Alan Woods akan hadir dalam acara bedah buku tanggal 1 Juli di Caracas

Jesus SA – HOV Indonesia

Pendiri kampanye internasional Hands Off Venezuela dan pimpinan International Marxist Tendency, Alan Woods, akan hadir dalam bedah buku yang berjudul Reform or Revolution, Marxisme and Socialism of the twenty-first century, a response to Heinz Dietrich, dalam acara yang diselenggarakan oleh Gerakan Marxis Revolusioner tanggal 1 Juli 2008 di hotel ALBA, Caracas.

Buku yang akan dibedah ini merupakan respon kritis atas gagasan Heinz Dietrich, Sosialisme Abad 21, yang telah tersiar ke seluruh Amerika Latin. Gagasan tentang sosialisme abad 21 ala Heinz Dietrich ini, menurut Alan Woods, merupakan gagasan yang usang dan utopis, yang beberapa tahun lalu telah dijawab oleh Marx, Engels, Lenin, dan Trotsky.

Dalam buku ini, Alan Woods memberikan analisis yang mendalam atas gagasan-gagasan Heinz Dietrich dan menunjukkan kekeliruan-kekeliruannya. Buku ini juga merupakan aplikasi praktis dari materialisme dialektik dan respon atas tindakan kaum reformis yang hanya akan menyumbat arus gerakan revolusioner dan program-program sosialisme.

Buku Alan Woods ini memuat beberapa bagian: Filsafat dan ilmu pengetahuan; Materialisme historis, ekonomi, sosialisme ilmiah atau utopis; Sosialisme atau Stalinisme; Masa depan revolusi Kuba; Sosialisme atau internasioanalisme; Negara dan Revolusi; dan yang terakhir, Revolusi Venezuela. Ini merupakan versi update karya puncak dari Marxisme, Anti-Duhring, dimana Engels juga pernah memberi respon terhadap seseorang yang mengklaim telah menemukan sesuatu yang baru dan menganggap rendah potensi dan perjuangan kaum pekerja.



Marxisme dan Masa Depan Revolusi Bolivarian

Oleh : Jesus S. Anam

Terpilihnya para kandidat walikota dan gubernur dari Partai Persatuan Sosialis Venezuela (PSUV) telah menyita perhatian seluruh gerakan revolusioner di Venezuela akhir-akhir ini. Ini menunjukkan bahwa rakyat dan kaum pekerja masih tetap kokoh berdiri guna menyelamatkan revolusi.

Survei yang dilakukan oleh Venezuelan Institute for Data Analysis (IVAD) baru-baru ini juga menunjukkan bahwa gelombang massa yang besar masih tetap berada di barisan depan sosialisme. Dukungan atas kebijakan Chavez dan langkah-langkahnya dalam melawan kapitalisme, seperti nasionalisasi pabrik Sidor dan pabrik-pabrik lain, mencapai sekitar 68%. Nasionalisasi di beberapa pabrik semen: setuju 56.0%; tidak setuju 33.3%; abstain 16.0%. Dan mengenai nasionalisasi perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor makanan: setuju 50.1%; tidak setuju 42.1%; abstain 7.8%.

Dari hasil survei ini kita bisa melihat bahwa ada suatu lompatan yang luar biasa, yakni terjadi pengambilalihan monopoli-monopoli besar — sebuah lompatan kesadaran yang tinggi dari rakyat dan kaum pekerja. Data ini juga memberi gambaran bahwa ada situasi yang luar biasa bagi rakyat Venezuela untuk menuju kedamaian yang sempurna — sosialisme. Situasi seperti ini telah cukup memberi pembenaran bagi Chavez untuk mengeluarkan kebijakan mengenai nasionalisasi berbagai sektor bisnis: perbankan, monopoli-monopoli besar, dan tanah-tanah industrial. Dengan dasar ini, rencana-rencana demokratik bisa diimplementasikan, seluruh perekonomian Venezuela akan berada di bawah kontrol rakyat dan kaum pekerja; seluruh rakyat dan kepemimpinan revolusioner mengambil kontrol atas ekonomi-ekonomi kunci dan mengorganisir ekonomi-ekonomi kunci tersebut untuk memenuhi kebutuhan seluruh rakyat, dan bukan untuk kepentingan segelintir golongan, yakni kaum modal.

Ini merupakan buah terakhir dari penderitaan kaum miskin dan kaum pekerja di Venezuela.

