Hands Off Venezuela – Indonesia: The Solidarity

Written by Jesus S. Anam*

“Proletariat tidak dapat menggulingkan borjuasi tanpa terlebih dulu merebut kekuasaan politik.” (Lenin, Negara dan Revolusi)

Lukisan besar Revolusi Bolivarian saat ini sedang terpampang di koridor utama sebuah galeri revolusi. Lukisan itu telah memberi ketegasan makna di tengah garis yang kusut dan muram dari sejarah. Ini hasil pertapaan panjang kaum proletar dalam mencari kemurnian—mencari gambaran yang lebih menggembirakan tentang kehidupan manusia.

Revolusi Bolivarian tidak boleh ragu: semangat revolusioner, kebulatan tekad dan seluruh gelora tidak boleh lelah. Ongkos revolusi memang besar, tetapi bukankah setiap revolusi perlu pengorbanan?

Revolusi Bolivarian memang masih harus menemui banyak malam. Ia belum tuntas. Masih banyak persoalan yang belum selesai. Kekuatan kontra-revolusi terus berusaha menggagalkannya. Kampanye yang penuh kebohongan dan informasi yang keliru tentang Venezuela kerap kali menghiasi halaman-halaman berbagai media imperialis untuk santapan publik internasional. Mereka melukiskannya di kanvas kotor dengan bercak-bercak hitam yang menyakitkan. Mereka menciptakan perspektif yang terbalik dari kenyataan yang sesungguhnya. Memberikan bacaan yang salah tentang Venezuela: ada sebuah “rezim” otoriter disana!

Menanggapi hal itu, Alan Woods, editor In Defence of Marxism, mengeluarkan sebuah seruan untuk membela revolusi Bolivarian, untuk menentang intervensi Amerika di Venezuela dan untuk memastikan bahwa serikat buruh dan gerakan buruh di seluruh dunia dapat memperoleh informasi yang benar mengenai apa yang sebenarnya terjadi di Venezuela (baca HANDS OFF VENEZUELA! An appeal to the international Labour Movement )

Seruan ini dengan segera didukung oleh Jeremy Dear (sekretaris jendral British National Union of Journalists) dan sejumlah pemimpin-pemimpin penting serikat buruh di Inggris lainnya. Kampanye ini dengan cepat menyebar ke negara-negara lain di Eropa, Amerika Utara, Asia, dan Afrika (lihat signatures page). Sekarang, kampanye ini memiliki pendukung di lebih dari 30 negara di dunia.

Tanpa mengenal lelah, kami telah mengorganisir aktivitas-aktivitas solidaritas dengan revolusi Bolivarian melalui pertemuan-pertemuan publik, penayangan-penayangan film dokumenter, mengangkat isu ini di dalam gerakan serikat buruh di negara-negara lain, mengorganisir tur-tur untuk pembicara, mendorong resolusi-resolusi di parlemen, dan mengirim delegasi solidaritas ke Venezuela.

Aktivitas kampanye ini telah diakui oleh president Chavez sendiri (baca Chavez backs Hands Off Venezuela campaign) dan wakil-wakil dari Hands Off Venezuela tampil secara menyolok di Pertemuan Sedunia Untuk Solidaritas Dengan Revolusi kedua pada bulan April 2004.

Prinsip-prinsip dasar kampanye Hands Off Venezuela adalah:

  • Pertama, membangun solidaritas dengan Revolusi Bolivarian
  • Kedua, menentang intervensi imperialis di Venezuela
  • Ketiga, menjalin hubungan hubungan dengan gerakan revolusioner dan gerakan serikat buruh di Venezuela.

Hari ini, tanggal 2 Februari 2008, Hands Off Venezuela – Indonesia mengundang beberapa organ kiri revolusioner Indonesia untuk bersama-sama membahas dan terlibat dalam kampanye HOV sebagai usaha mengkonter kampanye anti-Chavez oleh media-media imperialis. Organ-organ kiri revolusioner yang sudah siap terlibat dalam kampanye adalah Rumah Kiri (Media Progresif Kaum Kiri), Perhimpunan Rakyat Pekerja, SERIAL, Resist Book, SMI, KPRM – PRD, Ultimus Bandung, dan beberapa organ kampus revolusioner.

Akhirnya, bagi organ-organ kiri revolusioner Indonesia, tidak ada alasan untuk menolak atau tidak terlibat dalam kampanye HOV mengengingat Venezuela dengan revolusi Bolivariannya adalah wahana belajar bagi kaum kiri dimanapun, termasuk di Indonesia. Kegagalan Revolusi Bolivarian bisa menjadi goresan hitam dan memberi warna yang suram bagi perjuangan revolusioner dimanapun, dan semakin memberi keleluasaan bagi kekuatan borjuis untuk menggencet gerak dari perjuangan rakyat.

Salam Pembebasan!

____________________

*Koordinator Hands Off Venezuela – Indonesia

Belajar dari Kasus RCTV di Venezuela

Written by Indro Suprobo*

Berita menarik yang pantas dicermati dari negeri Venezuela akhir-akhir ini adalah tidak diperpanjangnya ijin siaran Radio Caracas Television (RCTV) yang menuai gelombang protes. Yang lebih menarik lagi dari berita itu adalah bagaimana banyak media memberitakannya. Tidak diperpanjangnya ijin siaran RCTV diberitakan dengan judul-judul yang menarik pikiran, antara lain “Stasiun Televisi Oposisi Ditutup”, “Berakhirnya Pluralisme Media” dan sebagainya. Judul-judul dan isi pemberitaan yang beredar itu telah menciptakan suatu imaji tertentu tentang kebijakan pemerintahan Venezuela di bawah kepemimpinan Hugo Chaves. Beberapa imaji yang muncul berkaitan dengan berita ini antara lain adalah terjadinya pelanggaran hak asasi oleh pemerintah Venezuela, kebijakan Chaves adalah anti demokrasi, dan terjadinya pemberangusan kebebasan bersuara. Pertanyaan yang bisa diajukan di sini adalah apa yang sebenarnya terjadi?

Kebijakan Politik Radikal

Naiknya kepemimpinan Hugo Chaves di Venezuela didukung oleh 63% suara dalam pemilu. Kepemimpinan baru ini telah diikuti oleh lahirnya Konstitusi Bolivarian pada tahun 1999 yang menjadi dasar utama bagi seluruh kebijakan pemerintahan dalam banyak bidang. Pembaharuan-pembaharuan yang dijalankan di atas dasar konstitusi ini oleh karenanya lebih akrab disebut sebagai perubahan revolusioner bolivarian. Perubahan revolusioner bolivarian ini ditandai oleh visi kerakyatan yang diamanatkan oleh konstitusi 1999 yakni tegaknya kedaulatan politik dan ekonomi rakyat Venezuela yang anti imperialisme, demokrasi partisipatif yang membuka ruang luas bagi keterlibatan politis akar rumput, swadaya ekonomi, distribusi yang adil dari pendapatan pertambangan minyak Venezuela dan penghapusan tindakan korupsi.

Visi kerakyatan itu oleh pemerintahan Chaves diwujudkan dalam beragam program kesejahteraan sosial yang meliputi pengadaan transportasi gratis untuk rakyat yang sangat membutuhkan namun tak mampu membayar, penyediaan pelayanan kesehatan masyarakat yang berkualitas dan gratis, perlindungan hak-hak komunitas lokal yang selama ini terpinggirkan oleh kebudayaan dominan, pelayanan perumahan gratis bagi mereka yang miskin, upaya pengadaan kedaulatan pangan yang murah, berkualitas, organik dan bersifat lokal untuk membuka akses nutrisi bagi masyarakat yang tak mampu dan seabrek program lain yang memprioritaskan mayoritas rakyat miskin Venezuela yang selama ini selalu berada di pinggiran kebijakan. Sangat jelas di sini bagaimana kedaulatan dan kesejahteraan rakyat menjadi visi dasar seluruh kebijakan. Tentu saja kebijakan semacam ini sangat menggoncang kemapanan segelintir orang yang telah menuai banyak keuntungan sebelumnya.


