Solidaritas untuk Revolusi Arab

Lucha de Clases, Tendensi Marxis kaum buruh dan kaum muda dalam PSUV, menyatakan hal-hal sebagai berikut:

  1. Solidaritas dengan revolusi-revolusi di Dunia Arab.
  2. Kutukan terhadap represi terhadap rakyat-pekerja Libya.
  3. Kami menolak upaya apapun untuk mengalihkan perhatian rakyat revolusioner Venezuela sehubungan dengan watak revolusioner dari perlawanan rakyat Libya.
  4. Sebagaimana di Amerika Latin, tahun-tahun penjarahan kapitalis, eksploitasi, privatisasi, dan paket-paket ekonomi telah menyulut suatu revolusi sosial.
  5. Kami menentang upaya apapun dari pihak imperialisme untuk mengintervensi Libya.
  6. Adalah tugas kaum revolusioner di seluruh dunia, dan secara khusus di Venezuela, untuk mendukung Revolusi Arab, dengan menjelaskan bahwa satu-satunya jalan keluar dari kutuk-sengsara kapitalis yang melanda rakyat kita adalah melalui perjuangan sosialisme. Revolusi berwatak internasional, atau bukan revolusi sama sekali.

Jangan pernah terulang suatu Caracazo lagi!

Enyahlah represi!

Hidup revolusi di Tunisia, Mesir, dan Libya!

Mengenalkan Revolusi Venezuela di Kampus Unibraw

Ditulis oleh Firman Rendi Sutansyah

Di gedung kuliah fakultas teknik Universitas Brawijaya Malang (Unibraw), film dokumenter “Revolution Will Not Be Televised” diputar. Antusiasme peserta nampak terasa saat film sampai di pertengahan durasi, yakni saat kudeta militer untuk menggulingkan Presiden Chavez berlangsung dan kegagalannya yang memalukan.

“Peristiwa kudeta di Venezuela yang saya lihat sekarang berbeda dengan pemberitaan dengan yang selama ini saya dengar. Berbeda dengan sumber-sumber yang saya peroleh di Internet maupun media-media yang lain. Chavez sering digambarkan sebagai seorang diktator yang menakutkan,” kata Kabul, salah seorang peserta bedah film.

Acara bedah film dimulai pukul 19.30. Usai pemutaran film dan sebelum masuk acara diskusi, seorang mahasiswi membacakan puisi perlawanan karya salah seorang seniman Malang, Gareng Tejo Kusumo. Teater monolog yang dikemas dengan sangat apik oleh kelompok teater y.a.o.m.a ini disambut dengan rasa haru dan teriakan histeria dari para peserta bedah film pada saat melewati bait-bait tentang sejarah dan struktur penindasan.

Acara bedah film ini menghadirkan dua pembicara, yakni Jesus S. Anam dari Hands Off Venezuela (HOV) seksi Indonesia dan Andy Irfan Junaidi dari Solidaritas Perjuangan Buruh Indonesia (SPBI). Jesus SA membedah peristiwa politik di Venezuela dari peristiwa Caracazo tahun 1989 hingga kudeta terhadap Chavez tahun 2002.  Menurut Jesus, gelombang revolusioner di Venezuela bertitik tolak pada bulan Februari 1989. Pada tahun tersebut paket kebijakan IMF diperkenalkan. Perkenalan pertamanya adalah dengan menaikan harga minyak dan menghapus subsidi makanan. Hal ini mengakibatkan meningkatnya biaya transportasi umum dan bahan makanan secara massif. Keresahan rakyat terasa sekali di pagi hari saat mereka menuju tempat kerja dengan harga tiket bus yang melambung naik 200 hingga 300 persen. Situasi ini benar-benar melecut kemarahan dan mendorong pemberontakan massa rakyat secara spontan dan tak terorganisir, yang dikenal dengan nama Caracazo, karena terjadi di seluruh penjuru Caracas. Pemberontakan, kerusuhan, penjarahan, dan bentrokan pun kemudian terjadi. Pemerintah kemudian menurunkan tentara untuk menyapu massa. Sekitar 300 sampai 3000 orang tewas, tidak ada yang mengetahui jumlah pastinya.

Kemenangan Chavez di pemilu presiden pada tahun 1998, lanjut Jesus, cukup mengejutkan banyak negara karena ia berani berkonfrontasi secara langsung dengan Amerika Serikat dan berani menolak mentah-mentah semua program yang diusulkan IMF maupun World Bank. Chavez melihat itu semua sebagai program kapitalis yang ingin merampok semua kekayaan yang ada di Venezuela. Jesus juga membedah apa yang sebenarnya terjadi dalam kudeta 2002 di Venezuela, kenapa kudeta itu terjadi, dan bagaimana kudeta itu bisa digagalkan rakyat. Dan lagi-lagi adalah rakyat yang menyelematkan Chavez. Kudeta terhadap Chavez oleh kaum oligarki yang dibantu Washington berhasil digagalkan rakyat yang diorganisir oleh kelompok-kelompok revolusioner yang berada di barisan depan massa.

Sedangkan Andy Irfan Junaidi mencoba untuk mengkorelasikan peristiwa yang terjadi di Venezuela dengan di Indonesia. “Ada yang harus diwaspadai oleh kaum intelektual (mahasiswa,-red),” kata Andy. “Mahasiswa memang bisa menjadi seorang pemimpin yang revolusioner, akan tetapi mahasiswa bisa juga dengan cepat berbalik dan menjadi apatis.” Andy juga mengurai perjalanan sejarah yang terjadi di Indonesia. Menurut Andy, banyak terjadi penghapusan sejarah-sejarah pada masa lalu. Dalam era Orde Baru misalnya, sejarah-sejarah yang dianggap bisa membangkitkan gerakan massa rakyat sengaja dihilangkan dari kampus-kampus. Pada kenyataannya, pada tahun 20-an, banyak sekali tokoh-tokoh progresif yang muncul dari serikat-serikat buruh. “Para buruh mungkin secara intelektual sangat jauh di bawah level para mahasiswa. Akan tetapi, mereka diuntungkan dengan pengalaman secara langsung melawan tekanan kapitalis,” lanjut Andy. Hal ini seperti yang pernah dikatakan Lenin bahwa bobot satu ons pengalaman bisa sama dengan satu ton teori.

