Peringatan Kudeta April 2002 di Venezuela dan Kemunafikan Demokrasi Barat

Oleh Ted Sprague*
23 April 2009

Pada 13 April 2002 lalu, sebuah peristiwa bersejarah terjadi di Venezuela. Sebuah era yang baru telah tiba, yang didobrak oleh jutaan rakyat Venezuela dengan gemuruh derap langkah mereka seraya menyerukan: “Kembalikan pemimpin kami!”. Jutaan rakyat Venezuela berbondong-bondong mengepung istana presiden dan menuntut dikembalikannya presiden mereka, Hugo Chavez, yang dua hari sebelumnya diculik oleh para petinggi militer dan pemerintahan terpilihnya dibubarkan oleh kaum borjuasi reaksioner.

Berlagak seperti seorang demokrat sejati, Pedro Carmonas, pemimpin Asosiasi Pemilik Perusahaan mengangkat dirinya sendiri sebagai presiden baru beserta kroni-kroninya dengan secarik kertas dan sebuah pena membubarkan parlemen Venezuela yang terpilih secara demokratis. Media internasional pun dengan segera (seperti sudah terencana sebelumnya) melaporkan kudeta ini sebagai sebuah gerakan popular demokratis.

Sejarah Amerika Latin memang dipenuhi dengan kudeta-kudeta semacam ini yang biasanya diikuti dengan kediktatoran yang kejam di mana puluhan ribu aktivis dibantai. Kudeta terhadap Salvador Allende di Chile adalah salah satu contoh yang paling jelas. Akan tetapi, kali ini rakyat Venezuela tidak akan membiarkan sejarah gelap itu terulang kembali. Tidak kali ini, ketika mereka untuk pertama kalinya telah mencicipi kebebasan dan meraih harga diri yang dulu dirampas dari mereka. Dengan spontan rakyat miskin Venezuela segera memobilisasi diri mereka sendiri. Polisi-polisi dan tentara-tentara yang sebelumnya ditempatkan di sudut-sudut kota guna merepresi rakyat segera mencair dan menguap di hadapan jutaan massa yang turun ke jalan.

Tentara Venezuela pun pecah menjadi dua kubu: di satu pihak, kelompok minoritas yang terdiri dari perwira-perwira tinggi yang mendukung kelas penguasa di Venezuela; di pihak yang lain, mayoritas tentara-tentara bawahan yang berasal dari rakyat miskin yang naluri instingnya harus membela rakyat. Bertahun-tahun disiplin ketentaraan, di mana para tentara digembleng untuk selalu menuruti perintah komandannya, hancur menjadi debu dihantam godam rakyat yang bergerak. Para tentara Venezuela pun kemudian membangkang, menangkapi para perwira tinggi yang melakukan kudeta terhadap Chavez, dan mengembalikan Chavez kepada rakyat Venezuela. Peristiwa yang dramatis itu mengingatkan kita pada puisi Bertolt Brecht, seorang penyair revolusioner dari Jerman Timur:

“General, Your Tank Is a Powerful Vehicle”

It smashes down forests and crushes a hundred men.
But it has one defect:
It needs a driver.

General, your bomber is powerful
It flies faster than a storm and carries more than an elephant.
But it has one defect:
It needs a mechanic.

General, man is very useful.
He can fly and he can kill.
But he has one defect:

He can think.

Dalam bahasa Indonesia:

“Jendral, Tank Anda adalah Sebuah Kendaraan Yang Perkasa”

Ia meratakan hutan dan melindas ratusan rakyat.
Tetapi ia punya satu kelemahan:
Ia membutuhkan seorang sopir

Jendral, pesawat pembom Anda sangatlah hebat.
Ia terbang lebih cepat dari badai dan dapat mengangkut beban lebih berat dari seekor gajah.
Tetapi ia punya satu kelemahan:
Ia membutuhkan seorang mekanik.

Jendral, seorang tentara sangatlah berguna.
Dia dapat terbang dan dia dapat membunuh.
Tetapi dia punya satu kelemahan:
Dia dapat berpikir.

Usaha kudeta dari kelas borjuasi Venezuela ini, yang didukung oleh imperialis Amerika Serikat dan Eropa adalah respon terhadap reformasi-reformasi yang dilakukan oleh Chavez. Saat itu, Chavez hanyalah berusaha melakukan perubahaan-perubahaan kecil: distribusi laba perusahaan minyak negara (PDVSA) yang lebih adil, menggantikan pejabat-pejabat PDVSA yang korup, penggunaan tanah yang lebih adil untuk kaum tani miskin, dan lain-lain. Chavez hanya ingin membuat kapitalisme yang lebih manusiawi. Saat itu, Chavez adalah pengagum “Third Way”nya Tony Blair, Perdana Menteri Inggris saat itu dan pemimpin Partai Buruh di Inggris. “Third Way” adalah sebuah konsep jalan tengah antara kapitalisme dan sosialisme. Chavez belumlah menyebut dirinya sebagai seorang sosialis. Hanya pada tahun 2005 lah dia mengakui bahwa satu-satunya jalan keluar dari kesengsaraan kapitalisme adalah sosialisme.

Tetapi peristiwa kudeta ini mengajarkan satu hal kepada Chavez dan rakyat miskin Venezuela: reformasi kecil pun tidak akan terwujud di bawah kapitalisme karena kaum borjuis nasional dan kaum imperialis tidak akan membiarkannya. Semenjak kudeta April 2002, gerakan di Venezuela semakin bergerak menuju sosialisme. Melalui pecutan konter-revolusi ini, rakyat Venezuela menjadi semakin teguh dan semakin yakin akan cita-cita sosialisme. Tidak ada jalan tengah: sosialisme atau barbarisme!