Kebijakan tentang Media

Tak dapat disangkal bahwa kebijakan pemerintahan Chaves tentang media selalu harus mendasarkan diri pada Konstitusi Bolivarian tahun 1999. Konstitusi ini mendorong persyaratan yang sangat tegas berkaitan dengan penyelenggaraan lembaga media, terutama oleh lembaga-lembaga swasta. Undang-undang tentang Pertanggungjawaban Media yang berlaku di Venezuela, biasa disebut Ley Resorte, sangat tegas dalam menuntut tanggung jawab sosial dari para penyelenggara media radio dan televisi, dan berorientasi kepada komitmen yang sangat kuat terhadap dua hal mendasar yakni “hak-hak anak” dan “meningkatnya jumlah program siaran yang diproduksi sendiri secara nasional maupun lokal”. Kebijakan dalam hal media ini sangat jelas terkait dengan apa yang disebut sebagai kedaulatan rakyat dalam pelayanan dan produksi media siaran.

Dalam konteks kebijakan inilah ijin siaran RCTV tidak diperpanjang oleh pemerintah. RCTV merupakan stasiun televisi milik swasta yang pada bulan April 2002 terlibat aktif dalam kampanye kudeta terhadap pemerintahan Chaves dan turut memblokir siaran Venezolana de Television, siaran televisi milik pemerintah yang merepresentasikan mayoritas penduduk miskin di Venezuela dengan program siaran unggulan berupa tanya jawab langsung dengan presiden tentang semua persoalan yang dihadapi secara real oleh masyarakat. Alasan yang diajukan oleh pihak pemerintah berkaitan dengan tidak diperpanjangnya ijin siaran RCTV ini adalah untuk mendemokratisasikan gelombang siaran, agar gelombang siaran itu menjadi milik lebih banyak orang yang merepresentasikan kepentingan mayoritas warga Venezuela daripada hanya menjadi milik segelintir juragan media yang melakukan oligopoly dengan dukungan internasional.

Lebih jauh, pemerintah memberikan penjelasan bahwa Channel 2 yang selama ini menjadi milik RCTV tidak ditutup, siaran di gelombang ini tetap akan diteruskan. Hanya ijin siaran yang dimiliki oleh sebuah perusahaan swasta inilah yang tidak diperpanjang, dan sebagai gantinya, ijin siaran itu akan diberikan kepada swasta lain yang lebih dapat mengemban visi konstitusi, atau kepada perusahaan gabungan swasta dan publik, atau kepada perkumpulan kaum pekerja itu sendiri. Pemerintah justru memberikan prioritas dan mendorong para pekerja RCTV untuk mengorganisir diri dalam suatu perkumpulan dan mendapatkan ijin untuk mengelola siaran secara mandiri. Persyaratan dasarnya, program-program siaran yang akan dijalankan mengacu secara tegas kepada komitmen mendasar terhadap dua hal yaitu “perlindungan terhadap hak-hak anak” (program siaran yang edukatif) dan “mendorong peningkatan produksi program siaran mandiri baik lokal maupun nasional”, bukan produk impor yang menyedot biaya mahal, menguntungkan segelintir orang, dan tidak memberi kontribusi ekonomis bagi rakyat Venezuela.

Kebebasan Bersuara

Langkah demokratisasi media yang dijalankan dalam tindakan tidak memperpanjang ijin siaran ini diarahkan untuk membuka ruang lebih luas bagi sebagian besar rakyat yang mengorganisir diri dalam banyak perkumpulan untuk mengekspresikan kepentingannya melalui media siaran. Salah satu hal penting yang dibangun oleh pemerintahan baru dalam kepemimpinan Hugo Chaves adalah dibukanya ruang-ruang pendidikan populer hak-hak rakyat berdasarkan Konstitusi Bolivarian agar mereka lebih mandiri dalam partisipasi aktif berpolitik, dalam memperjuangkan hak-haknya berhadapan dengan kekuatan-kekuatan yang abai terhadap kepentingan mereka, dalam mengajukan alterhatif-alternatif solutif real dan kontekstual berkaitan dengan problem sosial di wilayah masing-masing. Kekuatan politik rakyat semacam inilah yang pada saat terjadi kudeta di bulan April 2002, menjadi kekuatan populis utama yang mampu mengembalikan kepemimpinan dan pemerintahan Chaves. Mayoritas kaum miskin Venezuela yang selama ini tak pernah mendapatkan bagian dari kue keuntungan kekayaan negara ini menjadi subjek pertama yang dipertimbangkan oleh kebijakan sosialisme demokratis Venezuela. Merekalah harta utama bagi gerakan-gerakan pembaharuan populis negeri Venezuela. Apabila gelombang siaran yang selama ini dikuasai oleh sekelompok kecil pemilik saham perusahaan swasta itu ditawarkan kepada 63% rakyat pendukung Chaves yang senyatanya berasal dari beragam latar belakang, bukankah itu berarti membuka keran bagi mereka yang selama ini tak pernah mendapatkan saluran untuk bersuara, mengemukakan cara berpikir sesuai dengan konteksnya, memandang permasalahan sosial real yang dihadapi dari kacamata mereka sendiri, dan tidak didekte oleh sekelompok kecil juragan media pemegang hak gelombang siaran?

Dengan demikian, tidak diperpanjangnya ijin siaran RCTV barangkali dapat dibaca sebagai demokratisasi media, dibukanya lebih banyak kemungkinan bagi mereka yang selama ini kalah untuk bersuara, dan lebih dari itu, kedaulatan rakyat dalam pengelolaan media yang berkomitmen kepada siaran edukatif demi perlindungan hak-hak anak dan peningkatan jumlah program siaran yang mampu diproduksi sendiri secara lokal maupun nasional, mendapatkan lebih banyak jaminan. Bagi mayoritas rakyat miskin Venezuela, barangkali kebijakan ini dipahami sebagai sebuah kebijakan populis. Seandainya kita bertanya kepada Chaves sendiri tentang kebijakan ini, barangkali ia akan menjawab dengan mengutip sebuah ungkapan lama,”Di mana hartamu berada, di situlah hatimu”.***

______________________


*Resist Book

Enam Jam di Caracas

Written by Indro Suprobo*

Bagi orang yang biasa-biasa saja seperti saya, mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi Venezuela secara gratis, merupakan pengalaman luar biasa. Ini terjadi karena undangan seorang teman lama, Alejandro Pino d”Araujo, yang kebetulan mengajar filsafat di College of Social and Humanistic Sciences, Simon Bolivar University. Pada saat itu, Universitas Simon Bolivar menyelenggarakan Workshop National berjudul “Simon Bolivar : The Liberation Movement in Philosophycal and Political Perspective”. Yang menarik dalam seminar itu adalah hadirnya Hugo Chaves, sang presiden, sebagai salah satu narasumber karena dia adalah salah satu mantan mahasiswa yang pernah kuliah di universitas tersebut. Narasumber yang lain adalah Ambrosio Wegemento Segundo, salah seorang murid dari teolog besar penggagas A Theology of Liberation, Gustavo Gutierrez.

Dalam paper setebal 15 halaman yang berjudul Contra l’estigma (Melawan Stigmatisasi), Hugo Chaves menyatakan bahwa selama sekian lama rakyat Venezuela telah berada dalam berbagai macam bentuk penindasan dan penjarahan namun selalu saja mengalami halangan besar untuk melakukan pemberontakan karena sejak kecil, dalam keluarga-keluarga, telah ditanamkan alat sensor yang sangat ampuh yakni kesadaran stigmatis. Kesadaran stigmatis ini telah menumpulkan kesadaran kritis warga masyarakat dan pada gilirannya memupus segala kemungkinan untuk melakukan kritik, perubahan, apalagi pembebasan. Salah satu contoh stigmatisasi itu dialaminya sendiri ketika masih kecil. Keluarga besarnya secara turun temurun menuturkan bahwa kakeknya adalah seorang pembunuh. Setelah dewasa, dengan wawasan dan bacaan sejarah tentang gerakan-gerakan revolusioner di banyak tempat, Chaves menyadari bahwa sebenarnya kakeknya bukanlah seorang pembunuh, melaikan seorang pejuang yang emoh terhadap segala bentuk ketidakadilan di hadapan matanya. Kesadaran yang ditanamkan sejak kecil itu merupakan kesadaran stigmatis yang bertujuan agar orang-orang biasa yang setiap hari hidup dalam kesusahan, tidak menirukan tindakan protes maupun perlawanan seperti para pejuang pendahulu itu. Lebih dari itu, sosialisme sebagai sebuah model pemikiran dan gerakan telah diberi stigma sebagai satu-satunya keburukan pemikiran yang arogan dan terbukti telah bertekuk lutut di hadapan kegagalan besar. Sosialisme lalu dengan mudah telah dilipat-lipat dalam kesadaran hanya sebagai sebentuk komunisme, ateisme, kediktatoran dan represi yang justru menyengsarakan. Itulah stigma terhadap sosialisme.