Nah, kemudian bagaimana dan apa dampak dari peristiwa besar yang pernah terjadi di Indonesia tahun 1998 lalu, yang sering disebut sebagai reformasi? Menurut kawan Andy, meskipun reformasi sudah berjalan selama 11 tahun, tetapi kita masih jalan di tempat alias tidak ada perubahan yang signifikan. Reformasi hanya menurunkan satu orang penguasa saja. Akan tetapi, watak ideologi bangsa kita tidak berubah, yaitu dari kolonialisme terjerembab menuju neoliberalisme (kapitalisme,-red), dimana pasarlah yang menghidupi kita, dan buruh, petani, serta rakyat miskin secara keseluruhan yang menjadi korban paling awal dari kebijakan ini. Dan fenomena yang menarik dari sebuah negara yang menganut paham neoliberalasme, negara tersebut akan mengalami krisis demi krisis.

Dalam sesi dialog, para peserta diskusi banyak yang melontarkan berbagai pertanyaan, seperti   bisakah di Indonesia melakukan revolusi sama dengan revolusi yang terjadi di Venezuela; apa yang arti dari kata “revolusi”; dll.

Jesus SA mencoba menjawab beberapa pertanyaan yang terkait dengan revolusi. Menurut Trotsky, kata Jesus, ciri utama dari sebuah revolusi adalah massa terlibat langsung dalam peristiwa-peristiwa historis. Revolusi dapat terjadi melalui dua cara: oleh sebuah bangsa yang bersatu seperti seekor singa yang siap menerkam, atau¸ oleh sebuah bangsa di dalam proses perjuangan yang memecahkan bangsa tersebut guna membebaskan bagian terbaiknya yang akan melaksanakan tugas-tugas yang tidak mampu dipenuhi oleh seluruh bangsa. Dalam konteks Indonesia, prasyarat untuk revolusi sudah ada. Krisis kemanusiaan, krisis kepemimpinan, bobroknya lembaga-lembaga negara, pembusukan akut partai-partai borjuis, dan penindasan yang semakin sistematis merupakan prasyarat untuk menggerakkan revolusi di Indonesia. Mengenai kapan akan terjadi revolusi pastinya tidak hanya tergantung pada relasi kekuatan-kekuatan sosial di dalam perjuangan kelas, tetapi juga pada faktor-faktor subyektif, seperti tradisi, inisiatif, dan kesiapan kaum buruh, petani, kaum miskin  untuk berjuang.

Kaum buruh, kaum tani, kaum miskin kota, dan mahasiswa bersatulah!

Mengenal Revolusi Bolivarian Lewat Film

Ditulis oleh Fatkhul Khoir

no-volveran_300x225Di kota industri Gresik, kemarin 18 Oktober 2009, puluhan orang berkumpul untuk menonton dan mendiskusikan film dokumenter No Volveran. Film ini bercerita mengenai Revolusi Venezuela dan perjuangan buruh Sanitarios Maracay ketika menduduki pabrik dan menjalankannya di bawah kontrol buruh. Antusiasme peserta sangat nyata. Ini terlihat dari proses diskusi yang berlangsung usai pemutaran film. Saat diskusi, para peserta berusaha menarik sebuah benang merah dari apa yang telah dilakukan oleh serikat-serikat buruh di Venezuela.

Bedah film yang diinisiasi oleh Solidaritas Perjuangan Buruh Indonesia (SPBI) Komite Wilayah Gresik dan Hands Off Venezuela Indonesia menghadirkan Jesus S. Anam sebagai pembicara. Jesus S. Anam menjelaskan sejarah gerakan di Venezuela dan beberapa hasil perjuangan buruh di sana dan apa yang telah dilakukan oleh kelas buruh di Venezuela bisa menjadi inspirasi bagi buruh di Indonesia, khususnya di Gresik.

Dalam diskusi ini juga muncul refleksi dari peserta diskusi terkait dengan pengalaman gerakan buruh di Gresik. Mereka menyatakan, situasi gerakan buruh di Gresik masih banyak terjebak dalam persoalan normatif dan para pemimpinannya masih banyak didominasi oleh kelompok serikat buruh “kuning”. Walaupun sudah terbentuk seketariat bersama, namun ini tidak serta merta bisa menjawab kebutuhan buruh.

Menurut salah satu peserta diskusi, kondisi politik perburuhan yang semakin lama tidak berpihak pada buruh, dan maraknya outsourcing yang ada di Gresik, ditambah dengan apatisme buruh yang semakin meningkat, telah menjadi kendala utama bagi pembangunan serikat buruh di Gresik. Permasalahan yang cukup mendasar yang dihadapi oleh buruh saat ini adalah belum adanya kepemimpinan politik yang revolusioner sebagai alat perjuangan.

Masih terkotak-kotaknya serikat buruh, menurut peserta yang lain, juga menjadi halangan utama bagi proses perjuangan buruh dalam menggapai cita-cita untuk perubahan. Lebih jauh, menurutnya, bahwa pembangunan aliansi di antara serikat buruh selalu terhambat oleh faktor eksistensi para elit serikat dan juga perilaku yang cenderung pragmatis.

Di akhir diskusi, refleksi atas situasi serikat-serikat buruh yang ada di Gresik telah menguatkan peserta diskusi yang sebelumnya pesimis. Ini terbukti, setelah menonton film No Volveran, ada kesepakatan lanjut untuk merapatkan barisan dengan mengadakan kelas-kelas politik di basis buruh secara regular dua minggu sekali. Peserta diskusi, yang mayoritas buruh, benar-benar mendapatkan angin segar politik—masih ada harapan bagi kelas buruh untuk menggapai cita-cita di masa depan menuju kesejahteraan bersama.

Hidup Sosialisme!

