi buruh di Indonesia, khususnya di Gresik.

Dalam diskusi ini juga muncul refleksi dari peserta diskusi terkait dengan pengalaman gerakan buruh di Gresik. Mereka menyatakan, situasi gerakan buruh di Gresik masih banyak terjebak dalam persoalan normatif dan para pemimpinannya masih banyak didominasi oleh kelompok serikat buruh “kuning”. Walaupun sudah terbentuk seketariat bersama, namun ini tidak serta merta bisa menjawab kebutuhan buruh.

Menurut salah satu peserta diskusi, kondisi politik perburuhan yang semakin lama tidak berpihak pada buruh, dan maraknya outsourcing yang ada di Gresik, ditambah dengan apatisme buruh yang semakin meningkat, telah menjadi kendala utama bagi pembangunan serikat buruh di Gresik. Permasalahan yang cukup mendasar yang dihadapi oleh buruh saat ini adalah belum adanya kepemimpinan politik yang revolusioner sebagai alat perjuangan.

Masih terkotak-kotaknya serikat buruh, menurut peserta yang lain, juga menjadi halangan utama bagi proses perjuangan buruh dalam menggapai cita-cita untuk perubahan. Lebih jauh, menurutnya, bahwa pembangunan aliansi di antara serikat buruh selalu terhambat oleh faktor eksistensi para elit serikat dan juga perilaku yang cenderung pragmatis.

Di akhir diskusi, refleksi atas situasi serikat-serikat buruh yang ada di Gresik telah menguatkan peserta diskusi yang sebelumnya pesimis. Ini terbukti, setelah menonton film No Volveran, ada kesepakatan lanjut untuk merapatkan barisan dengan mengadakan kelas-kelas politik di basis buruh secara regular dua minggu sekali. Peserta diskusi, yang mayoritas buruh, benar-benar mendapatkan angin segar politik—masih ada harapan bagi kelas buruh untuk menggapai cita-cita di masa depan menuju kesejahteraan bersama.

Hidup Sosialisme!

Leave a Response