Karena sebagian besar rakyat Venezuela adalah pemeluk agama katolik Roma, Chaves menggunakan teologi pembebasan Amerika Latin sebagai bahasa komunikasi yang ampuh. Prinsip-prinsip dasar sosialisme memang menjiwai pendekatan teologi pembebasan ini. Ia menyatakan bahwa Yesus dari Nazareth adalah orang yang dalam iman yang besar, melakukan pemberontakan secara individual, social, politis, cultural dan religius pada jamannya. Yesus adalah inspirasi bagi gerakan pembebasan dan revolusi. Yesus adalah tokoh revolusioner dan progresif yang melawan segala bentuk manipulasi, stigmatisasi, akumulasi keuntungan oleh segelintir orang yang menyengsarakan ribuan bahkan jutaan orang yang lainnya. Sebagaimana Yesus telah melakukan revolusi pada jamannya, maka pada saat ini, adalah tugas semua orang yang mengaku sebagai pengikut Yesus, untuk secara radikal melakukan gerakan revolusioner. Setan paling nyata dalam kehidupan dunia sekarang adalah kebijakan politik-ekonomi dan dominasi Amerika yang merampas hak dan menghancurkan kehidupan sebagaian besar warga dunia. Kemiskinan dalam semua dimensinya telah merenggut kehidupan rakyat Venezuela dan rakyat di sebagian besar belahan dunia ini. Kemiskinan adalah sebuah penghancuran terhadap kehidupan manusia dalam banyak sendi. Kemiskinan yang mematikan ini tidaklah sesuai dengan apa dipesankan oleh Yesus yakni hadirnya kerajaan kehidupan. Oleh karena itu, dalam semangat yang sama seperti Yesus, “Kita harus melawan segelintir orang yang terus menerus menghancurkan sebagian besar dunia ini. Sekarang juga harus kita lakukan!”, tegasnya dengan nada tinggi, sorot mata yang menatap tajam karena kesedihan dan komitmen, sambil mengepalkan tangan ke atas. Semua yang hadir tanpa dikomando serentak berdiri dan bertepuk tangan. Saya ikut berdiri di antara mereka yang hadir dengan hati yang luar biasa tergetar. Beberapa yang hadir bahkan meneteskan air mata entah karena kobaran semangat, kemarahan maupun keharuan.

Kampus Universitas Simon Bolivar yang terletak di lembah Sartenejas, dan termasuk daerah kotamadya Baruta, wilayah ibu kota Caracas bagian selatan itu terasa bergetar dalam kemegahan semangat, sesuai dengan nama yang dikenakan padanya, Simon Bolivar, El Libertador, sang pembebas bagi beberapa Negara Amerika Latin. Sesi seminar itu dilanjutkan dengan diskusi kelompok di luar ruangan aula.

Dalam diskusi kelompok, saya mendapatkan tempat diskusi yang cukup menarik, yakni di sebuah gazebo kecil di pinggiran Laguna de los patos, sebuah danau kecil buatan yang indah di dekat pintu gerbang masuk universitas. Danau buatan itu menjadi semakin menarik karena dipenuhi bebek putih yang berenang dan berlompatan di atas air. Laguna de los patos memang berarti “danau bebek”.

Hugo Chaves memang presiden yang tegas dalam prinsip namun sangat low profile. Dengan santainya dia meminta para pengawalnya untuk menikmati danau, sementara dia sendiri menyelonong nimbrung dalam diskusi kecil kami. Salah seorang anggota kelompok diskusi kami adalah seorang Marxis tulen bernama Milan Machovec. Ia adalah seorang profesor senior yang jauh-jauh datang dari Charles University, Praha. Salah satu buku terkenal yang pernah ditulisnya adalah Jesus Fur Atheisten yang diterbitkan oleh Kreuz Verlag Stuttgart, dan diterbitkan dalam bahasa Inggris oleh Darton, Longman & Todd, London dengan judul A Marxist Looks At Jesus.

“Saya sangat sepakat dengan apa yang tadi telah dinyatakan oleh mister Presiden, Hugo Chaves dalam forum. Yesus adalah manusia radikal dan progresif yang dapat menjadi inspirasi bagi gerakan perlawanan saat ini, bukan hanya bagi rakyat Venezuela, melainkan bagi sebagian besar warga dunia yang cenderung mengalami ketidakadilan. Kita semua musti terlibat penuh komitmen di dalamnya”, kata Machovec memulai pikirannya.

“Benar, dan terima kasih tuan Machovec. Anda adalah teman bagi kami, rakyat Venezuela, dan Anda pantas mendapatkan lebih banyak teman dari berbagai belahan dunia kita”, potong Hugo Chaves meneguhkan pernyataannya.

“Tetapi saya memiliki kritik terhadap kekristenan secara khusus berkaitan dengan bagaimana mereka memahami pesan Yesus”, kata Machovec lagi. Teman saya yang sangat katolik, Alejandro Pino d’Araujo tampak serius menantikan tuturan Machovec selanjutnya.

“Pesan Yesus yang asli sebenarnya terdiri dari dua elemen penting”, sambung Machovec. “Yang pertama, Yesus menyatakan bahwa suatu jaman baru sedang datang. Kedatangan jaman baru itu menjadi efektif karena usaha dan kerja keras manusia sendiri. Kedua, jaman baru itu bukan hanya merupakan jaman yang akan datang kelak, melainkan terwujud dalam situasi konkret kekinian hidup kita ini, pada saat sekarang ini dan di sini, serta bersifat imperatif bagi hidup manusia sehari-hari. Oleh karena itu, semua orang yang mengaku sebagai pengikut Yesus sang manusia revolusioner itu, musti mewujudkan daya pembaharuan dan progresivitas itu saat sekarang ini juga dalam konteks yang sangat real ini. Namun sayangnya, daripada mewujudkan daya kekuatan radikal dan progresif bagi penegakan keadilan jaman ini, melawan secara tegas semua yang melakukan perampasan, manipulasi dan peminggiran serta pemiskinan terhadap kemanusiaan, kristianitas telah cenderung membelokkan pesan itu kepada pencapaian kedamaian dan kebahagiaan pada akhir jaman. Dengan cara itu, kekristenan pada saat sekarang ini justru cenderung menawarkan opium atau candu bagi manusia yang lebih asyik dengan kebahagiaan batiniah pribadi tanpa memberi dampak nyata bagi situasi kemiskinan yang akut”.

Semua anggota kelompok tampak serius mencermati jalan pikiran sang profesor yang Marxis dan gandrung kepada Yesus itu. Semuanya masih menunggu-nunggu akhir dari paparan pikiran Machovec. Saya juga demikian.

“Saya percaya bahwa kekristenan tidak mati, melainkan pincang saja. Namun, pesan Yesus itu justru masih sangat hidup sampai sekarang ini. Saya melihat bahwa pesan itu sangat hidup dalam sebagian besar rakyat Venezuela yang menginginkan kehidupan dunia yang lebih adil. Pilihan politik mister Presiden dan rakyat Venezuela adalah bukti nyata”, kata Machovec melambat, mengakhiri paparannya dalam diskusi kecil itu.

Diskusi kecil menjadi semakin hangat oleh beberapa tanggapan kemudian. Contoh-contoh konkret kebijakan politik radikal populis di Venezuela yang lebih dikenal dengan bolivarianisme itu, meneguhkan para peserta diskusi bahwa alternatif itu sangat mungkin dan sangat terbuka. Namun alternatif itu membutuhkan komitmen yang besar dan kerja keras serta kerjasama yang lebih luas. Sebagaian kecil warga tentu masih saja ada yang tak sepakat dengan ini karena mereka telah lama menikmati untung tanpa peduli kepada sebagian besar lain yang buntung.