Forum Diskusi Jombang: Membangun Politik Alternatif Abad ke-21

Ditulis oleh Rawi (Jombang)

Krisis ekonomi global sekarang ini adalah sebuah gejala dari sistem kapitalisme dunia yang telah kehabisan potensi untuk maju. Ini akan membuka sebuah krisis sosial dan pergulatan revolusioner dalam tahun-tahun ke depan.

Kemenangan kekuatan-kekuatan kiri di Amerika Latin merupakan simbol dari keruntuhan konsensus ekonomi politik global yang dibangun sejak akhir tahun 1980, ketika runtuhnya tembok Berlin dan Uni Soviet dimaknai sebagai akhir dari sejarah yang mengoreskan tinta kemenangan demokrasi liberal dan pasar bebas di atas gagasan-gagasan alternatif lainnya yang lebih manusiawi. Praktek ekonomi yang berbasis liberalisasi pasar bebas memunculkan persoalan-persoalan mendasar bagi masyarakat Amerika Latin. Pemangkasan berbagai program sosial semakin memperluas kesenjangan antara kelompok kaya dan miskin dan problem pengganguran. Sebagai akibatnya, kita saksikan gelombang perlawanan dari kelas pekerja dan petani sejak tahun 1980-an sampai paruh akhir tahun 1990-an.

Pemerintahan Chavez, yang terpilih pada tahun 1998, berhasil melakukan politik radikal dengan mengubah kesepakatan ekonomi antara pemerintah dengan pihak korporasi minyak, dengan mengalihkan laba dari penjualan minyak untuk kesejahteraan rakyat Venezuela. Keberhasilan ini mengilhami gerakan-gerakan massa di kota Jombang dalam membangun suatu politik radikal di kalangan serikat buruh, petani dan mahasiswa.

Sebuah forum diskusi dengan tema bertajuk “Membangun Politik Alternatif Abad ke-21” diinisiasi oleh Hands Off Venezuela seksi Indonesia berkerjasama dengan Solidaritas Perjuangan Buruh Indonesia (SPBI) wilayah Kabupaten Jombang dan Serikat Perjuangan Mahasiswa (SPM) komite kota. Forum diskusi ini diawali dengan pemutaran film dokumenter “Revolution Will Not Be Televised” yang bercerita mengenai perjuangan rakyat Venezuela dalam menggagalkan kudeta yang dilakukan oleh kelompok borjuasi terhadap pemerintahan mereka.

Pada tahun 2002, kaum oligarki Venezuela dengan bantuan imperialisme Amerika meluncurkan sebuah kudeta terhadap Hugo Chavez. Presiden Chavez diculik oleh sekelompok pimpinan angkatan bersenjata yang mengumumkan bahwa Chavez telah mengundurkan diri, sebuah klaim yang kemudian ditolak oleh Chavez. Segera kaum oligarki Venezuela membubarkan parlemen Venezuela yang telah terpilih secara demokratis dan lalu menunjuk Pedro Carmona menjadi presiden. Dalam waktu dua hari, rakyat Venezuela segera mengorganisasi diri mereka dan berbondong-bondong mengepung istana presiden dan barak-barak militer, dan akhirnya menggagalkan kudeta tersebut.

Peserta diskusi melihat bagaimana berbedanya pemerintahan Chavez dengan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono yang tidak memberikan harapan kesejahteraan untuk rakyat pekerja. Masalah yang dihadapi rakyat Indonesia juga serupa dengan apa yang terjadi di Amerika Latin, yaitu kapitalisme dengan lembaga donornya seperti IMF, World Bank, IDB dan lembaga-lembaga lain yang merampas kekayaan sumber daya alam dan menindas rakyat pekerja. Sebuah perlawanan juga sedang digalang di bumi Indonesia. Dengan berbekal inspirasi dari Amerika Latin, para peserta diskusi setuju untuk membentuk sekolah-sekolah politik dan forum-forum diskusi setiap 2 minggu.

Hidup Sosialisme!

Amerika Latin: Inspirasi Alternatif Membangun Kedaulatan Nasional

Ditulis oleh Militan
Senin, 14 September 2009 09:01

Amerika Latin saat ini merupakan basis bagi perubahan peta politik dunia di abad ini dan sekaligus menunjukkan kegagalan ideologi neoliberal. Capaian Revolusi Bolivarian telah menjawab, meskipun belum sepenuhnya, persoalan-persoalan mendesak rakyat diluar syarat-syarat kapitalisme, dan keberhasilan ini bisa menjadi inspirasi bagi konsolidasi gerakan melawan kapitalisme dan imperialisme, dan menegakkan kedaulatan nasional di seluruh Amerika Latin dan, tentunya, di seluruh dunia.

Bagi banyak kalangan progresif di Indonesia, pengalaman Amerika Latin menyediakan sebuah cermin menarik untuk menemukan atau merefleksikan strategi anti kapitalisme dan anti imperialisme di dalam negeri. Pendapat ini terungkap dalam diskusi bertajuk “Amerika Latin dan Pengalaman Perjuangan Pembebasan Nasional”, yang diselenggarakan oleh Berdikari Online di Jakarta pada tanggal 11 September lalu.

diskusi-di-papernas_300x225Acara yang bertempat di kantor Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Pembebasan Nasional (Papernas) di Jakarta, dihadiri oleh puluhan peserta dari berbagai macam organisasi social dan politik. Acara itu menghadirkan beberapa pembicara, yakni Budiman Sudjatmiko dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), Ras Muhammad yang merupakan seorang musisi, Jesus S. Anam dari Hands Off Venezuela-Indonesia, Veronika dari International Global Justice (IGJ), dan Rudi Hartono dari website nefos[dot]org.

Diskusi diawali dengan apresiasi Ras Muhamad, Duta Reggae Indonesia. Ras Muhamad berbicara mengenai perjuangan pembebasan nasional di Indonesia. Menurutnya, seniman Indonesia harus ambil bagian dalam perjuangan kedaulatan nasional, setidaknya dengan mereflesikan keadaan atau penderitaan rakyat di sekelilingnya dalam karya-karya mereka.