Di perayaan 7 tahun kudeta di Caracas, pada 13 April 2009, berdiri di bawah spanduk besar yang bertuliskan “Ingat April”, Presiden Hugo Chavez mengatakan, “Saat itu saya adalah rajanya orang bodoh”. Dia merujuk pada keyakinannya dulu bahwa dia dapat mengubah kapitalisme menjadi kapitalisme yang lebih adil dan bekerja sama dengan kaum borjuis oligarki di Venezuela.

Di saat yang sama, media-media Venezuela yang masih dikuasai oleh kapitalis menyebarkan propaganda bahwa tidak ada kudeta pada bulan April 2002. Menurut mereka yang ada adalah gerakan demokratis untuk menerapkan kembali demokrasi sejati. Ya, demokrasi sejati untuk kaum borjuis. Sungguh sudah tidak ada urat malunya, para kapitalis di Venezuela dengan muka yang serius bisa mengatakan bahwa tidak ada usaha kudeta sama sekali. Tetapi kadang-kadang sebuah kebohongan yang diucapkan beratus-ratus kali bisa menjadi sebuah kebenaran bagi sang pembohong itu sendiri. Inilah kebangkrutan dari para kapitalis.

Mereka yang berpendapat bahwa revolusi Venezuela harus berjalan lambat supaya tidak memprovokasi kaum kapitalis adalah orang bodoh yang sebenarnya. Bukankah peristiwa kudeta April 2002 justru menunjukkan sebaliknya? Pemerintahan Chavez hanya ingin perubahan-perubahan kecil dan ini langsung dihantam dengan sebuah kudeta. Justru setelah gerakan Venezuela mengambil langkah yang lebih tegas menuju sosialisme, kelas borjuis ketakutan dan semakin melemah.

Revolusi adalah sebuah pertempuran, layaknya sebuah pertempuran militer. Bila kita menunjukkan kelemahan kita, musuh kita akan semakin percaya diri dan menyerang kita. Tetapi bila kita menunjukkan kegigihan dan bergerak maju, maka kita akan menghancurkan rasa percaya diri musuh kita dan membuatnya tak berkutik.

Apakah sosialisme sudah terwujud di Venezuela? Sayangnya belum. Ini merupakan satu kelemahan dari revolusi Venezuela yang harus dihadapi. 10 tahun sudah berlalu semenjak terpilihnya Hugo Chavez sebagai presiden, 4 tahun semenjak deklarasi Hugo Chavez bahwa revolusi Venezeula adalah revolusi yang bercita-citakan sosialisme, tetapi sistem ekonomi Venezuela masih didominasi oleh kapitalis. Negara Venezuela masihlah berbentuk negara borjuis yang dipenuhi oleh elemen-elemen birokrasi korup dari pemerintahan yang lama, yang secara sengaja menyabotase usaha-usaha Chavez dari dalam.

Pergulatan sengit masih terjadi di dalam gerakan Venezuela. Revolusi di Venezuela belum selesai. Masih ada 3 masalah utama yang harus diselesaikan: 1. Masalah ekonomi di mana industri-industri besar masih dimiliki oleh kelas borjuis; 2. Masalah negara di mana struktur negara Venezuela masihlah warisan lama yang notabene adalah negara borjuis; 3. Masalah kepemimpinan di mana belum ada partai massa revolusioner yang bisa menyatukan kehendak jutaan rakyat pekerja, petani, rakyat miskin, dan rakyat tertindas lainnya ke satu ekspresi politik yang terorganisir (PSUV, Partai Persatuan Sosialis Venezuela, baru saja dibentuk pada tahun 2008 dan merupakan usaha untuk menyelesaikan masalah kepemimpinan ini).

Industri-industri utama dan sistem perbankan Venezuela harus dinasionalisi dan dijalankan di bawah kontrol buruh. Struktur negara borjuis harus dihancurkan dan digantikan dengan sistem kekuasaan yang berdasarkan dewan-dewan komunal dan komite-komite pabrik. Sebuah partai massa revolusioner harus segera dibentuk untuk bisa mengorganisasi dan memimpin revolusi Venezuela ini menuju kemenangan mutlak sosialisme.

Hanya ada dua pilihan untuk revolusi Venezuela: meraih kemenangan mutlak dengan mewujudkan sosialisme atau dikalahkan oleh konter-revolusi dan jatuh ke barbarisme. Krisis ekonomi dunia sekarang ini semakin menajamkan kedua pilihan tersebut bagi Venezuela. Elemen-elemen yang paling maju di dalam gerakan Venezuela semakin sadar akan gentingnya situasi yang mereka hadapi. Gerakan-gerakan okupasi pabrik di bawah kontrol buruh yang dipimpin oleh FRETECO (lihat www.controlobrero.org) semakin menyebar dan menjadi inspirasi bagi pabrik-pabrik lainnya di Venezuela yang dijalankan oleh bos-bos kapitalis. Bahkan gerakan okupasi pabrik di Venezuela telah menjadi inspirasi bagi rakyat pekerja Indonesia dan negara-negara lainnya.

Pada saat yang sama, gerakan-gerakan buruh di negara lain juga akan memberikan dorongan moral pada rakyat Venezuela. Setiap kemenangan yang diraih oleh rakyat pekerja di belahan dunia yang lain dalam melawan kapitalisme akan semakin meneguhkan harapan rakyat Venezuela akan cita-cita sosialisme sedunia, dan juga sebaliknya. Cara terbaik untuk membela revolusi Venezuela adalah dengan membangun revolusi di negara kita masing-masing.

*Ted Sprague adalah aktivis Hands Off Venezuela

2 Comments

Leave a Response