Jam makan bersama menjadi penentu berakhirnya diskusi kelompok kecil ini. Semuanya menuju ke tempat perjamuan lalu pulang ke tempat masing-masing. Saya masih punya waktu dua hari dan menginap di rumah teman yang mengundang saya itu. Rumah si Alejandro Pino d’Araujo itu kecil dan sederhana namun sangat nyaman. Kasurnya yang empuk dan pepohonan sejuk di sekitar kamar membuat saya cepat tertidur. Namun ternyata, ketika bangun tidur, saya sudah berada di rumah sendiri, di pinggiran desa Ngaglik, Sleman.

“Kamu tidur pulas sekali siang ini”, kata isteri saya sambil mengenakan pakaian sehabis mandi sore. Saya merapikan buku-buku yang tersebar di tempat tidur lalu berangkat mandi. Ah….hari minggu yang segar… dan mimpi yang indah.***

_____________________

* Resist Book

Sumbangan Revolusi Venezuela kepada Rakyat Dunia

-Mengapa kaum gerakan di Indonesia harus bersolidaritas-

Written by Zely Ariane*

Tulisan ini merupakan pokok-pokok pikiran yang mendukung pembangunan Sosialisme Abad 21 di Venezuela. Sumbangan penting Revolusi Venezuela terhadap masa depan perjuangan sosialisme di dunia menuntut tanggung jawab gerakan revolusioner di seluruh dunia untuk memertahankan dan memajukan proses revolusioner di negeri itu; sekaligus membangun solidaritas diantara kaum kiri dan gerakan rakyat di negeri kita sendiri terhadap Revolusi Venezuela.

Sekarang, alternatif itu ada; mari mempertahankan dan memajukannya.

Ada Alternatif

Neoliberalisme telah kehilangan legitimasi dan landasannya, sejak ia tidak bisa “membebaskan pasar dan membiarkan tangan-tangan tak terlihat melakukan pekerjaan” untuk mengglobalisasikan kesejahteraan. Neoliberalisme telah mengkhianati filosofinya sendiri dan terpaksa kembali pada tipe Negara Kesejahteraan (Keynesianism) demi terlihat lebih manusiawi dan dermawan. Millennium Development Goals (MDGs), Corporate Social Responsibility (CSR), sokongan terhadap kebijakan Mikro Kredit (paling jauh) semacam Greemen Bank, adalah diantara formula klise mereka untuk mempertahankan sistem (kapitalisme), namun, tak pernah bisa menanggulangi globalisasi kemiskinan dan kehancuran tenaga produktif dunia saat ini.

Namun sekarang, dunia sudah berubah dan neoliberalisme sedang dipertanyakan. Revolusi Venezuela (bersamaan dengan kemajuan sosialisme Kuba) telah mempercantik dunia, membuat suatu (sistem) alternative menjadi mustahil dan menggugat apa yang dianggap oleh perspektif dominan sebagai akhir dari sejarah. Seiring perlawanan terhadap neoliberalisme di banyak tempat di dunia, perluasan alternative Venezuela telah menjadi isu besar diantara gerakan social: suatu alternative yang mengembalikan revolusi dan sosialisme ke dalam agenda perjuangan rakyat.

Revolusi Venezuela telah memutus rantai involusi di bawah neoliberalisme; merevolusionerkannya melalui proses transfer kekuasaan ke tangan rakyat (dengan demokrasi langsung dan partisipatif) serta mendistribusi kepememilikan pribadi (baik secara bertahap maupun simultan) yang membuka jalan bagi sosialisme abad 21. Sosialisme ini harus sanggup memberi jawaban kongkret bagi kemajuan tenaga produktif yang telah dihancurkan oleh kapitalisme yang rakus di banyak negeri di dunia ketiga; meningkatkan produktivitas rakyat yang selaras dengan keberlanjutan lingkungan; memperjuangkan suatu demokrasi langsung yang partisipatif untuk membangkitkan kesadaran rakyat atas kekuatannya sendiri untuk mengatur Negara dan kehidupannya.

Proses revolusioner yang menempatkan Chavez-Venezuela-Sosialisme Abad 21 sebagai suatu pilihan tandingan dari Bush-Washington-Neoliberalisme, bersamaan dengan kemajuan di Kuba, Bolivia, dan Ekuador, telah menginspirasi banyak kekuatan demokratik dan revolusioner di seluruh dunia. Pada kenyataannya, ada pusaran baru di dunia saat ini; pusaran alternative yang harus dibela oleh kaum kiri dan gerakan social di seluruh dunia.

Sumbangan Revolusi Venezuela

Revolusi sosialis dalam pengertian kongkritnya berupa sosialisasi kepemilikan pribadi, transformasi kesadaran dan kebudayaan, serta peningkatan tenaga produktif, sedang berkembang di Venezeula. Melalui apa yang disebut ‘revolusi damai’, proses tersebut terus berlanjut dan membuat yang dianggap mustahil menjadi kenyataan. Momen-momen penting dan menentukan dalam tahap revolusi adalah 13 April 2002—ketika mobilisasi jutaan rakyat miskin Venezuela berhasil mengalahkan kudeta oposisi sayap kanan—serta keberhasilan perjuangan melawan pemogokan para pemilik bisnis di akhir tahun yang sama.

Sejak itulah, proses revolusioner semakin ditingkatkan, meski beberapa pendapat menganggapnya masih terlalu lamban. Karena sosialisme tidak terjadi lewat dekrit atau deklarasi—walau Chavez sudah mendeklarasikannya di akhir Desember 2005—maka pemahaman terhadap proses revolusi Venezuela sangatlah penting dalam rangka menentukan kesimpulan bersama yang bermanfaat bagi kampanye sosialisme.

Pemenuhan kebutuhan darurat rakyat bukanlah hal mudah bagi negeri-negeri miskin di bawah imperialisme. Kontradiksi antara satu kebijakan dengan kebijakan lainnya membuat propaganda social demokrasi hanya di atas awan. Seperti itulah nasib yang akan terjadi pada masa depan kebijakan MDGs; suatu pajangan ‘niat baik’ di bawah liberalisasi pasar domestic, liberasilisasi pendidikan, kesehatan, perumahan, pertanian dst, di bawah dikte institusi keuangan internasional dan perancang ekonomi konsensus Washington. Venezuela telah meninggalkan involusi ini, dan meradikalisir proses perubahan negerinya dengan memutus hubungan dengan IMF dan Bank Dunia, serta pengambil-alihan alat produksi dari tangan imperialis.

Misi-misi sosial (Missions) Venezuela merupakan program-program transisional darurat untuk memenuhi kebutuhan darurat rakyat sekaligus meningkatkan kapasitas tenaga produktifnya. Sekilas tampak mirip dengan kebijakan-kebijakan sosial demokrasi (Negara kesejahteraan), namun memiliki perbedaan mendasar dalam karakter politiknya, yakni partisipasi/inisiatif rakyat dan sumber pembiayaanya. Misi-misi tersebut dibiayai langsung dari pemasukan minyak (yang sudah dinasionalisasi) dan diatur sendiri oleh rakyat (tidak ada institusi ‘formal’ pemerintah terlibat) melalui berbagai komite seperti komite kesehatan; pendidikan; makanan; perumahan, pertanian, dst.

Penguasaan alat produksi dan distribusi kepemilikan pribadi berlanjut. Dalam beberapa kasus (seperti di Invepal—pabrik kertas, dan Alcasa—pabrik alumunium), tingkat dan tipe penguasaan buruh terhadap produksi dan distribusi pabrik berbeda satu dengan lainnya (lihat wawancara dengan Rafael Rodriguez oleh International Viewpoint, bulan Oktober 2006). Di sector pertanian, reforma agrarian tak hanya meliputi distribusi tanah pada para petani tak bertanah, namun juga peningkatan teknologi dan system produksi pertanian.