Sebagai seorang musisi, ia menyoroti klaim Malaysia terhadap budaya Indonesia. “Indonesia adalah negara yang beradab, untuk menyelesaikan kasus itu, tidak harus dilakukan lewat perang secara fisik”, katanya. Ia juga menambahkan bahwa klaim budaya itu dapat terjadi karena para pemuda-pemudi Indonesia apatis terhadap budaya-budaya lokal. Ia berpendapat bahwa kedaulatan nasional dapat dipertahankan dan ditegakkan jika masyarakat Indonesia turut aktif dalam membangun kedaulatan nasional.

Sementara itu, Budiman Sudjatmiko dari PDIP menekankan pentingnya penyebaran teori-teori revolusioner melalui bahasa yang dipahami oleh rakyat. Menurutnya, keberhasilan Amerika Latin karena mampu mempertahankan orang-orang yang menyebarkan gagasannya melalui bahasa rakyat. “Pada era kediktatoran militer, proses penindasan hanya bisa menguasai rakyat secara fisik, tetapi gagal untuk mengubur gagasan-gagasan revolusioner dan kerakyatan yang ada di sana,” ujarnya. Lebih jauh, Budiman menekankan pentingnya meliberalkan gagasan, agar gagasan kaum revolusioner bisa sampai ke rakyat. Menurutnya, gerakan-gerakan kiri, serevolusioner apapun, tidak pernah mencapai sukses jika belum meliberalkan gagasan. Dengan menggunakan tolak ukur kesuksesan dalam pemilihan legislatif kemarin, ia mengatakan bahwa para aktivis kiri belum banyak yang sukses, bahkan untuk untuk pemilihan di tingkat lokal.

Peneliti Institute For Global Justice (IGJ) Veronika Saraswati menjelaskan soal praktik eksploitasi kekayaan alam Amerika Latin dari segi historis. Menurutnya, pemberlakuan doktrin “Monroe” merupakan bentuk pengkaplingan terhadap kawasan atau wilayah di Amerika Latin. Dalam proyek ini, AS menanamkan rencananya untuk menguasai wilayah ini melalui sejumlah perjanjian perdagangan dan propaganda menghentikan komunisme.

Dalam penjelasannya, Veronika condong menunjukkan pengalaman Kuba dalam menggagas dunia baru, sebuah tatanan masyarakat yang berada diluar kontrol AS dan sekutunya. Dengan pilihan ini, AS dan sekutunya berupaya menundukkan pemerintahan revolusioner di Kuba, mulai dari Peristiwa Teluk Babi hingga bentuk diplomasi setengah hati; embargo dan blokade ekonomi. Sekarang ini, setelah melalui perjuangan panjang melawan kepungan dan blokade ekonomi AS dan sekutunya, Kuba berhasil menciptakan sebuah antitesa terhadap sistim kapitalisme. Di bidang pendidikan, misalnya, Kuba berhasil memberantas buta huruf dan menerapkan pendidikan gratis di semua jenjang pendidikan. Kuba juga unggul dalam bidang pelayanan kesehatan, dimana keberhasilan mereka disejajarkan dengan negara-negara maju.

Terkait perubahan politik di Amerika Latin sekarang ini, Jesus S. Anam dari Hands off Venezuela (HOV) Indonesia mengatakan, kemenangan elektoral di sejumlah Negara Amerika Latin merupakan pertanda kebangkitan politik rakyat. Lebih jauh lagi, perubahan politik di Amerika Latin bisa menjadi basis bagi perubahan politik dunia, terutama dalam menginspirasi perjuangan anti neoliberalisme dan anti kapitalisme di negara atau kawasan lain guna menegakkan kedaulatan nasional di seluruh Amerika Latin dan di seluruh dunia.

Namun, untuk menegakkan kedaulatan nasional di Amerika Latin, menurut Jesus, para pemimpin ini perlu didorong terus untuk mendasarkan pemerintahannya pada ideologi sosialis yang sejati, mengingat banyak dari para pemimpin “kiri” di Amerika latin tersebut memiliki basis historis yang becek, dan dari beberapa pemimpin kiri Amerika Latin juga masih punya potensi menjadi figur-figur Bonapartis yang tengah menempatkan diri mereka di garis depan gerakan massa hanya untuk menungganginya dan pada akhirnya akan menjaga sistem kapitalis.

Masih menurut Jesus, revolusi Venezuela, sebagai kekuatan sentral bagi revolusi-revolusi di Amerika Latin selanjutnya, harus menjadi revolusi yang permanen. Sebuah revolusi dikatakan permanen karena, pertama, revolusi tersebut tidak berhenti hanya pada revolusi borjuis dengan agenda menuntaskan tugas-tugas demokratik, tetapi harus langsung masuk pada agenda-agenda sosialis. Kedua, mendasarkan kekuatan revolusi di atas kelas progresif, yakni kelas buruh yang didukung oleh kelas tani dan miskin kota – bukan borjuasi nasional – dan meluaskan revolusi bukan hanya dalam batasan nasional tetapi juga mengarah pada revolusi internasional.

Sedangkan pembicara dari nefos[dot]org, Rudy Hartono, menekankan bahwa kita jangan begitu saja mengkopi gerakan di Amerika Latin secara “mentah-mentah”, namun harus disesuaikan dengan kondisi Indonesia. Dan ia juga menegaskan bahwa penerapan sosialisme di tiap-tiap negara itu berbeda-beda. Menurutnya, ada tiga pergeseran pokok yang menonjol di Amerika Latin sekarang ini. Pertama, pengaktifan kembali negara sebagai alat untuk mencapai kesejahteraan dan pembangunan, terutama yang menempatkan rakyat sebagai protagonist dan sasaran. Kedua, penerapan kebijakan sosial, ekonomi, politik yang pro-kerakyatan, tentunya dengan kadar yang berbeda-beda, khususnya dalam program menghapus kemiskinan di kawasan ini. ketiga, adanya dorongan kuat untuk integrasi regional yang bersifat alternatif, khususnya untuk menggantikan model kerjasama regional yang berbau perdagangan bebas.

Setelah sesi diskusi selesai, acara itu diakhiri dengan makan malam bersama dan pemutaran film tentang sosok Tan Malaka.