Sebuah kekeliruan yang cukup fatal jika percaya bahwa sosialisme bisa dibangun dengan bertahap, melakukan kompromi-kompromi dengan kaum reformis, dan memberi kelonggaran kepada kaum modal. Gagasan yang mempromosikan suatu ekonomi campuran, di mana baik negara maupun sektor swasta memegang peranan penting, bahwa negara yang kuat bisa menggiring dan menstimuli sektor swasta, tidak ada dalam sosialisme. Gagasan ekonomi seperti ini didasarkan pada pikiran ekonom Inggris abad ke-20, John Maynard Keynes, dan terbukti mengakibatkan kesengsaraan dan memimpin letupan inflasi ke seluruh dunia.

Kaum reformis dan sektor-sektor birokratik di Venezuela mencoba membangkitkan kembali kebijakan Keynesian dari kuburnya. Menghidupkan lagi gagasan mengenai ekonomi campuran, bahwa majikan dan pekerja bisa bersama bekerja membangun sosialisme. Sektor-sektor ini yang akan menekan pemerintahan revolusioner ke arah kanan, memainkan terompet bernada sumbang dan membangkitkan kebingungan mengenai sosialisme, yakni sosalisme yang tidak jelas, jenis kolaborasi antara penunggang kuda dengan kuda tunggangan. Kebijakan tipe ini membawa kepada ledakan inflasi hingga 30 % di Venezuela. Jika mereka, yang berada di sektor birokratik, memaksakan garis politik seperti ini guna mempertahankan dan meindungi kawan-kawannya, yakni kaum modal, mereka akan membawa revolusi Bolivarian menuju jurang ngarai yang amat dalam.

Untuk mematahkan arus yang akan memnghanyutkan revolusi, perlu membangun aliansi yang kuat dari gerakan-gerakan politik Bolivarian dengan gagasan-gagasan yang benar. Tindakan Hugo Chavez debngan membaca buku karya Alan Wood, Bolshevism: Road to the Revolution, merupakan contoh dari kejeliannya untuk mencari gagasan yang tepat guna mengeluarkan Venezuela dari ancaman kaum reformis. Buku Reform or Revolution, Marxisme and Socialism of the twenty-first century, a response to Heinz Dietrich akan berkontribusi besar untuk melawan ide-ide kaum reformis seperti Dietrich dan saatnya mengembalikan ide-ide genuine dari sosialisme ilmiah, atau Marxisme.

Salam Solidaritas!

HOV-Indonesia Merangkul Para Seniman Muda Bogor

HOV-Indonesia

Pergerakan politik di Venezuela dan Amerika Latin ternyata tidak hanya diminati dan diperhatikan oleh kalangan aktivis buruh, mahasiswa dan gerakan-gerakan politik revolusioner, tetapi juga diminati dan didiskusikan oleh para pemusik dan para pecinta seni di kota Bogor. Tanggal 7 Juni lalu Koordinator Hands Off Venezuela – Indonesia, Jesus S. Anam, secara khusus diundang oleh para pemusik dan pecinta seni yang menamakan diri “Libertan” untuk menghadiri acara “sore santai” mereka sambil berdiskusi tentang perkembangan politik di Venezuela dan Amerika Latin.

“Diskusi politik sambil minum kopi, makan gorengan, bercanda dan santai, ternyata asyik,” kata Ryan, ketua kelompok tersebut.

Libertan adalah kumpulan para seniman muda jalanan yang ingin mandiri dengan melakukan aktifitas-aktifitas produktif yang bisa menghasilkan uang dengan menciptakan karya-karya kreatif di bidang seni. Selain melakukan aktifitas-aktifitas yang terkait dengan seni, Libertan juga aktif, setiap bulan sekali, mengadakan diskusi tentang politik. “Bagi kami yang merasa terpinggirkan ini,” kata salah seorang anggota Libertan “berkesenian sama halnya dengan berpolitik. Dan kami sedang mendengar ada pergerakan rakyat yang mampu menciptakan revolusi, di Venezuela”

Jesus S. Anam dalam acara diskusi santai ini banyak mengulas tentang pentingnya bersolidaritas dengan Revolusi Bolivarian dan gerakan-gerakan rakyat di Amerika Latin. Karena dengan berdirinya bangunan sosialisme yang kokoh di kawasan ini, akan bisa membantu memperkokoh gerakan-gerakan rakyat revolusioner di kawasan-kawasan lain, termasuk Asia.

Di akhir acara diskusi, antara Libertan dan HOV-Indonesia bersepakat mengadakan diskusi lanjutan guna memperluas pemahaman tentang sosialisme di kalangan para seniman jalanan yang ada di kota Bogor.