Peningkatan tenaga produktif dan teknologi. Venezuela sekarang adalah negeri kedua di dunia (setelah Kuba) yang bebas buta huruf. Program-program peningkatan penguasaan teknologi seperti perangkat lunak gratis, komputerisasi tingkat sekolah dasar, produksi komputer dalam negeri , merupakan sebagian dari langkah-langkah pentingnya.

Praktek demokrasi partisipatoris dan kekuasaan kerakyatan sekarang mulai menantang demokrasi perwakilan. Meski belum begitu jelas bagaimana mekanisme nasional dan otoritasnya terhadap pemerintah, pembentukan ribuan Dewan-dewan Komunitas (lokal) merupakan langkah yang menguntungkan.

Poros internasionalisme baru telah berdiri. Alternatif Bolivarian untuk Amerika Latin (ALBA) dan Bank Selatan (Bancosur) merupakan kampanye yang penting untuk membangun solidaritas yang progressif diantara negeri-negeri miskin di selatan.

Kerja Solidaritas

Pekerjaan solidaritas terhadap pembangunan sosialisme di Venezuela (dan Kuba) adalah tugas penting yang menentukan sukses tidaknya perjuangan untuk pembebasan nasional dan sosialisme di negeri-negeri dunia ketiga. Kekalahan sosialisme di Venezuela akan memundurkan perjuangan untuk sosialisme di negeri manapun di dunia.

Di Indonesia, selama 33 tahun rezim diktator Soeharto berkuasa, telah berhasil menghapus memori sejarah rakyat Indonesia dari pengalaman-pengalaman sejarah revolusionernya; gagasan-gagasan kiri dan sosialis yang subur di masa-masa pergerakan nasional (paruh pertama abad 20) hingga sebelum 1965, hampir-hampir mati potensi. Terima kasih kepada Revolusi Kuba, Revolusi Sandinista, kemenangan Front Popular di Chile, termasuk kemenangan rakyat Vietnam, yang turut menyumbang inspirasi pada kebangkitan kesadaran politik kiri-kerakyatan mahasiswa di era 1970-an, melalui berbagai kelompok studi dan ruang-ruang diskusinya.

Setelah Soeharto dijatuhkan, dan hampir 10 tahun reformasi berjalan, ruang-ruang keterbukaan yang berhasil diperjuangan gerakan mahasiswa dan rakyat belum berhasil dimanfaatkan untuk meluaskan kampanye mengenai kebutuhan dan pembangunan kekuasaan alternative. Banyak aktivis gerakan radikal yang popular di era 90-an (termasuk pimpinan-pimpinan Partai Rakyat Demokratik—PRD, tokoh-tokoh LSM, tokoh-tokoh mahasiswa) , terkooptasi ke dalam politik parlementer di bawah bendera pemerintahan rezim neoliberal, partai-partai sisa lama dan reformis gadungan.. Situasi tersebut telah memperlambat perjuangan untuk menuntaskan reformasi dan mengampanyekan suatu politik alternatif.

Apa yang terjadi di Venezuela di akhir tahun 90-an (1998 dan 1999) serupa dengan situsi politik di Indonesia saat ini, yang ditandai dengan kekecewaan rakyat pada partai politik tradisional. Namun, di Indonesia tidak ada elit politik dan partai politik sisa lama (Orde Baru) dan reformis gadungan di Indonesia yang menyatakan keberpihakan terhadap pembebasan rakyat miskin, seperti yang dikatakan Chavez di banyak pidatonya bahwa pembebasan rakyat miskin adalah satu-satunya cara untuk membangun sebuah bangsa.

Ditengah situasi inilah pekerjaan solidaritas untuk revolusi sosialis di Venezuela mendapatkan momentumnya. Kaum aktivis gerakan (kiri) di Indonesia (seharusnya) merupakan mereka yang berkepentingan untuk menyebarluaskan gagasan-gagasan revolusi Venezuela; meluruskan propaganda sesat tentang demokrasi dan Chavez dari tangan elemen-elemen sisa lama (orba) dan tentara di Indonesia.
Propaganda sesat yang dilancarkan kekuatan lama di Indonesia terhadap Venezuela saat ini adalah, bahwa kesejahteraan rakyat dapat dicapai tanpa demokrasi; dan tentara adalah elemen penting yang berkesanggupan melakukan perubahan. Termasuk di antara elemen sisa orba tersebut adalah Prabowo—pelaku penculikan aktivis gerakan 90-an—dan Wiranto—mantan Jenderal pelanggar HAM—yang mencoba masuk dalam politik nasional kembali dengan menunggangi perubahan di Venezuela di bawah kepemimpinan Chavez.

Demikian pula para politisi reformis palsu seperti Amien Rais—mantan ketua MPR—dan beberapa anggota DPR dari partai-partai reformis gadungan semacam partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan (PDIP), yang mulai bersuara mengenai nasionalisasi minyak Venezuela. Mereka khususnya mengambil contoh renegosiasi kontrak karya terhadap perusahaan minyak asing di Venezuela. Tapi tentu saja, mereka tidak bicara mengenai demokrasi partisipatif; nasionalisasi di bawah kontrol buruh (rakyat); referendum; dewan-dewan komunal sebagai elemen yang paling penting dari revolusi Venezuela.

Dalam kepentingan inilah pekerjaan solidaritas terhadap Revolusi Venezuela dapat sekaligus memberikan landasan bagi perjuangan pembebasan nasional di Indonesia, yakni perjuangan pembebasan rakyat miskin oleh kekuatan rakyat miskin sendiri. Revolusi Venezuela merupakan bukti bahwa berjuang (untuk perubahan yang mendasar) tidaklah mustahil; bahwa rakyat bisa melakukan perubahan dengan kekuatannya sendiri; bahwa mobilisasi kekuatan rakyat sendiri adalah senjata paling ampuh untuk merebut kekuasaan. Inilah senjata utama revolusi yang tidak boleh dilucuti oleh politik kooptasi dan kooperasi dengan musuh-musuh rakyat.

Banyak kalangan yang skeptis mengatakan bahwa tidak mungkin Indonesia bisa mencontoh Venezuela, oleh karena latar belakang sejarah, ekonomi dan politik yang berbeda. Pertanyaannya adalah, mengapa tidak mungkin? Mengapa membatasi diri? Dalam logika yang sama, banyak masyarakat klas menengah Indonesia tak segan untuk dengan terbuka berkiblat pada mimpi-mimpi Amerika atau Eropa yang bisa maju karena kolonialisme dan imperialisme modern. Atau kagum pada China dan India yang bisa besar karena mengambil madu dari perjalanan sejarah bangsanya yang revolusioner—dari Revolusi Kebudayaan Mao Tsetung dan militansi Gandi. Para pejuang pergerakan nasional Indonesia pun mengambil manfaat sebesar-besarnya dari Revolusi Rusia 1917 dan Nasionalisme Tiongkok, untuk pergerakan rakyat yang lebih modern demi perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Mengapa kita takut untuk membebaskan diri mempelajari Revolusi yang terjadi Venezuela, Kuba, dan Bolivia? Apakah ketakutan itu akibat prasangka terhadap sosialisme yang dijadikan hantu berpuluh-puluh tahun oleh rezim Soeharto? Atau karena kita terperangkap oleh sistem ‘bebas nilai’ dunia akademik yang palsu? Bila benar demikian, maka tamatlah riwayat kita sebagai manusia berilmu yang bertanggung jawab untuk merubah situasi dunia menjadi lebih baik dan manusiawi.

Untuk kepentingan inilah Solidaritas Rakyat Indonesia untuk Alternatif Amerika Latin (SERIAL) didirikan pertengahan tahun 2006 lalu. Meski belum maksimal dalam perluasan propaganda, beberapa aktivitas yang sudah dilakukan antara lain:

Kegiatan penerbitan

  1. Buku: “Perubahan Sejati Terbukti Bisa”, Pidato Presiden Venezuela Hugo Chavez di depan Majelis Nasional bulan Januari tahun 2005. Diterbitkan dalam bahasa Indonesia bulan Agustus 2006.
  2. Pamflet: “Strategi Pembangunan Gerakan Perempuan dalam Revolusi Bolivarian”, diterbitkan bulan November, 2006.
  3. Mendukung penerbitan buku: “Memahami Revolusi Venezuela”, Wawancara Martha Harnecker dengan Hugo Chavez, Monthly Review Book, Februari 2007.
  4. Memberikan teks bahasa Indonesia pada film dokumenter: “A Revolution Will Not be Televised”, tahun 2005.
  5. Memberikan teks bahasa Indonesia pada film dokumenter “Bersama Rakyat Miskin Dunia-Con Los Pobres Del Tierra”, tahun 2007.