Solidaritas internasional dengan para buruh dari pabrik yang sedang diokupasi di Venezuela

Oleh FRETECO (www.controlobrero.org)
11 Mei, 2009

Kami menyerukan sebuah panggilan kepada rakyat Venezuela, kelas pekerja internasional, dan semua yang mendukung perjuangan emansipasi buruh untuk mengirimkan surat ke Presiden Chavez menuntut diekspropriasinya pabrik Acerven di bawah kontrol buruh,  tidak meninggalkan nasib pabrik Inveval di tangan pasar kapitalis, akhiri sabotase birokrasi, ekspropriasi pabrik Gotcha, INAF, MDS, dan Vivex, dan penyelidikan penuh terhadap pembunuhan Argenis Vazquez.

Akhiri sabotase birokrasi terhadap Inveval!

Nasionalisasi pabrik-pabrik yang sedang diokupasi!

Akhiri pembunuhan pemimpin-pemimpin serikat buruh!

Sebuah panggilan dari FRETECO untuk rakyat pekerja seluruh dunia

Empat tahun sudah berlalu semenjak nasionalisasi pabrik klep Inveval di Venezuela. Semenjak itu, buruh Inveval telah menjalankan pabriknya di bawah kontrol buruh dan menunjukkan jalan ke depan untuk membangun sosialisme di Venezuela. Setelah ekpropriasi pabrik ini pada tahun 2005 oleh Presiden Chavez, para buruh membentuk sebuah dewan pabrik yang anggotanya dipilih secara demokratis dan dapat dipanggil (recall) setiap saat. Dewan pabrik ini bertugas mengkoordinasi produksi. Para buruh juga mengorganisasi sebuah serikat buruh untuk membangun hubungan dengan gerakan buruh yang lebih luas, dan membangun hubungan dengan dewan-dewan komunal di negara bagian Miranda dimana mereka berada. Mereka juga telah mengorganisasi FRETECO (Front Okupasi Pabrik) bersama-sama dengan para buruh dari perusahaan-perusahaan yang sudah diokupasi atau dinasionalisasi (INAF, Gotcha, MDS, Vivex, SIDOR, dan lainnya).

Para buruh Inveval telah menunjukkan bahwa buruh dapat menjalankan sebuah pabrik dengan sukses. Selama 4 tahun, mereka berhasil menghidupkan pabrik ini dengan memperbaiki klep-klep yang rusak, dan telah menyiapkan pabrik ini untuk memproduksi klep-klep baru. Akan tetapi, mereka belum bisa memproduksi klep-klep baru karena hambatan-hambatan yang senantiasa disebabkan oleh para fungsionaris pemerintah, yang secara langsung menyabotase keputusan presiden Chavez. Kaum birokrasi pemerintah tidak ingin kontrol buruh di Inveval berhasil untuk alasan yang sederhana: mereka tidak ingin Inveval menjadi contoh bagi para buruh di pabrik-pabrik lainnya.

Sebuah perusahaan sosialis harus menjadi bagian dari sebuah rencana ekonomi demokratis yang dikoordinasikan dengan perusahaan-perusahaan milik negara lainnya. Ini termasuk memiliki anggarannya sendiri untuk belanja bahan baku, investasi, dll. Tetapi birokrasi pemerintah sedang berusaha mencekik Inveval secara ekonomi. Mereka menolak memberikan Inveval sebuah anggaran untuk tahun 2009. Selain itu anggaran Inveval untuk tahun 2008 masih belum ditransfer. Para buruh Inveval tidak pernah diberi alasan mengapa demikian. Ini berarti, secara de facto, mendorong Inveval untuk bangkrut.

Juga, pada tahun 2009, presiden Chavez memberikan perintah untuk mengekspropriasi pabrik Acerven di Tinaquillo, Cojedes. Acerven adalah sebuah perusahaan yang membuat cetakan, yang bisa membantu Inveval memproduksi klep-klep baru untuk industri minyak. Sampai hari ini, perintah Chavez belum diimplementasikan. Sementara, industri minyak Venezuela (PDVSA, perusahaan minyak negara) mengimpor klep-klep. Ini adalah sebuah bisnis yang besar dan menguntungkan bagi beberapa orang, dan mereka menekan para fungsionaris pemerintah supaya Inveval tidak bisa memproduksi klep-klep baru untuk PDVSA.

Seluruh situasi yang tidak efisien dan sabotase birokratis ini telah menyebabkan kesulitan yang sangat besar bagi para buruh Inveval. Empat tahun setelah ekspropriasi Inveval, para fungsionaris PDVSA (perusahaan minyak negara) dan Kementerian Industri Ringan (Milco) terus mencegah diimplementasikannya perintah Chavez yang akan memungkinkan Inveval untuk berproduksi dengan kapasitas penuh.

Gotcha, INAF, MDS, Vivex

Setelah ekpropriasi Invepal dan Inveval, para buruh dari pabrik tekstil Gotcha, perusahaan perlengkapan kamar mandi INAF, dan perusahaan transportasi MDS juga mengokupasi pabrik mereka. Ini dilakukan sebagai respon atas serangan-serangan yang dilakukan oleh bos mereka, tidak dibayarnya kontribusi Jamsostek, dan dicampakkannya produksi pabrik.

Para pekerja dari perusahaan-perusahaan ini telah menuntut berulang kali supaya perusahaan tersebut diekspropriasi, tetapi sampai sekarang mereka belum menerima jawaban dari kementrian yang bertanggung jawab, Milco. Ada sekitar 150 buruh yang telah bertahan selama 3 atau 4 tahun di dalam kondisi yang sangat sulit.

Lalu juga ada kasus di Vivex, sebuah pabrik suku cadang (otopart) di negara bagian Anzoategui. Pada bulan Nopember 2008, sang pemilik menolak untuk membayar tunjangan buruh secara penuh. Merespon seruan presiden Chavez, yang mengatakan bahwa buruh di perusahaan dimana sang pemilik melanggar hak mereka harus mengokupasi pabrik tersebut, lebih dari 300 buruh Vivex mengambil alih pabrik tersebut. Mereka telah mengokupasi pabrik itu selama 6 blan tanpa menerima gaji sama sekali, dan tanpa menerima respon apapun dari para fungsionaris pemerintah yang memproses kasus mereka.