Kegiatan seminar

  1. P elucuran SERIAL, dengan tema: Ada Alternatif, Bercermin dari Amerika Latin, 15 Agustus 2006
  2. Belajar dari Amerika Latin, Solo, Oktober, 2006
  3. Perubahan di Amerika Latin; Apa Manfaatnya Buat Indonesia, 22 Februari 2007
  4. Talk Show di TV Kabel: Q-TV, Venezuela-Chavez dan Indonesia.

Melanjutkan pekerjaan tersebut, pada awal Februari 2008, SERIAL bersama beberapa aktivis dari Perhimpunan Rakyat Pekerja (PRP), Rumah Kiri (RK), dan mahasiswa dari Universitas Nasional (UNAS) Jakarta, berkumpul dan mendiskusikan suatu proyek kerja bersama untuk membangun komunitas solidaritas Hands Off Venezuela (HOV) di Indonesia. Inisiatif ini segera mendapat dukungan dari banyak pihak seperti: penerbit buku-buku radikal Resist Book- Jogjakarta; Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI); dan Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi-Politik Rakyat Miskin (LMND-PRM). Pekerjaan terdekat yang akan dilakukan adalah pertunjukan film No Volveran, dan deklarasi Hands Off Venezuela-Indonesia.

Kerja-kerja solidaritas yang masih perlu ditingkatkan meliputi

  • Pembangunan komite-komite SERIAL dan atau HOV di berbagai Universitas di Indonesia
  • Produksi lebih banyak bahan bacaan; subtitling dan pertunjukan film; web site; diskusi publik, dll.
  • Aksi-aksi solidaritas
  • Konfrensi-konfrensi taktik diantara aktivis gerakan, belajar dari pengalaman taktik perjuangan di AL.
  • Membuka ajang-ajang studi dan perdebatan ilmiah mengenai sosialisme abad 21.

Sedikit disayangkan, bahwa pekerjaan kampanye Venezuela sendiri dalam bahasa Indonesia tidak banyak dikeluarkan oleh Kedutaan Venezuela di Jakarta. Serangkaian pertemuan yang kami lakukan untuk mendorong Kedutaan Venezuela lebih mampu terbuka mengampanyekan perubahan Venezuela, belum membuahkan hasil. Hingga saat ini belum ada satu bentuk kampanye dalam bahasa Indonesia (penerbitan maupun website) yang reguler dikeluarkan oleh kedutaan Venezuela, yang memberitakan kemajuan perjuangan sosialisme abad 21 di negerinya kepada rakyat Indonesia.

Pada akhirnya, kami berharap Rakyat Venezuela dan Pemerintahan Chavez memainkan peran penting untuk mendukung pekerjaan solidaritas diantara gerakan rakyat di seluruh dunia. Penyebarluasan informasi tentang kemajuan sosialisme di Venezuela, Kuba, dan Bolivia, dalam berbagai bahasa, adalah kunci bagi membesarnya gerakan solidaritas terhadap perjuangan sosialisme abad 21 di seluruh dunia.

Sampai Menang.***

_______________________

Zely Ariane adalah Juru Bicara Hands off Venezuela – Indonesia; Koordinator Solidaritas Rakyat Indonesia untuk Alternatif Amerika Latin (SERIAL): www.amerikalatin.blogspot.com;

Juru Bicara Komite Politik Rakyat Miskin-Partai Rakyat Demokratik (KPRM-PRD):

www.kprm-prd.blogspot.com;

www.kprm-peoples-democratic-party.blogspot.com

Revolusi di Venezuela: Memecah Keheningan Sejarah

Written by Jesus S. Anam*

“Hiduplah di tahun 1953, maka kau akan menemui dua peristiwa besar yang menyejarah: mangkatnya Stalin dan matinya ideologi,” begitulah kata seorang kawan kapada saya, suatu malam, di ruang perpustakaan sebuah seminarium teologia.

Suasana hening, murung dan sedih tengah terjadi di malam 5 Maret 1953. Itulah hari meninggalnya Stalin. Dunia seakan terdiam, menahan gerak. Pemimpin Soviet yang berkuasa mutlak dan disembah-sembah itu telah menyelesaikan hidupnya, meninggalkan goresan hitam di tubuh sosialisme dan menjeburkannya di selokan peradaban. Seluruh Uni Soviet terguncang.

Hari itu rakyat Moskow berkerumun di lapangan Trubnaya, ingin mendekati keranda Stalin dan melambaikan tangan terakhir buat sang pemimpin. Soviet terlihat agak gelisah saat keranda yang membawa Stalin perlahan meninggalkannya. Tangis, senyum, diam, tawa, bercampur tidak jelas. Ia begitu terkenal meskipun menyakitkan. Ia memang ikon yang kontroversial.

Seusai 1953, banyak orang mulai enggan bicara sosialisme. Sosialisme tampak sekedar kontemplasi politis dan keheningan sejarah. Ia begitu eksotik sebagai perenungan tetapi bukan untuk dijalani.

Pada sekitar tahun yang sama, muncul pemikiran sinin terhadap ideologi. Daniel Bell dengan bukunya The End of Ideology tampil memukau di tengah-tengah publik. Buku itu segera mengisi rak-rak perpustakaan universitas. Dibaca banyak orang dan mendatangkan kebingungan. “Berakhirnya ideologi.” Orang pun manggut-manggut, kemudian ragu: mungkinkah ideologi bisa berakhir; mungkinkah sosialisme sudah terkubur bersama jasad Stalin?

Pada tahun 1960-an dan 70-an The End of Ideology ditendang dari rak-rak perpustakaan dan dicampakkan di keranjang sampah pemikiran. Orang-orang muda progresif tidak percaya bahwa ide-ide radikal sudah lekang meskipun Barat berulangkali mengulangi kata-kata sinisnya, bahwa revolusi sudah terlalu letih untuk dilanjutkan, ideologi sudah mati, dan sosialisme hanyalah utopia orang-orang miskin.

Kecurigaan dan sinisme Barat kini ditepis oleh sejarah yang sedang bangkit dari keheningannya. Pagi yang cerah telah menghapus duka senja. Revolusi tengah hadir di bumi Venezuela, tanah Simon Bolivar. Nyanyian riang terus mengiringi rakyat Venezuela yang sedang kegirangan. Mereka sedang menyambut sosialisme, seperti orang-orang majus dari timur saat menyambut kedatangan Kristus.

Perjuangan rakyat Venezuela adalah fenomena tersendiri yang layak dikaji. Kesadaran kelasnya dan keberhasilan mereka mengorganisir diri serta berjuang bersama-sama untuk melawan imperialisme, kapitalisme, dan mengambil alih kekuasaan adalah hal yang luar biasa di abad ini. Mengingat di belahan dunia yang lain, masyarakatnya sudah terkungkung oleh semangat individualisme dan asyik dengan benda-benda.

Selain itu, rakyat paham benar bahwa perjuangan bisa membuatnya berkeping-keping, seperti serpihan-serpihan yang berserakan. Darah bisa tertumpah sewaktu-waktu, dan kelaparan bisa mendera setiap saat. Mereka tidak gentar. Bahkan seorang ibu rela menjual TV-nya untuk membeli senapan – tentunya – demi revolusi.

Hal buruk pernah dialami dalam proses revolusi di Venezuela karena tindakan sabotase dari para bos. Disember 2002, para bos menutup bisnis mereka di penjuru Venezuela. Menelantarkan para pekerja dan pelanggannya selama 2 bulan. Di industri minyak, manajer dan ahli teknisi menyabotase mesin dan komputer sebelum meninggalkan posnya.Produksi minyak jatuh dari 3 juta barel sehari menjadi 25 ribu. Tanker-tanker minyak berhenti di lepas pantai. Pompa-pompa bensin di kota mongering. Tidak ada transportasi dan semakin menipisnya sumber daya. Tidak ada gas untuk memasak, sedikit makanan, dan rakyat terpaksa berjalan kaki. Bahkan ambulans tak bisa jalan dan para pasien di rumahsakit banyak yang meninggal. Tapi sebagai responnya, rakyat mulai mengorganisir diri, pekerja mengambil kendali minyak teknologi tinggi dan menjalankan kembali pompa-pompa.