Ada sebuah urgensi yang besar untuk menuntut ekspropriasi perusahaan-perusahaan ini guna menjamin pekerjaan para buruh dan sumber pendapatan bagi ratusan keluarga.

Pembunuhan pemimpin serikat buruh pabrik Toyota

Para buruh pabrik Toyota, sebuah perusahaan mobil di Cumaná, di negara bagian Sucre, sedang berjuang membela hak negosiasi mereka dan mereka juga bersolidaritas dengan perjuangan buruh Mitsubishi di Anzoategui. Pada tanggal 6 Maret 2009, mereka memutuskan untuk mengokupasi pabrik mereka, sebuah okupasi yang mereka pertahankan selama beberapa minggu.

Pada hari Selasa, 5 Mei, sekjen serikat buruh Toyota (Sintratoyota), Argenis Vazques, dibunuh di dalam perjalanannya untuk bertemu dengan pihak manajemen. Ini adalah kasus pembunuhan pemimpin serikat buruh militan yang baru di Venezuela, setelah pembunuhan 3 pemimpin serikat buruh UNT di Aragua pada bulan Nopember 2008, dan pembunuhan 2 buruh Mitsubishi dan Macusa di tangan polisi di Anzoategui pada bulan Januari 2009 (sebuah serangan yang diarahkan ke kawan Felix Martinez, sekjen serikat buruh Mitsubishi, Singetram). Kita menuntut penyelidikan penuh dalam kasus pembunuhan ini dan mereka yang bertanggung jawab harus diseret ke pengadilan.

Oleh karena itu, kami menyerukan sebuah panggilan kepada rakyat Venezuela, kelas pekerja internasional, dan semua yang mendukung perjuangan emansipasi buruh untuk mengirimkan surat ke Presiden Chavez.

Contoh Surat Solidaritas

Yth. Presiden Hugo Chavez,

Melihat masalah-masalah yang dihadapi oleh para pekerja di pabrik-pabrik yang telah diokupasi di Venezuela, kami meminta anda untuk mengambil solusi yang cepat sebagai berikut:

  1. Ekspropriasi pabrik Acerven di bawan kontrol buruh
  2. Jangan tinggalkan nasib Inveval di tangan pasar kapitalis. Berikan anggaran tahun 2008 dan 2009 kepada Inveval, sebagai bagian dari rencana produksi PDVSA dan Kementrian Pengetahuan dan Teknologi.
  3. Akhiri sabotase birokrasi terhadap Inveval – badan-badan pemerintah harus mengimplementasikan perintah presiden Chavez.
  4. Ekspropriasi Gotcha, INAF, MDS, dan Vivex – untuk mempertahankan pekerjaan dan penghidupan ratusan keluarga.
  5. Hentikan pembunuhan pemimpin-pemimpin serikat buruh – Penyelidikan penuh terhadap pembunuhan Argeniz Vazquez, sekjen serikat buruh Sintratoyota. Mereka yang bertanggungjawab harus diseret ke pengadilan, mereka yang membunuhnya dan mereka yang memerintahnya.

Salam Solidaritas,
………………..

Kirim surat ini ke Presiden Hugo Chavez (presidencia@venezuela.gov.ve) dan ke kedutaan besar Venezuela di Indonesia (evenjakt@indo.net.id, evenjakt@cbn.net.id) dan juga ke FRETECO (frentecontrolobrero@gmail.com)

Solidarity resolution model

Dear Presiden Hugo Chavez,

Knowing of the problems faced by the workers in the occupied factories in Venezuela, we ask you for a quick solution to their problems in the following terms:

  1. The expropriation of Acerven under workers’ control
  2. Do not leave Inveval at the mercy of the capitalist market. For a 2008 and 2009 budget for the company, as part of a plan of production with PDVSA and the Ministry of Science and Technology.
  3. An end to the bureaucratic sabotage against Inveval – State bodies should implement the orders of president Chávez
  4. The expropriation of Gotcha, INAF, MDS and Vivex – for the defence of jobs and livelihoods of hundreds of families.
  5. Stop the killings of trade union activists – Full inquiry into the killing of Argenis Vazquez, general secretary of Sintratoyota – those responsible should be brought to justice, both those who carried out the killing and those who ordered it.

Yours in solidarity,
……………………..

No Volveran Inspirasi Bagi Serikat Buruh

Sebuah film dokumenter No Volveran kali ini diputar di Jombang, sebuah kota kecil di Jawa Timur. Film itu merekam perjuangan rakyat Venezuela saat merebut haknya sebagai warga negara dari tangan kekuasaan yang korup. Di bawah kepemimpinan Hugo Chavez, rakyat Venezuela bergerak menuju cita cita masyarakat sosialis. Film No Volveran yang dibuat oleh para aktivis Hands off Venezuela internasional menyuguhkan inspirasi bagi perjuangan buruh melawan kapitalisme.

Sejumlah buruh dan mahasiswa dari Serikat Perjuangan Mahasiswa (SPM) dan Solidaritas Buruh Jombang (SPBJ) dengan seksama menyaksikan jalan revolusi yang ditempuh rakyat Venezuela yang berakhir dengan kemenangan gemilang secara konstitusional. Film itu diputar di aula Universitas Darul Ulum Jombang (UNDAR) pada 12 April lalu. Sebelumya film itu telah diputar di beberapa kota di Indonesia seperti Jakarta dan Bandung

Pemutaran film itu hendak menyampaikan semangat kepada kawan-kawan buruh untuk tidak ragu dalam membangun serikat buruh sebagai alat perjuangan dalam melepaskan diri dari kesewenangan pemilik modal.

Andy Irfan Junaidy, sekretaris jendral Komite Pusat Solidaritas Perjuangan Buruh Indonesia dalam diskusi usai pemutaran film menegaskan, berserikat adalah satu keharusan bagi buruh sebagai alat untuk memperkuat perjuangan buruh, ini bisa dilihat dari pengalaman kawan-kawan buruh di Venezuela yang berhasil melakukan okupasi terhadap perusahaan sebagai langkah menuju cita-cita sosialisme.