Semangat rakyat dalam berjuang untuk memperoleh hak-haknya tidak lepas dari pidato-pidato provokatif Sang Presiden, Hugo Chavez. Pidato-pidato Chavez yang lantang melawan kapitalisme telah menjadi spirit yang terus bergejolak. Kapitalisme harus dihancurkan. Kapitalisme adalah biang dari semua persoalan.

“Kapitalisme adalah praktek yang bejat. Praktek bejat yang mengarah pada egoisme ekstrim. Pada individualisme, pada kebencian. Kapitalisme adalah penyebab Perang Dunia Pertama dan Kedua. Kapitalisme sesungguhnya biang kerok invasi ke Irak dan kudeta di Venezuela.” Itulah kata-kata Chavez yang terekam dalam film dokumenter No Volveran.

Pidato Chavez ini disambut dengan antusias oleh seluruh rakyat Venezuela yang pernah menelan pahitnya penindasan oleh karena kapitalisme. Kesadaran politik yang tinggi muncul di tengah-tengah rakyat. Rakyat paham bahwa kapitalisme biang dari seluruh persoalan dan mereka menyelesaikannya dengan sosialisme.

Gerakan rakyat, rakyat yang mengoganisir diri, dan intervensi aktif massa dalam kejadian-kejadian historis adalah hal yang sangat penting dalam revolusi. Sebagaimana kata Trotsky, bahwa revolusi diciptakan oleh manusia dan melalui manusia. Revolusi adalah bergantian tatanan sosial. Tatanan baru akan terjadi jika ia berbasis pada kelas yang progresif, yang mampu mengorganisir mayoritas rakyat yang besar jumlahnya.

Kenyataan ini terjadi di Venezuela. Sosialisme di Venezuela hadir dan memecah keheningan sejarah. Sejarah sosialisme yang muram karena kesalahan Stalis dalam memahami Marxisme.

Salam Revolusi!

___________________________________
* Koordinator Hands off Venezuela Indonesia

Hands off Venezuela – Indonesia: Solidaritas untuk Venezuela, Melanjutkan Revolusi Indonesia

Written by Putri Wulandari Gardono

Hands off Venezuela – Indonesia (HoV-Indonesia) sudah dibentuk. Menurut rencana peluncurannya akan dilaksanakan di Jakarta pada bulan Maret mendatang. Acaranya sendiri akan diisi dengan diskusi tentang perkembangan Venezuela terkini dan pemutaran film No Volveran: The Venezuelan Revolution Now. Menanggapi perkembangan itu, dalam kesempatan ini saya akan mengulas apa sebenarnya makna kehadiran HoV di Indonesia, baik bagi Venezuela sendiri maupun tentu saja bagi Indonesia. Mengapa hal penting diulas, sebab menurut saya munculnya inisiatif kawan-kawan di Indonesia untuk membentuk HoV-Indonesia dilandasi oleh prinsip yang bersesuaian dengan kenyataan di Venezuela di satu sisi, dan bercermin pada sejarah dan kenyatan Indonesia di sisi lain.

Hands off Venezuela atau “Jangan Sentuh Venezuela“, seperti bisa kita simak dari latar belakang pembentukkannya, muncul sebagai tanggapan terhadap usaha kaum reaksioner yang menentang Chavez guna menggembosi Revolusi Bolivarian. Mereka menggunakan media sebagai ujung tombak dalam melancarkan serangan terhadap Chavez dan kekuatan sayap kiri pendukungnya. Tentang bagaimana media memainkan peran dalam usaha menggembosi Revolusi Bolivarian bisa kita lihat jelas dalam film dokumenter The Revololution will not be Televised.

Menurut saya, Hands off Venezuela adalah aktualisasi dari prinsip yang menyatakan bahwa perlawanan terhadap kapitalisme tidak bisa hanya dilaksanakan di satu negara. HoV adalah gerakan internasionalisme. HoV-Indonesia selayaknya bisa mewadahi dua misi: pertama, memberikan dukungan penuh terhadap Revolusi Bolivarian di Venezuela sebagaimana yang dinyatakan dalam prinsip dan konstitusi Hands off Venezuela; dan kedua, mengkampanyekan usaha melanjutkan Revolusi Indonesia yang pada era Soekarno—meminjam istilah comrade Samsir Mohamad—dikompromikan, dan di era-era selanjutnya dipetieskan.

Secara praktis HoV-Indonesia harus mampu bermain di dua tataran. Pertama, menjadi wahana pembelajaran dan analisis terhadap sejarah dan dinamika politik di Venezuela dan Indonesia. Usaha untuk membandingkan keduanya tentu tidak bisa parsial dan hanya melihat keberhasilan-keberhasilan saja, melainkan justru harus jeli terhadap beberapa kelemahan dan (jika ada) ketidakonsistenan terhadap prinsip-prinsip sosialisme. Kedua, berdasarkan kajian dan analisis tersebut HoV-Indonesia selayaknya mampu memberikan kritik—dalam makna menunjukkan kekurangan/kelemahan dan memberikan alternatif jalan keluar—terhadap perkembangan di Venezuela dan Indonesia.

Lalu, bagaimana menerjemahkan itu di lapangan, dan jalan masuk apa yang realistis untuk ditempuh? Setelah membaca beberapa tulisan comrade Samsir Mohamad di Rumah Kiri, kiranya patut dipertimbangkan sekaligus dikaji lebih dalam lagi gagasan dia untuk menjadikan konstitusi Indonesia sebagai jalan masuk bagi usaha melanjutkan Revolusi Indonesia yang sejalan dengan tujuan RI didirikan. Ada banyak jalan menuju Roma, demikian juga Revolusi Indonesia.

Chavez dan Revolusi Bolivarian: Bukan Gerak Teaterikal

Written by Jesus S. Anam*

Impian adalah sah. Tidak ada salahnya menjangkau kebesaran dan kesuksesan. Tidak ada salahnya merindukan hasil yang cepat dan keuntungan seketika. Begitulah kata Mao, yang diucapkan pada bulan Januari 1958.

Mao memang berhasrat untuk melakukan lompatan besar yang terayun. Saat itu dia ingin menggiring negeri petani menjadi negeri industri secara cepat. Dia sedang mencoba melecut musim. Lalu seluruh Cina bergemuruh dan bergerak meski akhirnya terbentur dinding tua Tiongkok.

Namun demikian, saya tidak hendak mengatakan Cina adalah kegagalan, tetapi hendak menyatakan bahwa “revolusi sosialis bukanlah gerak teaterikal”. Revolusi sosialis haruslah gerak yang berpijak pada tumpukan realitas, tidak berdiri di sisi dan hanya mengintip. Bukan gerak bebas tanpa makna dan semu, bukan pula gerak yang terpotong-potong dan absurd seperti layaknya panggung-panggung teaterikal. Ia harus menjadi gerakan kontinyu, menyeluruh, mengejawantah, mengandungi misi membebaskan diri dari hegemoni kapitalis hingga benar-benar mewujud pada terbentuknya masyarakat tanpa kelas.

Continue reading “Chavez dan Revolusi Bolivarian: Bukan Gerak Teaterikal”

Chavez: Rakyat Venezuela Dapat Mengajukan Proposal Reformasi yang Baru

December 5th 2007, by Kiraz Janicke – Venezuelanalysis.com

Caracas, 5 Desember 2007, Rakyat Venezuela punya kapasitas untuk memodifikasi dan mengajukan kembali proposal reformasi yang kalah dalam referendum 2 Desember, kata Presiden Venezuela Hugo Chavez melalui telepon saat penayangan program politik populer La Hojilla (Silet) dalam TV pemerintah Venezuela channel VTV.