Penting bagi kita untuk melihat film ini sebagai bahan perjuangan buruh, tentunya dengan memahami kondisi ekonomi politik di Indonesia yang sama sama dijajah oleh kaum pemodal. Demikian pula situasi politik elektoral di Indonesia yang disetir oleh kepentingan kapitalisme global.

Proses revolusi di Venezuela bisa menjadi inspirasi bagi kita yang meneriakkan revolusi sebagai satu jalan perubahan yang pasti. Kita akan melangkah menuju gerbang perubahan dengan terus meniti jalan panjang perjuangan kelas pekerja menuju cita-cita sosialisme di Indonesia.

Fakta di Venezuela kemudian menjawab keragu-raguan khususnya bagi para buruh di Jombang yang selama ini masih takut untuk berserikat. Perjuangan buruh tidak bisa dilakukan sendirian.

Dalam sesi terakhir diskusi, Andy mengajak kawan-kawan yang hadir dalam acara itu untuk turut serta terlibat dalam proses pembangunan Hands off Venezuela di Indonesia dan bersolidaritas untuk revolusi di Venezuela. (HOV Indonesia)

Peluncuran Hands Off Venezuela (HOV) Malang

Tanggal 3 Maret lalu, bersamaan dengan launching buku Revolusi Permanen karya Leon Trotsky, Hands Off Venezuela Indonesia cabang Malang diluncurkan. Acara tersebut mengambil tempat di gedung Ikatan Alumni (IKA) Brawijaya Malang yang dihadiri oleh perwakilan dari organ-organ mahasiswa dan buruh. Para peserta yang hadir, selain ingin bersolidaritas dengan Revolusi Venezuela, mereka juga tertarik untuk mengikuti bedah buku Revolusi Permanen. Acara Peluncuran HOV Malang dan launching buku Revolusi Permanen ini menghadirkan 3 pembicara: Jesus SA (HOV Indonesia), Andi Irfan (Solidaritas Perjuangan Buruh Indonesia, SPBI), dan Romo Robertus Wujanarko (pemerhati gerakan-gerakan sosial).

Acara peluncuran HOV Malang sangat pas bersamaan dengan bedah buku Revolusi Permanen. Hal ini tercermin dari pertanyaan beberapa peserta yang mengaitkan antara Revolusi Venezuela, internasionalisme, dan teori revolusi permanen. Selain itu, bedah buku ini memberi jalan awal bagi organ-organ revolusioner buruh dan mahasiswa untuk mengenal pemikiran Trotsky yang luar biasa, yang akan memberi petunjuk bagi terciptanya perubahan besar di Indonesia.

Terkait dengan Revolusi Permanen, Jesus SA, pembicara dari HOV Indonesia, juga mengulas kegagalan Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam mengemban tugas revolusi. PKI, sebagai partai yang memiliki massa besar, yang seharusnya bisa menggerakkan revolusi di Indonesia, ternyata mandeg dan hancur karena mengadopsi sebuah teori yang salah, yakni teori dua-tahap Stalin. Hadirnya buku Revolusi Permanen dalam bahasa Indonesia, menurut Jesus SA, akan memberi harapan dan bisa menjadi petunjuk yang cerdas bagi pembentukan partai politik kader di Indonesia, yang berkarakter Bolshevik, untuk melakukan perubahan besar dengan jalan revolusi sosialis.

Acara peluncuran HOV Malang dan bedah buku Revolusi Permanen ini juga memberi wacana baru bagi peserta yang hadir mengenai pentingnya bersolidaritas denganRevolusi Venezuela. Karena bersolidaritas dengan Revolusi Venezuela bisa menajdi langkah awal untuk membangun revolusi sosialis berskala dunia. Karena sosialisme tidak bisa dibangun di satu negara, tetapi harus melewati batasan-batasan nasional. (Syaiful)

Hands Off Venezuela – Indonesia Mendukung Aksi Front Pembebasan Nasional (FPN)

Oleh Jesus S. Anam

Hands Off Venezuela – Indonesia

Jakarta, 21 Mei 2008

Lagu Internationale mengalun berulangkali, mengiringi resah ribuan kaum buruh dan miskin kota yang tergabung dalam Front Pembebasan Nasional (FPN) dalam aksi menolak rencana pemerintah menaikkan harga BBM Juni mendatang. FPN juga mengutuk pemerintahan SBY-JK sebagai antek kaum modal dan bersama-sama menghabiskan kekayaan alam negeri ini hingga terjadi krisis energi.

Merdeka memang tidak mudah. Sudah enam puluh tiga tahun merdeka dan sudah sepuluh tahun pula lepas dari otoritarianisme Soeharto, ternyata tidak cukup berarti bagi rakyat. Rakyat tetap miskin dan sengsara. Rakyat tetap menjadi gelandangan di negeri sendiri. Rencana pemerintah menaikkan harga BBM hingga 30 % nanti merupakan bukti bahwa rakyat di negeri yang kaya ini belum merdeka, karena masih hidup  dibawah penjajahan. Dan penjajahan kali ini lebih mengerikan dari sebelumnya: penjajahan kaum modal.

Alasan pemerintah menaikkan harga BBM karena Beban Anggaran Negara megalami defisit oleh sebab kenaikan harga minyak dunia sangatlah lucu. Defisit Anggaran Negara lebih disebabkan pembayaran hutang luar negeri yang besarnya bisa mencapai 150 trilyun rupiah per tahun. Selain itu, domonasi modal asing atas perusahaan-perusahaan minyak dan gas di Indonesia yang menjadi penyebab utama kebangkrutan negeri ini. Hasil minyak Indonesia oleh mereka (kaum modal) dijual di pasar internasioanal. Penjualan ke dalam negeri dibatasi hanya 25 % x (15 % x total produksi), dan pemerintah Indonesia harus membeli dengan harga internasional (itupun) setelah selama 60 bulan Modal Internasioanal dibebaskan menjual semua hasil produksinya ke pasar internasional.

Sekalipun Indonesia memiliki sedikitnya 329 blok/sumber minyak dan gas dengan lahan seluas 95 juta hektar, dengan cadangan minyak yang diperkirakan mencapai 300 milyar barel, dan produksi minyak mentah mencapai 1 juta barel perhari atau 159 juta liter per hari, sangatlah tidak berarti dan tidak berpengaruh bagi kesejahteraan rakyat Indonesia. Hal ini seharusnya tidak terjadi jika Minyak Mentah Indonesia bisa diolah sendiri sehingga tidak perlu mengolahnya di luar negeri dan dikembalikan lagi oleh para pemilik modal, para pedagang minyak, ke Indonesia dengan harga tinggi.

Kenyataan yang sudah parah ini perlu diatasi dengan membangun kekuatan-kekuatan politik ditingkat basis rakyat, terutama kaum buruh dan miskin kota, dengan agenda merebut kekuasaan yang berada di tangan politik elit; membangun kepemimpinan revolusioner yang berasal dari rakyat dan membangun barisan garda depan yang solid. Selain itu, melandaskan perjuangan pada ideologi yang revolusioner, progresif dan mapan adalah agenda yang terpenting guna mewujudkan cita-cita revolusi. Keberanian dan keberhasilan Castro di Kuba, Hugo Chavez di Venezuela, dan Evo Morales di Bolivia tidaklah lepas dari kekuatan ideologi yang menyertainya. Keberhasilan-keberhasilan yang telah dicapai Venezuela misalnya — kedaulatan politik dan ekonomi, partisipasi rakyat grassroot dalam politik via pemilihan umum dan referendum, kemandirian secara ekonomi, patriotisme, distribusi hasil kekayaan minyak yang merata, dan penghapusan korupsi —  merupakan kesatuan yang kuat dari kepemimpinan revolusioner, garda depan yang solid, kesadaran politik rakyat, dan ideologi revolusioner progresif yang menyertainya. PSUV (Partai Persatuan Sosialis Venezuela), partai yang dibangun Chavez bersama rakyat, tidak hanya mengadopsi dari Simon Bolivar, Miranda, Ezequiel Zamora, tetapi juga dari Marx, Engels, Lenin dan Trotsky.

Aliansi organ-organ kiri yang tergabung dalam Front Pembebasan Nasional secara eksplisit telah sepakat bahwa sosialisme adalah satu-satunya jalan menuju revolusi Indonesia. Hal ini terlihat dari spanduk yang dibawa oleh massa dari Perhimpunan Rakyat Pekerja (PRP). Hands Off Venezuela –  Indonesia dan FPN akan terus bekerjasama dalam politik guna mewujudkan cita-cita revolusi Indonesia. HOV – Indonesia akan menyodorkan fakta-fakta obyektif yang terjadi di Venezuela untuk didiskusikan bersama dan mengambil bagian-bagian yang paling relevan untuk konteks Indonesia.

Revolusi sosialis memang tidak bisa bertahan lama atau sulit diwujudkan jika berjalan sendiri. Kerjasama dan komunikasi intensif antara gerakan di tingkat internasional ataupun kawasan perlu dibangun. Membangun kerjasama gerakan-gerakan di Indonesia dengan gerakan-gerakan di Amerika Latin, atau dengan negara-negara di tingkat ASEAN perlu segera dilakukan, dan HOV – Indonesia akan mencoba memfasilitasi hingga tercapainya kerjasama ini.

PELUNCURAN HOV INDONESIA DISAMBUT ANTUSIAS

Jakarta, 28 Maret 2008.

Peluncurn HOV Indonesia disambut sangat antusias oleh beberapa elemen pro perubahan di Indonesia. Dihadiri sekitar 70 arang , HoV Indonesia diluncurkan di Gedung  LBH Jakarta , hari jumat 28 Maret 2008. Beberapa yang ikut hadir, selain delegasi-delegasi dari organ-organ yang terlibat dalam kepanitiaan nasional HOV – Indonesia seperti Rumah Kiri, PRP, SMI, IGJ, SERIAL, KPRM – PRD, LMND – PRM, KSM UNAS, juga dihadiri oleh delegasi-delegasi dari Kelompok Miskin Kota, elemen-elemen yang peduli pada perubahan di Indonesia, dan individu-individu yang tertarik dengan proses revolusi di Venezuela.

Peluncuran diawali oleh pemutaran film No Volveran , sebuah flm dokumenter tentang perjuangan rakyat Venezuela dalam meruntuhkan rezim otoriter kapitalistik. Dilanjutkan diskusi bersama tentang
Venezuela. Zely Ariane , juru bicara HOV – Indonesia, berbicara tentang ekonomi baru dan demokrasi baru dengan belajar dari proses revolusi dan program-program sosialis di Venezuela. Sadikin Gani dari Rumah Kiri, yang juga menjadi narasumber pada diskusi peluncuran HOV – Indonesia, menekankan pentingnya gerakan internasional dalam upaya untuk menghancurkan kapitalisme. Menurutnya, gerakan seperti ini akan berhasil jika dilakukan oleh banyak negara.

Dari hasil diskusi pada peluncuran HOV – Indonesia ini telah memberi penegasan bahwa perjuangan rakyat Venezuela adalah manifestasi keberhasilan perjuangan kaum miskin  yang tidak memiliki akses pada kekuasaan. Perjuanganrakyat Venezuela bisa menjadi inspirasi bagi perjuangan dan perubahan bagi Indonesia. Kontekstualisasi perjuangan rakyat  Venezuela menjadi hal yang sangat mendasar.

Diskusi diakhiri dengan beberapa pernyataan yang mewakili elemen-elemen yang hadir untuk mendukung kampanye Revolusi Venezuela. Beberapa elemen sudah mempersiapkan diri untuk membuat serial diskusi di basis masing-masing, beberapa lagi akan terus memantau website HOV – Indonesia dan akan berkontribusi lewat tulisan. Selain itu, mereka merencanakan akan bertemu kembali untuk membuat rencana tindak lanjut terutama dalam rangka membangun jaringan yang bisa mendukung kampanye tentang Venezuela sebagai inspirasi gerakan di Indonesia.(JSA)