Saat telepon Chavez merefleksikan hasil referendum dan menegaskan bahwa ia kehilangan haknya untuk mengajukan proposal konstitusional. Namun, katanya, “Rakyat Venezuela punya kekuasaan dan hak untuk mengajukan permintaan reformasi konstitusional sebelum masa [jabatan presiden] ini selesai, yang masih tersisa 5 tahun.”

Dalam Konstitusi Bolivarian 1999, Presiden, Majelis Nasional atau 15 persen pemilih terdaftar berhak mengajukan proposal reformasi konstitusional.

Rakyat Venezuela, tekan Chavez, dapat mengajukan proposal reformasi “tahun depan atau dalam tiga tahun ini.”

“Tidak harus sama,” lanjutnya, “Bisa mengarah ke hal yang sama, tapi bentuknya berbeda, lebih baik dan lebih sederhana, karena saya harus menerima bahwa reformasi yang kami ajukan sangatlah kompleks. Dan dalam perdebatan itu menjadi lebih kompleks. Ini digunakan oleh lawan-lawan kami dan kami tidak mampu menjelaskannya.”

Continue reading “Chavez: Rakyat Venezuela Dapat Mengajukan Proposal Reformasi yang Baru”

Venezuela, “Laboratorium” Kita: Sebuah Perspektif

Written by Jesus S. Anam

Venezuela, hari ini, adalah gambar yang eksotik dan fenomenal. Gambar riang sebuah revolusi. Gambar yang mengekspresikan betapa eksotiknya perjuangan rakyat. Gambar yang mampu menyingkirkan dan mengganti wajah angker Stalin, yang cukup lama menempel di dinding kusam Soviet.

Hugo Chavez, Sosialisme Bolivarian, sorak-sorai rakyat pekerja, dan (tentunya) senyum bahagia seluruh rakyat adalah deret kata yang mungkin pas untuk menggambar Venezuela.

Fenomena tersebut sangat penting bagi kita, kaum kiri Indonesia. Dalam perjalanan Venezuela menuju sosialisme dan peran kaum pekerja revolusioner Venezuela kita bisa melihat bahwa aksi biasa tidaklah cukup dalam mewujudkan perubahan mendasar. Tuntutan-tuntutan kelas pekerja yang paling hakiki tidak akan pernah bisa dipenihi dalam struktur masyarakat kapitalistik. Kekuasaan harus diraih dan struktur sosial harus dirombak. Mencermati semangat luar biasa di atas, kita seperti sedang berziarah ke masa lalu, ke peristiwa Oktober 1917 di Rusia sebagaimana dilukiskan oleh Trotsky:

“Suasana revolusioner di kalangan rakyat jelata menjadi lebih kritis, lebih mendalam, lebih resah. Rakyat jelata — terutama yang pernah melakukan kesalahan dan kekalahan — mencari kepemimpinan yang bisa diharapkan. Mereka ingin menjadi yakin bahwa kita mampu dan berkeinginan untuk memimpin, dan bahwa dalam pertempuran yang menentukan, mereka dapat mengharapkan kemenangan… Kaum proletar berkata: tidak ada yang bisa diharapkan lagi dari pemogokan, demonstrasi, dan aksi pemberqontakan biasa. Kini, kita harus bertempur.”

Dalam pernyataan Chavez (mengutip Marx), bahwa “para pekerja tidak bisa kembali ke dalam perbudakan kerja, ke dalam perbudakan kapital. Kapital harus berada di bawah para pekerja.” Bercermin dari sini, kelas pekerja harus merampas kekuasaan, jika tidak, mereka akan dihancurkan oleh kapital, oleh pemerintah kapitalis. Kekalahan kaum pekerja semasa Komune Paris, dan penindasan hebat setelah kegagalan revolusi 1905, sudah cukup menjadi pelajaran bagi kita, kaum revolusioner, dimana saja. Karena jelas, pada masa krisis politik, sosial, ekonomi, peralihan damai menuju demokrasi borjuis tidaklah mungkin. Dan revolusi 1917, telah malakukan tugas revolusioner ini, merebut kekuasaan dari tangan borjuis. “Jika kaum pekerja tidak melakukan revolusi pada tahun 1917, kata ‘fasisme’ bukan lagi berasal dari bahasa Italia, tetapi berasal dari bahasa Rusia,” tandas Trotsky.

Pemikiran cerdas Trotsky yang termuat dalam Program Transisional telah menyadarkan Chavez, bahwa jalan menuju sosialisme Venezuela benar-benar telah terbuka. Kondisinya telah tersedia untuk menjadikan Venezuela sebuah negara sosialis, negara sosialis yang makmur. Pembusukan kelas-kelas lama yang berkuasa, kelemahan politis dari kaum borjuis yang tidak mengakar pada massa rakyat, karakter revolusioner massa, dan beban-beban sosial yang menimpa rakyat — di Venezuela, menjadi prasyarat dan penggerak ke arah revolusi proletariat. Jika kondisi-kondisi yang matang ini tidak segera direspon oleh kepemimpinan revolusioner, bau busuk revolusi akan segera menyengat. Pembusukan kondisi-kondisi untuk revolusi proletariat bukanlah kesalahan kaum pekerja, tetapi ketidakcakapan kepemimpinan revolusioner dalam merespon dan menangkap fenomena. Chavez sadar akan hal ini. Ia bersama-sama dengan rakyat pekerja segera mengambil peran dalam revolusi, agar pembusukan dan ulat-ulat kapitalis tidak bernyanyi riang dalam kemenangan.

Kepekaan Chavez atas situasi ini dibuktikan dengan segera memanggili kaum pekerja untuk berada di garis paling depan revolusi. Ia juga mengajak kaum pekerja untuk mengambil tindakan kongkrit dengan menjadi aktor utama dalam gerak revolusi. Ia berulangkali mengajak kaum pekerja untuk menduduki pabrik-pabrik dengan slogan “pabrik tutup, duduki pabrik.”

Perjalanan heroik Venezuela menuju sosialisme, kini, telah menghasilkan tuaian, meski sana sini, musuh-musuh sosialisme, dengan perang opini, terus akan menggagalkan sosialisme di Venezuela. Media-media Barat dan antek-anteknya, termasuk di Indonesia, tidak pernah obyektif memahami perjuangan ini. Kepemimpinan Chavez yang terus bergerak ke arah kiri akan mengganggu stabilitas kawasan, demikian ungkap Mike Mullen, Kepala Staf Gabungan AS, saat mengunjungi Bogota, Kolumbia, belum lama ini.

Langkah-langkah radikal Cahvez selanjutnya, setelah menjadi pemimpin besar rakyat Venezuela, yang cukup mengguncang perasaan Washington, adalah pembelian 24 pesawat tempur Sukhoi dan 100.000 senjata serang jenis Kalashnikov AK 103 dari Rusia tahun 2006. Dan kini Chavez sedang dalam pembicaraan bagi pembelian kapal selam dan peralatan tempur lainnya.

Kebijakan Chavez untuk membeli senjata-senjata itu tentu bisa kita pahami. Serangan tiba-tiba Amerika ke Venezuela bisa saja terjadi. Seperti pencuri yang mengendap-endap, di malam hari. Atas nama stabilitas, atas nama demokrasi, Amerika bisa dengan leluasa memporak-porandakan revolusi. Ini bukan ketakutan yang berlebihan. Kita tahu, prilaku “setan” Amerika bisa kambuh setiap saat. Kaum kiri Indonesia seharusnya bisa memahami ini dan mendukung program sosialis Chavez. Revolusi Sosialis di Venezuela tidak boleh berhenti di tengah jalan. Venezuela adalah laboratorium kita. Jika gagal, kita ikut bertanggungjawab atas kegagalan itu. Dan sosialisme akan menjadi bahan tertawaan sejarah.

International Marxist Tendency bekerjasama dengan Proletariat Resistance, Rumah Kiri, dan organ-organ kiri revolusioner lainnya akan mengkampanyekan HANDS OFF VENEZUELA – INDONESIA, sebagai upaya menghubungkan secara erat kaum kiri Indonesia dengan Revolusi Sosialis di Venezuela. Revolusi Sosialis di Venezuela adalah karya besar yang sepenuhnya harus kita dukung.

Salam Pembebasan!